
Senja telah menghilang di Ufuk Barat dan perlahan-lahan bulan telah muncul di langit malam menggantikan matahari yang telah seharian menemani makhluk hidup beraktivitas.
Malam ini sepulang dari kantor, Alin hanya berdiam diri di kamarnya. Dia malas melakukan apapun. Rasanya semangatnya hilang seketika karena seharian ini tidak melihat Keanu. Alin baru menyadari bahwa Keanu adalah salah satu penyemangat hidupnya. Yang membuat Alin tambah lesu karena penyemangat hidupnya itu tidak mungkin bisa dia dapatkan.
Bagaikan Pungguk Merindukan Bulan. Itulah pepatah yang tepat untuknya. Dia bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan Keanu. Alin bahkan tidak berani memimpikan hal itu. Walaupun pernah terjadi sesuatu antara mereka, tapi itu hanya kecelakaan. Keanu melakukannya dalam kondisi tidak sadar dan dalam pengaruh obat. Jadi itu tidak bisa dianggap serius. Buktinya saja sesudah itu, Keanu biasa saja. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.
"Ahhh......(sambil menarik napas panjang)....aku tidak boleh memikirkan hal itu lagi. Aku harus fokus memikirkan masa depanku saja. Keep the spirit, Alin. You can do it." Alin mencoba menyemangati diri sendiri.
Tokk....tokk.... tokk.....
Alin baru tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Siapa....!!!" Alin berteriak sambil bangun dari tidurnya dan berjalan ke pintu. Dia melihat ke jam di dinding kamarnya. Sekarang jam 21.45.
Tokk...tokk....tokk.....
Terdengar lagi ketukan di pintu. Kali ini suara ketukan itu terdengar agak keras dan terburu-buru.
"Siapa sih yang datang malam-malam begini. Mengganggu saja..Mana ditanya tidak menjawab lagi." Gerutu Alin dalam hati.
Alin kemudian membuka pintu. Begitu pintu dibuka, dia langsung kaget karena belum sempat melihatnya, tamu itu langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi lalu dengan seenaknya menutup pintu kamarnya.
Setelah menutup pintu, barulah orang itu berbalik ke arah Alin.
"P..pa..pak..Keanu......!!!
Alin belum sempat menyelesaikan kalimatnya tapi Keanu langsung menangkup kedua pipi Alin dan mencium bibirnya. Lama Keanu melakukan itu. Sampai akhirnya dia melepaskannya ciumannya tapi tetap memegang wajah Alin.
"Aku merindukanmu.........sangat merindukanmu." Keanu berkata lembut sekali. Tatapan matanya yang memerah dipenuhi *****. Dari mulutnya menguar bau alkohol yang sangat kuat. Rambutnya agak sedikit awut-awutan. Dia sudah tidak memakai jas. Kancing kemeja yang dipakainya sudah tidak terpasang semua.
Alin hanya menatap Keanu dengan keheranan. Dia tidak mengerti dengan bossnya ini.. seharian menghilang, sekarang tiba-tiba datang dengan penampilan acak-acakan dan mengatakan hal-hal yang tidak Alin mengerti.
Keanu kembali menciumi bibir Alin, mel...tnya. Alin yang sedari tadi hanya diam saja, akhirnya sekarang mulai bereaksi. Biar bagaimanapun ini bukan pengalaman pertamanya. Dia sudah pernah melakukannya bersama Keanu. Jadi sedikit banyaknya, dia sudah tahu rasanya dan Alin tidak mau munafik bahwa dia juga menginginkannya.
"Aku menginginkanmu..... sangat menginginkanmu..... bolehkah......" Keanu bertanya dengan lembut setelah melepaskan ciuman mereka.
Alin menatap mata Keanu yang dipenuhi *****. Mencari-cari sesuatu di sana. Tapi dia tidak menemukan yang dicarinya.
"Aku tidak bisa..... tidak bisa......" Alin menggeleng pelan.
"Kenapa...? Bukankah kita sudah pernah melakukannya?"
"Yang pertama itu suatu kesalahan..Kamu dalam kondisi tidak sadar. Jadi aku sudah memaafkanmu dan tidak ingin mengungkitnya lagi."
"Aku tidak pernah menganggap itu adalah kesalahan. Aku sadar saat melakukannya dan aku memang menginginkannya. Dan setelah itu kamu bisa lihat sendiri, aku tidak bisa melepaskanmu. Aku selalu ingin bersamamu."
"Sudahlah...tidak usah gombal.....kamu pulang saja sana." Alin mencoba mengusir Keanu karena Alin khawatir tidak bisa menahan diri nantinya.
