
Cahaya matahari sudah mulai mengintip masuk melalui celah di tirai jendela kamar Alin. Cahaya kuning keemasannya yang menyilaukan mata menyinari dua insan yang sedang terlelap dalam buaian mimpi sambil berpelukan.
Cahaya yang mengenainya membuat Alin terganggu dan mencoba membuka matanya. Dia berusaha menyesuaikan pupil matanya dengan terangnya cahaya di kamarnya sekarang.
Setelah semuanya normal, Alin mencoba untuk bangun. Tapi dia baru menyadari bahwa dia sedang dipeluk erat oleh Keanu. Ternyata dari semalam, dia tidur berbantalkan lengan Keanu yang kekar. Mengetahui itu, Alin tidak jadi terbangun.
Alin menatap wajah tampan Keanu. Dia mulai menyentuh satu persatu wajah itu. Alis yang tebal dan hitam. Mata yang lagi terpejam berhiaskan bulu mata panjang. Hidung Mancung. Kulit wajah yang putih bersih tanpa noda sedikitpun. Semua itu tak luput dari sentuhannya.
Alin kemudian menyentuh bibir tipis lelaki itu. Tak tahan hanya menyentuh bibir itu, Alin kemudian pelan-pelan menciumnya. Dia hanya ingin melakukannya sekilas. Cepat-cepat dia menarik wajahnya. Tapi dia heran karena bibirnya tidak bisa dia lepas. Lengket seperti terlem. Sesaat kemudian dia baru menyadari bahwa ini ulah Keanu yang sekarang malah tambah memperdalam ciuman mereka, bahkan menekan tengkuk Alin.
Tidak lama kemudian Keanu melepaskan ciumannya. Dia melihat wajah Alin yang memerah dan menatap tajam ke Keanu.
Keanu dengan wajah pura-pura polosnya malahan tertawa dan bertanya,
"Kenapa??😳 Apa salahku hingga ditatap seperti itu?"
"Ngga usah pura-pura oon deh."
"Aku serius, honey. Aku ngga ngerti kenapa kamu harus marah. Itu hanya Morning Kiss. Hal yang lumrah dilakukan oleh pasangan di pagi hari. Sebagai bentuk kasih sayang. Jadi itu salahnya dimana?"
"Terserah deh. Aku ngga akan menang berdebat dengan kamu." Alin bangun dari tempat tidur kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah melihat Alin memasuki kamar mandi, Keanu pun bangun mengambil dan memakai boxernya yang tergeletak di lantai. Dia lalu mengaktifkan ponselnya dan hendak menelpon Reza. Tapi dia melihat banyak sekali pemberitahuan pesan, telpon dan mailbox yang masuk. Akhirnya dia menunggu beberapa saat sampai semuanya masuk dan setelahnya baru dia menelpon Reza.
"Rez, kamu dimana?"
"..........................."
"Okay. Bisa kamu antarkan aku pakaian ganti ke kost-an Alin sekarang"
Tanpa menunggu jawaban Reza, Keanu langsung mematikan ponselnya.
Tidak lama keluarlah Alin dari kamar mandi dan sudah berpakaian kerja lengkap.
"Kamu ngga mandi?" Alin bertanya pada Keanu sambil melangkah ke meja rias.
"Pinjam bathrobemu yah."
"Ummm.... pakai aja, tergantung di kamar mandi."
Keanu kemudian melangkah ke kamar mandi.
Alin menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Ada perasaan nyeri terasa di hatinya.
__ADS_1
"Lelaki itu menganggapku apa yah? Kekasihnya, partner seksnya, pemuas nafsunya atau asistennya? Alin....alin.... itulah takdirmu. Jalani saja semampumu."
Alin kemudian berjalan ke onggokan pakaian yang tergeletak di lantai lalu mengambilnya dan memasukkannya ke laundry basket.
Selesai melakukan itu, dia hendak mengambil uang di dompetnya yang ada di atas nakas. Tiba-tiba Keanu muncul dari belakang dan tangannya langsung memeluk pinggang Alin.
"Mau ngapain ngambil uang." Keanu bertanya di dekat telinga Alin sambil mengendus dan menciumi leher samping dan tengkuk Alin.
"Berhenti ngga.... geli tau."
Keanu langsung menghentikan ciumannya di tengkuk Alin. Dia sekarang meletakkan dagunya di bahu Alin.
"Ngapain ngambil uang?" tanyanya lagi.
"ummm.... aku cuman mau keluar beli sarapan."
"Ngga usah... nanti kita sarapan diluar aja. Tunggu Reza bawakan baju gantiku dulu."
Keanu baru selesai berkata, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dia lalu melepaskan pelukannya di Alin dan berjalan ke pintu. Setelah membukanya, dia melihat Reza berdiri di sana dengan menenteng sebuah paperbag.
Reza tampak tersenyum sumringah setelah melihat bossnya. Dari kemarin dia kebingungan mencari dan juga mengkhawatirkan atasannya ini yang menghilang entah kemana dan tidak bisa dihubungi.
