Istri Simpanan Sang Pewaris

Istri Simpanan Sang Pewaris
Akhirnya Ketahuan Juga...


__ADS_3

Mereka lalu melangkah menuju ke sofa. Sebelum mereka duduk, Bryan memperkenalkan dua orang lain yang ada disitu.


"Oh yah Keanu.. apakah kamu masih ingat dengan sepupuku Caesar?"


"Caesar.....? Sepupumu yang dulunya sering nganterin kamu ke kampus itu?"


"Iya. Kenalkan ini dia orangnya." Bryan mengarahkan tangannya ke lelaki yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


Lelaki itupun mengulurkan tangannya ke Keanu.


"Siang Pak Keanu...Kenalkan..... saya Caesar Adhiatma... pimpinan PT. Two Teenagers."


Keanu menatap lelaki yang menyapanya itu. Dia mengingat lelaki ini. Dia kemudian menyambut uluran tangan lelaki itu.


"Siang juga Pak Caesar. Lama tak jumpa" Keanu berkata sambil tersenyum.


"Iya pak Keanu.. seingat saya terakhir ketemu sewaktu kalian wisuda." Keanu tersenyum dan mengangguk meng-iyakan perkataan Caesar.


"Oh iya.... dengar-dengar perusahaan anda bergerak di bidang Human Resources yah."


"Iya pak. Perusahaan saya biasanya menyediakan kebutuhan tenaga kerja bagi perusahaan-perusahaan lain."


"Iya. Saya saja selalu menggunakan tenaga kerja dari perusahaan Caesar untuk setiap proyek besar yang aku kerjakan." Bryan ikut menimpali.


"Oh iya... Pak Keanu, apakah anda masih mengingat adik saya yaitu Claudia Adhiatma." Caesar berkata setelah melepaskan jabatan tangannya.


Keanu menatap wanita yang berada di samping Caesar. Dia mengerutkan kening melihatnya. Dia mengenali wanita ini. Dulu sewaktu kuliah, dia adalah sahabat Irene. Tapi persahabatan itu retak setelah Claudia mencoba menggoda Keanu.


"Tentu saja saya ingat. Siapa yang bisa melupakan gadis secantik dia." Keanu berkata sambil melirik Alin.


Keanu berharap Alin akan menunjukkan setidaknya sedikit kecemburuan. Tapi yang dia harapkan tidak terwujud. Tidak ada ekspresi apapun yang tampak dari wajah Alin.


Setelah mendengar jawaban Keanu, senyum sumringah langsung tersungging di wajah Claudia. Dia senang karena ternyata Keanu masih mengingat dirinya.


"Ayo semuanya, silahkan duduk dulu sambil ngobrol." Bryan mempersilahkan semua untuk duduk.


Keanu, Bryan, Caesar dan Claudia segera mengambil posisi duduk masing-masing. Sedangkan Reza, Alin dan satu orang asisten Bryan berdiri di belakang kursi atasan mereka masing - masing.


Melihat bahwa Alin tidak ikut duduk, Bryan kemudian berkata kepada Alin.


"Alin, kamu jangan ikutan berdiri bersama para lelaki itu. Sini duduk dekatku." Kata Bryan sambil menepuk kursi di sampingnya.


"Terima kasih, pak. Tapi tidak usah. Saya di sini saja bersama Reza."


"Ngga..... kamu ke sini atau aku yang ke situ mengangkatmu."


Alin tidak bisa membantah lagi. Akhirnya dia berjalan ke arah kursi yang ditunjuk Bryan. Alin belum tiba di kursi tersebut, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Keanu yang entah kapan sudah berdiri dari duduknya.


"Kamu duduk di sana saja dekatku." Keanu berkata tegas dengan nada tidak mau dibantah. Alin juga tidak mau ribut, akhirnya dia menurut.


Tidak lama setelah mereka duduk, Claudia tiba-tiba berkata.


"Di mana Irene sekarang Kean.... apakah kalian sudah menikah?".

__ADS_1


Keanu agak terkejut mendengar pertanyaan blak-blakan Claudia. Tapi dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya itu.


"Dia di Paris sekarang dan kami belum menikah"


"Loh kenapa..? Bukankah kalian saling mencintai? dan juga kalian khan sudah bertunangan sejak masih kuliah?"


"Mam......s lu boss. Kena khan sekarang. Bini lu tahu juga khan." Reza berkata dalam hati.


"Baiknya kita tidak membicarakan masalah pribadi sekarang. Bukankah pertemuan kita kali ini untuk menanda tangani perjanjian kerjasama." Keanu berusaha mengalihkan pembicaraan.


Alin yang mendengar pernyataan wanita cantik yang bernama Claudia itu menjadi semakin marah. Tapi dia berusaha memendam itu di dalam hatinya. Dia tidak mau karena amarahnya akan mengacaukan semuanya.


Tidak lama, Alin meminta izin untuk ke kamar kecil. Dia sebenarnya hanya ingin menenangkan emosinya.


"Ohhhh..... kamar kecil di sebelah sana." Asisten Bryan menunjuk pintu sebelah kanan yang ada di ruangan ini.


"Adakah kamar kecil di area luar khusus untuk perempuan."


"Ada. Keluar dari ruangan ini, anda belok ke kiri. Tiba di ujung koridor, anda akan melihat petunjuknya."


"Okay. Terima kasih."


Alin hendak beranjak keluar ruangan, terdengar Keanu berkata, " Reza, kamu temani Alin ke sana. Tapi kamu menunggu di luar saja."


"Tidak perlu, Rez. Emangnya aku anak kecil, biar ke toilet pake diantar segala."


"Kamu diantar Reza atau tidak pergi sekalian."


