
Begitu tiba di depan gerbang kost-an Alin, Keanu segera turun dan meminta Reza untuk langsung pulang.
Keanu cepat-cepat masuk ke kost-an dan setelah tiba di depan pintu kamar Alin, dia mengetuknya.
Tak butuh waktu lama, Alin sudah membuka pintu kamar. Begitu melihat Keanu yang berdiri di depannya, Alin langsung tersenyum senang memperlihatkan lesung di pipinya yang membuatnya tampak semakin menawan.
"Hmmm..... maaf......tadi sore, aku membuatmu marah. Tapi, bukan maksudku......." Alin membuka pembicaraan dengan meminta maaf atas kejadian tadi sore dengan Revan.
"Aku tidak ingin membicarakan kejadian itu lagi." Keanu menyela ucapan Alin.
Tanpa dipersilahkan, Keanu segera melangkah masuk ke dalam kamar. Toh ini juga sudah seperti kamarnya sendiri. Dia hampir tiap malam tidur di kamar ini.
Alin kemudian menutup pintu dan menyusul Keanu yang sekarang sedang duduk di satu-satunya sofa yang ada di kamar itu. Alin hendak menarik kursi plastik yang ada di dekat sofa itu untuk dia tempati, tapi Keanu malah menariknya agar duduk di pangkuannya. Alin hanya menurut saja.
"Alin......... aku mau ngomong sesuatu." Sambil berucap itu, Keanu menangkup wajah Alin agar menghadap ke arahnya. Kini wajah mereka berhadapan. Keanu kemudian mencium sekilas bibir Alin.
"Hmmmm...kamu mau ngomong apa? Kelihatannya serius banget."
Keanu menghela nafas panjang.
"Sebelum aku bicara, aku ingin bertanya terlebih dahulu. Apakah kamu mencintaiku?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? emangnya ada apa?"
"Aku serius, Lin. Tolong jawab aku."
"Apa hal itu perlu ditanyakan lagi. Apa kamu tidak bisa menilainya dari sikap dan perlakuanku selama ini terhadapmu?"
"Lin, dari sikapmu aku sudah bisa menilainya. Tapi aku juga butuh pernyataan langsung darimu..Jangan sampai selama ini aku salah menilai."
"Hmmm.... benar juga. Jangan sampai kamu hanya kepedean, merasa semua orang menyukaimu."
"Alinnnnn......! aku serius bertanya. Bisakah kamu juga lebih serius menjawabnya." Keanu senewen karena sedari tadi Alin selalu menanggapi pertanyaannya dengan bercanda.
"Serius amat sih."
"Iya, aku pasti serius karena ini mengenai masa depan kita."
"Terus, kamu mau jawaban apa dariku."
"Yah pastinya aku mau jawaban jujur dari kamu."
"Okay...okay. Aku jawab nih. Aku menyukaimu. Tapi untuk mengatakan bahwa itu mencintai, aku tidak bisa menjawabnya karena aku saja belum tahu."
Tampak ada rasa kecewa dan juga rasa senang terpancar dari raut wajah Keanu. Menyukai belum tentu mencintai. Tapi setidaknya, menyukai adalah awal dari mencintai. Tanpa suka pasti tidak ada cinta. Tapi dengan adanya suka, lama kelamaan akan berubah menjadi cinta.
"Kalau aku melamarmu, maukah kamu menikah denganku."
"Apaan sih.... Kamu pikir menikah segampang itu."
"Mengapa tidak...... semua tergantung kesepakatan kedua belah pihak bukan?"
"Yah... serah deh... aku ngga akan menang berdebat dengan kamu."
"Ini ngga berdebat, sayang. Hanya memberimu pemahaman yang betul."
__ADS_1
"Terus, maksud kamu apa dengan pertanyaan tadi?"
"Yah....maksudnya aku ingin menikahimu. Tapi aku butuh persetujuan darimu."
"Ada apa sih? Kenapa kamu tiba-tiba aneh begini. Tadi sore, kamu pergi dalam kondisi marah. Tiba-tiba, kamu pulang dan bicara aneh seperti ini."
"Alin...... apanya sih yang aneh kalau aku mengajakmu menikah. Soal pamanmu, aku akan meminta persetujuannya juga. Tapi khan ngga lucu kalau pamanmu sudah setuju tapi kamunya ngga. Padahal yang mau menjalaninya adalah kamu."
"Jawab dulu... apa alasanmu sebenarnya."
Sebelum menjawab, Keanu terlebih dahulu memeluk Alin erat-erat.
"Aku mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu."
"Hanya itu saja?"
Keanu mengangguk pasti.
"Setelah kejadian tadi sore, aku baru menyadari kalau aku sangat mencintaimu."
"Bukankah kamu pernah bilang kalau kamu tidak bisa menikah denganku walaupun kamu mencintaiku. Kenapa tiba-tiba berubah?"
"Aku khan sudah bilang kalau aku tidak bisa kehilanganmu. Dengan kita menikah, kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Hanya milikku."
Alin terdiam. Dia mencoba memikirkan kata-kata Keanu.
"Tapi Alin, sekarang ini aku hanya bisa menikahimu secara siri. Aku belum bisa menikahimu secara resmi. Aku juga belum bisa memberitahukan kepada orang-orang mengenai pernikahan kita."
