Istri Simpanan Sang Pewaris

Istri Simpanan Sang Pewaris
Di rumah paman dan bibi....


__ADS_3

Seharian ini Alin di rumah saja. Dia telah meminta ijin ke Bu Vera. Sebenarnya dia tidak berangkat kerja bukan karena sakit tapi malas aja.


Dari pagi tadi dia telah membantu bibinya membuat dan mengantarkan kue ke pelanggan. Dia mengantar kue menggunakan motor Astra Legenda milik bibinya. Walaupun motor butut tapi mesinnya masih bagus dan hampir tidak pernah bermasalah.


Alin senang karena bisa membantu meringankan kerjaan bibinya yang sudah tua dan reumatiknya sering kambuh. Tapi apalah daya karena tuntutan ekonomi mengharuskan dia tetap membantu suaminya mencari nafkah. Kedua anak gadisnya tidak ada yang mau membantu. Gengsi katanya, malu kalau sampai dilihat teman-temannya jualan kue.


Saat ini Alin sedang merebahkan dirinya di kursi ruang tamu menggunakan bantal kursi. Tiba-tiba Alin kaget, kepalanya terbentur di kayu kursi karena bantal yang dia pakai ditarik oleh seseorang. Dia langsung duduk tegak di kursi sambil mengusap kepalanya yang tadi terbentur. Dia melihat kakak sepupunya Sari sedang berdiri berkacak pinggang.


"Ehh pemalas, bangun lu. Pakaian yang mau aku pakai sebentar malam ke pesta ulang tahun temanku belum kamu seterika khan? Ayo cepat kerjakan sana....dasar pemalas. Udah numpang dan menjadi beban orang ehh ngga tahu diri lagi. Maunya enak-enakan aja."


"Maaf Kak Sari, aku hanya meluruskan badanku sebentaran karena capek seharian bantu bibi."


"Alaaa...alassan. Bilang aja kamu memang pemalas. Senangnya jadi benalu di orang lain."


Alin tidak mau menanggapi omongan Kak Sari lagi, jadi dia langsung berdiri dan hendak berjalan ke dekat dapur tempat seterikaan berada.


"Ehhhh tunggu, kamu mau kemana? enak aja langsung main nyelonong pergi."


"Mau nyetrika, kak." jawab Alin sambil menunjuk ke arah dapur.


"Kamu rapikan dulu tempat kamu tidur barusan. Aku tidak mau saat temanku datang menjemput, rumah ini berantakan."


Aku menatap Kak Sari.


"Apa lihat-lihat..!! tidak suka aku suruh-suruh? Kalau tidak suka, sanaaa pergi dari rumah ini."


"Jangan gitu nak.... saudaramu itu bukan pembantu. Dia anak bibimu. Jadi kamu jangan begitu sama dia." terdengar suara bibi yang melangkah keluar dari dapur.


"Dia bukan saudaraku, bu. Dia hanya sepupu pembawa sial. Jangan suka bela-belain dia deh."


"Tidak boleh men-judge orang pembawa sial, nak. Manusia semua terlahir ke dunia membawa takdir dan rejekinya masing-masing. Jadi segala sesuatu yang terjadi, baik atau buruk, itu sudah ditetapkan sama yang Maha Kuasa."


"Tapi dia memang pembawa sial khan bu. Kedua orang tuanya kecelakaan karena mengejar dia yang lagi ngambek dan kabur bukan? Kakaknya juga meninggal karena kecerobohannya yang menyebabkan lilin terjatuh dan membakar rumahnya. Kurang sial apalagi itu, bu. Orang-orang dekatnya semua mati karena dia. Jangan-jangan nanti kita juga akan kena imbasnya" Sari berkata dengan berapi-api sambil menunjuk ke arah Alin. Orang yang ditunjuk hanya menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah bi, aku ngga apa-apa koq. Aku sudah biasa mendengar ini. Biar aku lakukan permintaan Sari. Maaf, kalau selama ini aku hanya bisa menjadi beban kalian." Alin lalu bergegas berjalan ke dapur untuk menyeterika.

__ADS_1


Sambil menyeterika, air mata tak henti menetes dari mata indah Alin. Selama ini, itulah kata-kata yang selalu dia dengar dari orang-orang yang mengenal keluarganya. Dia dikucilkan oleh teman-teman dan tetangganya karena dianggap pembawa sial. Mereka tidak mau berdekatan dengannya karena takut ikut kena sial. Makanya saat keluar rumah pamannya menyuruhnya memakai masker agar tidak dikenali dan terhindar dari kejahatan serta bullyan dari orang-orang sekitar.


Setelah selesai menyeterika, Alin membawa pakaian itu ke kamar Sari. Begitu melewati ruang tamu, tampak Kak Sari lagi berbincang dengan teman lelakinya. Alin ingin melewati saja mereka yang di ruang tamu, tapi tanpa sengaja teman Kak Sari melihat ke arah Alin dan langsung terpesona.