"Kalau begitu ngga jadi deh." Alin berkata sambil ngedumel dalam hati," Awas kamu Kean.... untung sekarang masih kondisi bekerja.... tunggu, selesai ini......." Alin ngedumel dalam hati.


"Okay.... kalau begitu, kita mulai pembicaraan bisnisnya. Alin... bisa kamu jelaskan ke mereka apa saja persyaratan dan ketentuan yang harus dipenuhi dalam kerjasama ini."


"Maaf pak, bisa kalau Reza saja yang menjelaskannya." Alin menjawab dengan wajah lesu.


Keanu yang melihat wajah lesu Alin, menjadi tidak tega. Akhirnya dia menyetujui permintaan Alin. Lalu meminta Reza yang menjelaskannya kepada Bryan. Alin menyerahkan semua dokumen yang dibutuhkan kepada Reza.


Semua gerak gerik Keanu dan Alin sedari tadi tidak luput dari pengawasan tiga orang lain yang ada di ruangan itu. Mereka heran dengan perlakuan Keanu terhadap Alin yang kelihatan terlalu mengatur. Tapi yang membuat mereka lebih heran lagi karena Alin tidak berniat melawan atau membantah.


Sekitar 30 menit kemudian, Keanu dan Bryan selesai menanda tangani kontrak kerjasama.


Alin segera membenahi dokumen kontrak itu. Dia segera memasukkannya ke dalam tas khusus dokumen.


"Keanu.... setelah ini, kamu mau langsung pulang ke kota J ?'


"Iya... soalnya aku masih ada urusan malam ini di sana."


"Ohh. Ngomong-ngomong bagaimana kabar Irene? Kalian masih tunangan ataukah sudah menikah?" Bryan masih penasaran mengenai Irene.


"Kenapa sih sedari tadi kalian bertanya mengenai Irene terus?"


"Yah... kami penasaran aja dengan dia. Biar bagaimanapun, Irene juga temanku dan sahabat Claudia."


Mendengar itu, mau tidak mau, walau dengan berat hati akhirnya Keanu menjawab juga. Sudah kepalang basah.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja. Selama beberapa tahun ini, dia menekuni dunia model di Paris."


"Jadi benar, kalian sudah menikah?"


Keanu hanya menggeleng.


"Loh kenapa? bukankah kalian sudah lama tunangan?"


"Dia ingin mengembangkan kariernya dulu."


"Jadi, kalian LDR-an begitu?"


Keanu mengangguk.


Alin yang mendengar pembicaraan mereka itu merasa hatinya seperti tersayat-sayat. Tanpa beban, Keanu secara terus terang mengakui bahwa dia memiliki tunangan. Jadi Alin itu apanya. Pemuas nafsunya atau sebagai pengganti tunangannya yang jauh di sana. Apa itu yang menyebabkan Keanu hanya bisa menikahinya secara siri. Jadi begitu tunangannya kembali, Keanu bisa langsung mengusirnya pergi dari hidupnya.


Tangan Alin gemetar menggenggam tas berisi dokumen yang tadi telah selesai dibenahinya. Dia ingin berteriak tapi tak bisa. Dia ingin menangis tapi malu. Akhirnya Alin hanya bisa menahan semuanya.


"Sorry Bry, aku tidak bisa lama-lama di sini karena aku harus menjemput Irene sebentar malam di bandara."


"OMG, Irene akan datang.?" Claudia yang heboh mendengar Irene akan datang.


Keanu tidak menjawab pertanyaan Claudia. Dia segera berdiri dan kemudian mengulurkan tangannya ke Bryan sebagai salam perpisahan.


Setelah selesai, mereka bertiga berlalu meninggalkan ruangan dengan diantar oleh Bryan sendiri sampai di lift.


Sebenarnya sedari tadi, Bryan memperhatikan Alin. Dia heran melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan Alin kalau mereka membicarakan mengenai Irene. Dari situ, Bryan berpikir ada suatu rahasia antara Keanu dan Alin. Tapi dia tidak mau berpikir terlalu jauh.


Setibanya di depan lift, sebelum Alin memasuki lift, Bryan terlebih dahulu menahannya.


"Alin, boleh aku meminta no. ponselmu? Siapa tahu aku ke kota J, aku menelponmu untuk menemaniku berkeliling kota."


"Oh.. boleh pak." Mendengar Alin mengatakan itu, Keanu menatapnya tajam, mengisyaratkan kalau dia melarang Alin memberikan no ponselnya. Tapi Alin tidak peduli. Dia segera memberikannya ke Bryan.


Setelah Alin memasuki lift dan Reza sudah menutup pintu liftnya, Keanu berkata dengan sarkastis.


"Senang yah dikagumi banyak lelaki tampan dan kaya raya."


Alin tidak menjawab. Dia malah memalingkan muka.


Keanu yang melihat Alin mengacuhkannya, bertambah sewot. Dia mendekat ke Alin dan meraih dagu Alin dengan kasar.


"Kenapa kamu memalingkan wajahmu hah? Kamu sudah dapat mangsa baru yang lebih bisa dimanfaatkan daripada aku!!! Apakah uang dariku belum cukup untukmu? sehingga kamu mengira bahwa aku sudah tidak bisa memberimu lagi. Jadi kamu mencari lelaki lain HAH!!!"


Alin tetap tidak menjawab. Dia menundukkan pandangannya, tidak mau menatap Keanu. Saat Keanu hendak berbicara lagi, Reza segera mengingatkan.


"Tuan, sebentar lagi kita tiba di lobby."


Keanu tidak jadi berbicara lagi dan segera melepaskan cengkeraman tangannya dari dagu Alin. Tampak tanda kemerahan bekas tangan Keanu di dagu Alin yang putih.


…………………………%%%%………………………………


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak yah ,,🤗

__ADS_1


__ADS_2