"Ngga...aku ngga mau pulang sebelum kamu mengijinkanku melakukan itu......."
"Emangnya kamu pikir aku apaan..... hah!!! Kamu pikir aku pel...ur yang bisa kau jadikan tempat pelampiasan nafsumu."
"Tidak....tidak.... bukan begitu maksudku Lin." Keanu panik mendengar kata-kata Alin. Dia takut Alin akan marah dan malah meninggalkannya. Entah mengapa Keanu tidak rela kalau harus berjauhan dari Alin. Apakah ini cinta? Entahlah.. yang dia tahu, Alin bisa mengobrak abrik hati dan perasaannya hingga berantakan tak berbentuk. Dia yang biasanya dingin, cuek dan tak berperasaan tapi di depan Alin semua itu tidak berlaku.
__ADS_1
"Pergi sanaaa...atau aku berteriak nih biar semua tetangga datang."
Begitu mendengar ancaman Alin, Keanu langsung membekap mulut Alin dan mengangkatnya ke tempat tidur. Setelah membaringkan Alin di tempat tidur, Keanu lalu menindihnya agar dia tak bisa bergerak. Alin menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha melepaskan bekapan tangan Keanu di mulutnya.
"Aku akan melepaskan tanganku, tapi kamu janji dulu tidak akan berteriak. Kita bicarakan baik-baik.. okay."
Alin mengangguk mengiyakan. Setelah itu Keanu melepaskan bekapan tangannya. Tapi dia tetap menindih Alin.
"Kamu bisa turun dulu ngga. Berat tau...." Alin berkata sambil memanyunkan bibirnya.
"Ngga mau..... aku ngga mau turun. Aku suka di posisi ini." Keanu berkata sambil tersenyum mesum.
"Mau turun sendiri sekarang atau aku gigit.."
"Okay....okay....aku turun." Keanu menggeserkan badannya berbaring di samping Alin. Kemudian tangannya memeluk perut Alin yang ramping.
"Lin......"
"Hmmm...... ada apa ?" Alin agak kikuk diperlakukan seperti itu oleh Keanu.
"Sejak kapan kamu kenal Vano."
"Vano.....🤔 siapa Vano? aku ngga kenal."
"Ngga usah pura-pura deh, Lin. Kamu akrab sama dia. Seperti teman lama yang baru bertemu."
"Serius.... aku serius... aku tak mengenal Vano itu siapa."
"Tapi...aku melihatmu tadi pagi ketemu dia di gerbang kantor."
"Apa yang kamu maksud itu Pak Revan?"
"Ya itu..... namanya khan Revano. Sejak kapan kamu kenal dia?"
"Aku sudah lama kenal. Dia adalah atasanku dulu waktu aku kerja membersihkan di divisi keuangan."
"Penampilanmu khan berubah sekarang. Emang dia bisa mengenalimu."
"Iya... dia pernah melihatku tanpa masker."
"APA......!!! Vano sudah lama tahu wajah aslimu."
Alin mengangguk membenarkan ucapan Keanu.
"Dia sudah mengenalmu lebih lama dari aku... Jangan-jangan dia suka sama kamu."
"Loh..emangnya ada yang salah kalau dia menyukaiku."
"Iya.....salah sekali. Kamu itu hanya milikku dan selamanya akan jadi milikku." Keanu berkata sambil meraih wajah Alin agar menghadap ke arahnya. "Kamu tau..... aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu. Tidak akan. Hanya aku yang boleh." Keanu menatap tajam Alin.
"Aturan darimana itu... kamu bisa mengklaim aku milikmu sedangkan kita tidak punya hubungan apapun."
"Aku yang pertama untukmu. Jadi sejak saat itu, kamu milikku."
__ADS_1
"Sudahlah Keanu, kamu pulang saja sana. Aku pengen istirahat."
"Kamu mengusirku lagi, Lin. Apakah kamu marah? jangan bilang, kamu marah karena kamu juga suka sama Vano, Lin."
"Kalau iya, kenapa? Wajarlah kalau aku.menyukainya karena dia baik, ramah, sopan dan yang terpenting dia ganteng" Alin sengaja memprovokasi Keanu agar dia marah dan cepat pergi.
Dugaan Alin salah besar. Keanu memang terprovokasi oleh ucapan Alin tapi itu tidak membuatnya pergi. Justru itu membuatnya emosi dan melampiaskannya pada Alin.