"Sar, itu siapa?" sambil menunjuk ke arah Alin yang lagi berjalan keluar dari dapur.


"Ohhh, itu pembantuku."Sari menjawab sekenanya.


Alin yang mendengar langsung tertunduk sambil tetap berjalan. Hatinya terasa nyeri mendengar jawaban Sari. Tapi, dia tidak bisa berteriak atau melawan karena mengingat kebaikan paman dan bibi.


"Wow amazing kamu Sari, pembantumu aja secantik itu. Di mana kamu menemukannya?"


"Sudahlah Andre, tidak usah bicarakan dia lagi. Btw aku ke kamar dulu ganti pakaian. Kamu tunggu di sini dulu yah."


Teman Sari yang bernama Andre pun hanya mengangguk. Matanya masih tertuju ke pintu yang tadi dimasuki pembantu Sari. Penasaran...


Saat Alin selesai meletakkan pakaian yang sudah diseterika di tempat tidur, dia hendak berjalan keluar. Tapi tangannya tiba-tiba dicekal oleh Sari.


"Kamu mau kemana hah...? Mau keluar menebar pesona ke temanku? atau mau keluar menggodanya? Ternyata selain pembawa sial, kamu juga ***** yah."


"Maaf Kak Sari, aku tidak seperti yang kakak tuduhkan."


"Tapi Kak, apa salahku?"


"Salahmu karena kamu ***** dan pembawa sial. Aku muak melihat wajahmu. Jadi kamu tidak bisa di kamar ini dan juga aku tidak mengizinkanmu keluar."


"Tapi kak......"


"Sanaaa....!!!! cepat!!! sebelum aku marah."


Alin segera berjalan ke kamar mandi lalu menutup pintu. Di kamar mandi dia menangis sambil menutup wajahnya.


Tidak berselang lama, sudah tidak terdengar suara apapun dari kamar Sari. Dia mencoba membuka pintu sambil memanggil


"Kak Sari.....Kak Sari...kak....!"

__ADS_1


Tidak terdengar sahutan dari kamar. Setelah yakin kalau sudah tak ada orang, maka dia segera berjalan keluar dari kamar mandi.


Di rumah ini yang tersisa sekarang hanya dirinya. Paman dan bibi ke acara kondangan temannya. Kak Sari ke acara Ulang tahun temannya. Sara ke rumah temannya untuk kerja kelompok.


Alin menuju ke sofa, dia segera mendudukkan bokongnya. Dia merebahkan kepalanya ke belakang dan menatap langit-langit ruangan ini memikirkan kembali kehidupannya ke depan.


"Apa yang harus aku lakukan nanti? Haruskah aku kembali bekerja di perusahaan itu.? Apakah lelaki itu akan menyadari bahwa aku bekerja sebagai OG di perusahaannya.? Akankah dia memecatku setelah mengetahuinya?." Begitu banyak pertanyaan yang ada di kepala Alin tapi tak ada jawabannya. Akhirnya karena lelah, tanpa terasa dia tertidur di sofa yang selama ini memang menjadi tempat tidurnya.


………………………………………………………………………………


Keesokan paginya, Alin memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaan itu seperti biasa.


Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah ini. Setelah semua beres, dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, dia sudah siap berangkat kerja. Dia melihat paman dan bibinya keluar dari kamar mereka.


"Loh nak. Kamu sudah mau kerja lagi? Gimana kondisimu?" tanya paman keheranan melihat Alin yang sudah siap berangkat.


"Iya, paman. Aku sudah sehat koq paman."


"Syukurlah nak. Semalam waktu kami pulang, kami melihatmu tidur pulas sekali. Jadi kami tak membangunkanmu."


"Ngga apa-apa paman. Saya berangkat dulu yah paman, bibi."


"Ngga sarapan dulu nak?" bibi yang menyahut.


"Udah koq bi, tadi sambil masak."


"Baiklah nak. Hati-hati di jalan."


Alin pun langsung berbalik dan berjalan ke pintu keluar.


Alin berjalan ke halte untuk menunggu bus seperti biasa. Dari jauh dia melihat kalau busnya sudah datang..Maka dia segera berlari agar bisa ikut naik.


"Akhirnya......." Alin senang dan bernafas lega karena bisa ikut di bus yang pertama ini. Walaupun harus berdiri karena tidak mendapat tempat duduk, tapi dia happy. Dia bisa datang tepat waktu ke tempat kerjanya.


Alin membutuhkan waktu hampir 1 jam untuk ke tempat kerjanya kalau menggunakan bus. Beda dengan ojek online yang hanya 30 menit. Tapi Alin lebih memilih naik bus setiap hari untuk menghemat ongkos agar gajinya tiap bulan bisa dia bagi ke bibinya sebagai tambahan biaya hidup mereka.

__ADS_1


……………………%@%……………………%@%………………………


Please like 👍 dan commentnya yah para readers tersayang biar author semakin semangat buat up-nya.


__ADS_2