"Mengapa? Kamu malu karena aku miskin dan tidak sepadan denganmu. Kalau begitu maka tidak usah mengajakku menikah."
"Kalau kau tak bisa mengatakan alasanmu, aku juga ngga bisa meng-iyakan. Menikah itu bukan mainan yang bisa dicoba dulu. Kalau kalah bisa diulang."
"Alin, aku serius. Aku tidak menganggap ini mainan. Aku maunya kita menikah cuman sekali untuk selamanya."
"Tapi........"
"Alin.....please. Kalau kamu setuju, aku akan minta tolong Reza untuk mengurus semuanya."
"Beri aku waktu untuk memikirkannya."
"Okay.... aku beri kamu waktu sampai besok sore untuk memikirkannya."
"Kenapa secepat itu. Sebulan deh.... yah...yah."
"Ngga.... kalau begitu kamu jawab saja sekarang."
"Ngga mau. Mana bisa hal sebesar itu diputuskan buru-buru."
"Apapun jawabanmu nanti. Iya atau tidak, kamu tetap harus menikah denganku."
"Loh... jadi, ceritanya maksa nih?"
"Ummmm......" jawab Keanu sambil menganggukkan kepala.
"Jadi maksudmu meminta persetujuanku tadi itu untuk apa kalau ujung-ujungnya maksa?"
__ADS_1
"Yah, tadinya aku berharap, begitu mengatakan kalau akan menikahimu, kamu akan senang dan langsung mengiyakan. Jadi aku tidak perlu repot membujukmu. Tapi kenyataannya tidak.... Aku tidak mau ditolak. Kalau ditolak, aku akan memaksa kamu agar menerimanya."
Alin mendengus kesal mendengar ucapan Keanu. "Apa-apaan lelaki ini. Bukannya membujuk, malahan mau memaksa. Dasarrr....."
Alin kemudian bangkit dari pangkuan Keanu hendak berjalan meninggalkannya tapi tiba-tiba Keanu juga berdiri, memeluk Alin lalu membopongnya ke arah tempat tidur.
Alin memberontak berusaha melepaskan diri.
"Alin, berhenti memberontak begitu. Nanti kamu malah jatuh."
"Makanya lepaskan aku sekarang."
Keanu tidak menjawab, malahan sekarang dia membaringkan Alin di tempat tidur. Kemudian menyelimutinya.
" Aku hanya mau menggendongmu ke tempat tidur, biar kamu bisa istirahat." Keanu kemudian mencium sayang kening Alin.
"Emangnya aku anak kecil, pake digendong-gendong segala ke tempat tidur kalau mau bobo." Alin mencibirkan bibirnya sambil ngedumel sendiri tapi walaupun begitu, Alin sebenarnya tersentuh dengan perlakuan
Keanu hanya tersenyum mendengarnya. Dia kemudian berjalan ke lemari pakaian untuk mengambil pakaian tidurnya yang memang dia simpan di sini.
Tak lama, Keanu kembali ke tempat tidur dan ikut bergabung dengan Alin di dalam selimut. Dia memeluk Alin dengan erat dari belakang.
"Alin...........!" Keanu mencoba memanggil Alin lembut tapi tak dijawab.
"Alin...., aku tau kamu belum tidur. Balik sini dulu..... aku ingin mendekapmu." Keanu berbisik lembut di telinga Alin.
"Memang ini kamu lagi ngapaian kalau bukan memeluk. Pake disuruh balik segala.....!!!"
"Hahahaha.... ketahuan khan kalau betulan belum tidur."
Alin semakin senewen..... dia berbalik kemudian menatap tajam Keanu. Yang ditatap hanya tersenyum manis. Keanu lalu menyusupkan lengannya di bawah kepala Alin kemudian merengkuh tubuhnya dan mendekapnya erat..
"Kamu istirahat yah.... Aku akan selalu menjaga dan melindungimu. Dari sekarang sampai selamanya. Aku berjanji kepadamu."
Alin hanya diam mendengarkan ucapan Keanu.
"Aku benar-benar takut kehilanganmu. Seumur hidupku, aku belum pernah merasa seperti ini." Keanu terdiam sejenak.
"Alin...... kita menikah besok yah.... Reza yang akan mengurusnya."
Alin tetap diam dan tak menjawab sepatah kata pun.
"Kalau kamu tidak menjawab, aku akan menganggap kamu setuju."
Alin tetap tak menjawab.
"Alin........... kamu mendengarku?"
"Ummmmm........."
Keanu tersenyum senang. Itu artinya Alin sedari tadu mendengarnya tapi sengaja tidak menjawab. Itu juga artinya Alin setuju.
"Terima kasih, sayang. Istirahatlah." Keanu menciumi pucuk kepala Alin lalu kemudian mendekap erat kekasih hatinya itu sambil tersenyum sumringah. Akhirnya mereka tertidur lelap dibuai mimpi dalam dekapan malam yang semakin larut menantikan hari esok yang cerah dan penuh warna.
……………………………%%%%…………………………………
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk author dengan like dan komentarnya yah...🤗🤗🤗