Istri Simpanan Sang Pewaris

Istri Simpanan Sang Pewaris
Bab 39


__ADS_3

Setelah Konpers itu selesai, Keanu segera meninggalkan tempat dengan diikuti kedua asistennya tanpa menyapa Irene sedikit pun. Wartawan dan tamu yang hadir memperhatikan hal tersebut dan mulai berkasak kusuk.


"Mohon maaf hadirin sekalian... mungkin kalian heran dengan sikap tunanganku barusan. Jangan salah sangka yah, dia ada urusan yang penting dan tidak bisa ditunda. Apalagi tadi, dia sudah memberitahu saya lewat pesan di ponsel sebelum ke sini." Irene berucap berusaha untuk mengklarifikasi kasak kusuk tersebut. Walaupun dalam hati Irene juga jengkel melihat sikap Keanu yang acuh tak acuh terhadapnya.


"Sia....an kamu Keanu. Kamu hampir saja membuatku malu. Awas saja...kalau aku sudah menjadi istrimu, aku tak akan membiarkanmu memperlakukanku seperti ini." Umpat Irene dalam hati.


.......…...........….....


Sementara itu di dalam mobil milik Keanu, Alin sama sekali tidak berkata apapun. Dia lebih memilih diam dan berkutat dengan ponselnya. Begitu pula dengan Keanu yang tampak serius mengerjakan sesuatu di laptopnya. Tak ada suara manusia yang terdengar di dalam mobil itu. Hanya suara helaan napas dan sesekali terdengar suara keypad HP ataupun Laptop yang ditekan menandakan bahwa sang pemilik sedang menggunakan benda tersebut.


Tak lama terdengar suara Reza memecah keheningan.


"Maaf tuan, apakah kita langsung ke hotel H untuk mengikuti pertemuan dengan Mr. Kazimura ataukah anda ada tujuan lain dulu."


"Jam berapa jadwal pertemuannya?"Keanu bertanya sambil tetap menatap ke laptopnya.


"Jam 13.00, tuan."


Mendengar jawaban Reza, Keanu segera melihat ke Jam Tangan Merk Richard Mille 35-02 yang melingkar dengan indah di pergelangan tangan kekarnya.


"Hmmmm....masih dua setengah jam lagi yah." Keanu bergumam sambil menoleh ke arah Alin.


"Sayang.....kamu ada tujuan lain nggak?"


Alin yang ditanya tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Keanu.

__ADS_1


"Sayang...kamu kenapa? Kamu kelihatan pucat. Aku khan sudah berulang kali ngomong supaya kamu jangan bekerja terlalu keras. Biar Reza saja yang mengerjakan semua tugas sebagai asistenku. Bukankah aku sudah berulang kali bilang kalau kerjaanmu sebagai asisten itu hanya formalitas, biar kamu bisa selalu menemaniku kemanapun." Keanu berucap panjang lebar sambil meraih Alin ke pelukannya. Walaupun awalnya Alin menolak pelukan dari Keanu tapi karena Keanu memaksa, akhirnya dia pun pasrah saja.


"Rez...antarkan kami ke rumah sakit" Keanu berkata sambil tangannya mengusap pelan puncak kepala Alin.


"Nggak usah, Kean...antarkan saja aku ke kantor biar bisa istirahat di ruang pribadimu. Aku nggak apa-apa koq. Hanya sedikit pusing."


"Baiklah...tapi ingat, kamu jangan banyak pikiran. Buang jauh-jauh pikiran negatif yang ada di otakmu itu tentangku. Percayalah bahwa semua yang aku lakukan adalah untuk kebaikan kita dan apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu." Keanu berkata sambil mencium puncak kepala Alin.


"Rez...kita ke kantor dulu yah." Instruksi Keanu kepada asisten pribadi handalnya itu.


Tanpa berkata apapun, Reza segera melajukan kendaraannya ke tujuan yang disebutkan oleh atasannya itu.


Sekitar 30 menit kemudian, mereka telah sampai di depan kantor pusat Pradana Group. Dengan sigap, Reza langsung turun dan membukakan pintu untuk atasannya karena Keanu tadi berkata bahwa dia yang akan mengantarkan Alin ke ruangannya.


Setelah pintu mobil terbuka, Alin segera turun dan disusul dengan Keanu.


"Kenapa? Aku hanya ingin membantumu berjalan karena aku khawatir sama kamu." Keanu berkata dengan gusar karena merasa Alin mengabaikannya.