"Kamu bilang apa hahhh. Kamu berani memuji lelaki lain di depanku." Tanpa basa basi, Keanu langsung menindih dan mel....t kasar bibir Alin.
"Apakah dia sudah pernah menyentuhmu setelah aku sehingga kamu bisa sebegitu memujinya. Kamu pikir aku tidak bisa memuaskanmu, hahh...!!!" Tanpa ampun, Keanu langsung merobek pakaian yang dikenakan Alin membuatnya meringis. Bahunya terasa agak perih karena gesekan kain yang ditarik paksa dari tubuhnya.
Melihat Alin yang meringis, tidak membuat Keanu menghentikan aksinya. Malah dia semakin beringas. Akal sehatnya sudah terbakar habis oleh api cemburu. Sekarang tangan kanannya mere.....s kuat gunung kembar sebelah kanan Alin sedangkan yang sebelah kiri dia hi....p keras kemudian dia gigit sampai warnanya yang tadinya coklat muda, berubah menjadi kemerahan.
Alin hanya bisa merintih." Sakit...... cukup.....hentikan sekarang. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu."
Tapi rintihan Alin belum bisa menghentikan Keanu. Cemburu telah membutakan matanya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah melampiaskan emosinya.
Alin hanya bisa pasrah. Tidak ada gunanya melawan macan yang terluka karena nantinya mereka akan saling menyakiti. Lebih baik membiarkannya sampai dia kelelahan dan berhenti sendiri.
Keanu tetap meneruskan aksinya sampai dia merasakan sesuatu yang sudah lama ditahan-tahannya akan meledak.
" Aaakkhhh.....!!" erangan panjangnya terdengar pada akhirnya.
Setelah Keanu mencapai pelepasannya, dia akhirnya terkapar di samping Alin sambil memeluknya. Keanu telah puas bisa melampiaskan semuanya pada Alin. Perasaannya lega, plong....tidak ada lagi beban yang sedari tadi menghimpit dadanya. Semuanya sudah dilepaskan bersamaan.
Keanu merasakan tubuh Alin bergetar dalam pelukannya. Dia tahu, Alin menangis karena merasakan sakit lahir bathin akibat perbuatannya ini. Tapi dia bisa apa lagi, semua sudah terlanjur terjadi.
Hanya ini yang bisa dilakukannya sekarang yaitu memeluk dan mencoba menenangkan pujaan hatinya ini. Wanita tempatnya melampiaskan semua rasa yang dia miliki. Wanita yang bisa menjadi tempatnya berbagi suka dan duka.
Keanu berusaha membalikkan posisi badan Alin agar menghadapnya. Setelah mereka berhadapan, Keanu kembali mendekap Alin di dalam pelukannya sambil menciumi pucuk kepalanya.
"Alin.... aku minta maaf kalau aku terlalu kasar tadi. Maaf kalau aku menyakitimu." Setelah berkata itu, Keanu memegang dagu Alin dan mengangkatnya agar Alin bisa menatapnya.
"Aku minta maaf atas perlakuanku tadi. Aku tidak berniat menyakitimu. Aku hanya terbawa emosi karena cemburu. Aku cemburu karena aku menyukaimu. 'Ich Liebe Dich'."
Mendengar kata-kata Keanu, Alin mendongak menatapnya. Dia melihat pancaran mata Keanu tampak polos dan tidak ada tanda-tanda kebohongan di sana saat mengatakan itu.
"Kamu harus percaya, kalau aku mencintaimu. Walaupun aku belum bisa menikahimu, tapi aku berjanji akan selalu bersamamu dan mencintaimu."
Alin serasa tiba-tiba dihempaskan jatuh ke jurang yang dalam saat mendengar lagi kata-kata Keanu ini.
Untuk apa kepercayaan itu kalau hanya ada di ucapan tapi tidak bisa dibuktikan.
Untuk apa mencintai kalau tidak bisa memiliki.
Untuk apa berjanji kalau tidak bisa ditepati.
Untuk apa dikatakan kalau tidak bisa dilakukan.
Pertanyaan itulah kiranya yang ada di benak Alin sekarang. Lelaki ini bilang mencintainya tapi tidak bisa menikahinya. Dia berjanji akan selalu bersamanya. Tapi apa gunanya kebersamaan itu kalau tidak bisa dimiliki.
Setelah lelah berpikir, tidak berapa lama kemudian, Alin akhirnya terlelap dibuai mimpi dalam dekapan Keanu.
__ADS_1
……………………………%%%%…………………………………………
Jangan Lupa Like dan Votenya untuk author. 🤗🤗🤗