Tapi sekarang dia senang karena ternyata bossnya itu sehat wal'afiat dan tak kurang suatu apapun. Justru sekarang kelihatan lucu dan menggemaskan karena dia mengenakan bathrobe warna pink dan sandal rumahan berkepala kelinci yang juga berwarna pink sedang berdiri di depan pintu.
"Apa senyum-senyum!!! Ada yang lucu?" Keanu bertanya dengan nada sewot.
"Iya..... Boss lucu banget dan menggemaskan sekali..........!!"
"Diam!!!! Pergi ke kantor sanaaa... sebelum gajimu bulan ini aku potong."
"Baik-baik boss...aku pergi yah....." Reza segera berbalik dan bergegas meninggalkan tempat itu daripada nanti gajinya dipangkas habis ama bossnya itu.
Setelah Reza pergi, Keanu segera menutup pintu lalu mengenakan pakaiannya.
"Alin..... tolong bantu aku memakai dasi." Kata Keanu.
"Lah....tumben-tumbenan mau dibantu.. biasanya juga pake sendiri." Walaupun ngomel, tapi Alin tetap menuruti permintaan Keanu untuk memakaikannya dasi.
"Aku lagi pengen aja dibantu. Pengen ngerasain diurus istri."
Alin mencebik mendengar omongan Keanu.
"Makanya cepetan nikah biar punya istri beneran."
__ADS_1
"Beneran kamu mau.....?"
"Mau apa......?🤔" Alin bertanya karena kebingungan dengan maksud Keanu. Perasaan sedari tadi dia tidak pernah mengatakan mau apapun.
"Ngga....ngga apa-apa koq....... udah masangnya?"
"ummmm........" Alin menjawabnya sambil mengangguk.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat."
Alin kemudian mengambil tasnya yang ada di atas nakas lalu melangkah mengikuti Keanu keluar dari kost-annya setelah terlebih dahulu mengunci pintu.
…………………………………………………………………………………
Di kantor Pradana Group....tampak seorang laki-laki tinggi, tegap dan tampan berjalan cepat memasuki lift sambil membawa sebuah bungkusan. Lelaki itu adalah Revano. Dia hendak ke tempat Alin membawakan sarapan pagi. Kebetulan tadi sebelum ke kantor, dia terlebih dahulu singgah sarapan pagi di restoran langganannya. Begitu selesai, dia teringat Alin, lalu dia meminta packingan untuk dibawa pulang.
Setibanya di lantai 21, dia segera melangkah ke ruangan CEO.
"Alin ada di dalam?" tanyanya pada April yang lagi serius mengetik di Ipad khusus kantor.
"Oh...maaf.... Ada yang bisa saya bantu, Pak Revano?" tanyanya sopan melihat Revan. Walaupun jabatan Revan di kantor ini hanya Manager Keuangan tapi tidak ada yang berani tidak menghormatinya karena semua orang tahu kalau dia adalah sepupu dari CEO perusahaan ini.
"Iya.... aku mencari Alin. Apa dia ada di dalam?"
"Maaf Pak Revano, Alin belum datang."
"Belum datang..." Revan melihat ke jam mahal yang ada di tangannya. " Sudah jam 09.10 tapi dia belum datang. Ada apa yah? Apa dia baik-baik saja." Revan heran karena Alin yang dia tahu selama ini adalah seorang pekerja keras dan disiplin. Selama ini dia tidak pernah terlambat terkecuali ada sesuatu yang menghalanginya.
Pikiran Revan terganggu karena dari arah belakangnya, datanglah Reza yang langsung menyapanya.
"Pagi Pak Vano...... ada yang bisa saya bantu?"
"Iya, Rez. Aku ke sini ingin bertemu Alin. Tapi dia tidak ada."
"Ohhh Alin yah pak. Dia belum ke kantor. Tadi Pak Keanu ada urusan diluar kantor dan Alin menemani beliau. Mungkin tidak lama lagi akan kembali. Silahkan kalau anda ingin menunggunya.?"
"Oh begitu....tidak usahlah Rez. Aku titip ini aja untuk Alin."
"Baik pak. Nanti saya sampaikan titipan anda." Reza langsung mengambil paperbag yang diberikan oleh Revan dan segera membawanya masuk ke dalam ruangan dan meletakkannya di meja Alin. Dari aromanya, Reza sudah bisa menebak apa isi paperbag ini.
"Kasihan Pak Vano.... kelihatannya dia suka dengan Alin. Tapi sayangnya, Alin sudah menjadi milik Keanu. Aku bisa melihat kalau Keanu sangat mencintai Alin dari caranya memperlakukannya. Keanu tampak bahagia bila bersama Alin. Dia terlihat lebih ceria dan hangat. Sikapnya itu jauh berbeda jika dia bersama Irene. Ahhh........." Reza menarik napas panjang memikirkan atasannya itu.
Begitupun dengan Revan, selesai berbicara dengan Reza, dia kemudian menuju ke lift untuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
………………………………%%%%…………………………………