"Aku masih bisa jalan sendiri koq. Aku tidak selemah itu sampai biar berjalan pun harus dibantu. Apalagi banyak karyawanmu yang melihat. Nanti aku dicap pelakor atau penggoda lagi kalau berani dekat-dekat sama lelaki yang sudah bertunangan."


Jawaban ketus dari Alin membuat Keanu terdiam. Dia akhirnya melangkah cepat mendahului Alin dan Reza.


Tak lama kemudian mereka tiba di ruang kerja Keanu. Tanpa berkata apapun, Alin langsung masuk ke kamar pribadi Keanu. Begitu masuk, dia langsung mengunci pintu ruangan itu karena dia tidak ingin diganggu. Dia hanya ingin menenangkan hati dan pikirannya.


"Rez, kamu tunggu dulu aku sebentaran sebelum kita berangkat yah. Aku mau ngomong dulu sama Alin"

__ADS_1


"Siap bos....hamba siap menanti instruksi selanjutnya." Rez menjawab dengan sedikit candaan ke arah bos-nya itu. Tapi sayangnya, guyonannya tak mendapat tanggapan dan Keanu malah berlalu begitu saja di hadapan Reza tanpa ekspresi. Akhirnya Reza hanya bisa nyengir kuda melihat hal tersebut.


Baru juga Reza akan duduk di sofa, tiba-tiba dia dikejutkan dengan sapaan Keanu yang sudah berdiri di depannya dengan mimik wajah yang entah..gimana cara mengungkapkannya.


"Rez..kita berangkat saja sekarang ke tempat pertemuan dengan Mr. Kazimura."


"Loh, bukannya tadi mau ngomong dulu sama Alin. Koq cepat banget." Reza menatap bosnya itu dengan keheranan.


"Nggak bisa ngomong. Soalnya nggak dibukain pintu. Mungkin dia lagi bad mood karena habis ngelihat suaminya tunangan sama perempuan lain. Biarin ajalah dia tenangin pikirannya. Mungkin kalau kita balik sebentar, dia sudah baik lagi." Kata Keanu dengan nada yang terdengar kesal sambil berjalan ke arah pintu keluar.


Reza hanya mengangguk dan kemudian menyusul Keanu tanpa bertanya lagi.


Sementara itu, Alin yang sedang berbaring di tempat tidur hanya bisa menangis. Dia tidak tahu harus bagaimana.


Hati wanita mana yang tidak akan sakit saat melihat suaminya memiliki wanita lain. Walaupun dia hanya istri yang disembunyikan, akan tetapi dia tetaplah seorang istri yang memiliki hati. Walaupun mungkin, cintanya pada Keanu belum terlalu dalam, tapi hatinya tetap nyeri saat tahu bahwa ada wanita lain selain dirinya yang memiliki hak atas suaminya. Walaupun masih sebatas tunangan, tapi perempuan itulah yang dikenal dunia sebagai pasangan suaminya dan bukan dia. Miris sekali bukan. Alin hanya istri simpanan, istri yang disembunyikan dan istri yang tak dikenal.


Miris dan menyedihkan....kata itu sangat tepat disematkan untuk seorang Alinea Diandra..


Perempuan cantik itu kini hanya bisa menangis pilu seorang diri. Dia berusaha untuk menjaga hati dan kewarasannya sendiri dengan mengeluarkan airmatanya. Dia tidak ingin terus terpuruk begini. Dia berharap, dengan menangis, maka beban dalam hatinya juga akan ikut terkuras keluar seiring dengan air matanya yang mengalir.


Alin bertekad untuk menumpahkan semua kesedihannya hari ini. Dia bertekad bahwa ini adalah terakhir kalinya dia meneteskan air mata. Untuk ke depannya, dia akan tegar, tabah dan kuat menghadapi semua cobaan hidupnya. Dia akan menjalani takdirnya dengan ikhlas, apapun itu bentuknya.


Tekad dalam hati Alin begitu kuat sekarang. Dia kemudian bangkit dari tempat tidur kemudian mengusap kasar sisa air matanya.


"Untuk ke depannya, tidak boleh ada lagi air mataku yang akan tumpah. Aku akan menjalani semuanya dengan ikhlas karena aku percaya bahwa tuhan pasti telah menyiapkan balasan yang indah untuk setiap kesusahan dan kesedihan yang setiap hamba-Nya alami. Keep Fighting, Alin. Life Must be Go On." Alin berusaha menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


**************


__ADS_2