Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Keluarga Kecil Kita [Ending Season 2]


__ADS_3

Tiga tahun pun berlalu tanpa terasa. Kenzie Andreas, putra Dokter Ardiansyah dan Suster Lina kini sudah pandai berceloteh.


"Mama, bangun dong! Abang mau mimik susu nih."


Dokter Ardiansyah membangunkan sang istri yang masih terlelap di ranjang mereka minggu pagi itu, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka jam 9 pagi.


"Ehm!" Lina hanya melenguh malas dengan mata masih terpejam.


"Kiss Mama, Nak! Biar bangun," ucap Dokter Ardi pada putranya yang ada di pangkuannya. Sengaja dia mengajak putranya agar sang istri mau bangun.


Sang putra berusia tiga tahun itu menurut. Ia menciumi wajah sang ibu dengan kecupan basah, membuat Lina terusik.


"Abang! Mama ngantuk, Nak! Mimik susu yang di kulkas saja ya, Nak!" ujar Lina malas.


Oh, benar saja. Di kehamilan kedua yang kini berusia dua bulan, Lina benar-benar malas melakukan apapun. Bahkan untuk makan pun ia malas membuka mulut dan mengunyah. Kalau kata Mama Ria sih, sepertinya anaknya ini perempuan.


"Ma, bangun dulu! Sarapan bentar, nanti tidur lagi, ya!" bisik Dokter Ardi di telinga istrinya dan mengecup singkat kening wanita itu.


"Ngantuk, Mas. Gara-gara kamu semalam ngajakin begadang," sahut Lina bergumam.


"Mamam mik ucu!" celoteh Kenzie memegang dada sang Ibu yang masih tetap memejamkan matanya.


"Abang!" Lina pun menbuka matanya dan mendengus sedikit kesal karena tidurnya diganggu oleh dua lelaki berbeda usia itu.

__ADS_1


"Yes, Mama bangun, Bang!" seru Dokter Ardi.


Kenzie pun ikut berseru senang mengikuti apa yang Ayahnya lakukan.


"Ih, itu kan Abang sudah mimik, kok malah ganggu Mama sih," gerutu Lina mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang.


"Sarapan dulu, Ma! Nanti tidur lagi kalau sudah sarapan ya!" Dokter Ardi mengusap singkat perut Lina yang belum tampak membukit.


"Gendong, Mas!" rengek Lina mengulurkan kedua tangan.


"Bang, Mama manja banget nih!" ucap Dokter Ardi pada putranya yang asik berbaring mengemut dotmya.


Dokter Ardi tidak menolak. Ia mengangkat tubuh sang istri dan menggendongnya dengan bridal. Kenzie ikut turun dari ranjang melihat kedua orang tuanya keluar dari kamar. Bocah kecil itu sudah pandai sekali.


"Mulai deh, Ma!" Dokter Ardi ikut terkekeh karena istrinya mengecupi pipinya gemas.


Oh, ya mereka sudah pindah ke rumah baru mereka sejak dua tahun lalu. Dokter Ardi memutuskan ingin hidup mandiri bersama keluarga kecilnya. Meski berat untuk Mamanya melepaskan mereka pisah rumah, tapi akhirnya Mamanya menyetujui juga. Namun, dengan tukaran Viona dan Haikal yang menemani Mama Ria di sana. Lina bersyukur akan hal itu. Setidaknya adik-adiknya bisa membantu dan menemani Mama Ria di rumah.


"Pa, endong!" rengek Kenzie melihat jika ibunya yang digendong oleh sang ayah.


"Mam, anakmu minta gendong tuh! Tjrun aja, ya!"


Lina mengangguk. Gantian, kini Kenzie yang digend pi ng oleh Dokter Ardi. Mereka berjalan menuju meja makan dimana sarapan sudah tersedia. Bi Asih--sang ART tersenyum senang melihat kekompakan keluarga majikannya itu.

__ADS_1


"Loh, Papa sama Abang nggak sarapan?" tanya Lina karena hanya piringnya yang diisi nasi goreng oleh sang suami.


Dokter Ardi menggeleng, "Papa sarapan duluan tadi nemenin Kenzie. Maaf ya, Ma! Nggak nunggu sarapan bareng Mama," ujar Dokter Ardi tak enak.


Lina menggeleng dengan senyum maklum, "nggak apa-apa, Mas. Kenzie sudah dikasih sarapan, kan? Maaf ya bangun kesiangan!"


Dokter Ardi mengangguk. Kenzie si bocah tiga tahun itu duduk di atas meja makan meminta sang Ibu menyuapinya. Padahal sudah sarapan dan minum susu, tapi bocah itu memang doyan makan.


"Abang maem terus ih, nanti sakit perut loh!" ucap Lina terkekeh, menyuapkan sedikit nasi ke mulut mungil putranya.


"Mamamam!" celoteh Kenzie tak jelas.


Dokter Ardi dan Lina tertawa senang melihat kelucuan putra mereka. Dokter Ardi merekam senyum dan tawa bahagia wanita yang ia cintai. Tidak akan ia sia-siakan lagi kesempatan yang sudah wanita itu berikan untuknya. Wanita dengan senyum cerah di depannya itulah yang akan menemaninya hingga masa tuanya nanti, dan hingga napasnya sudah tidak lagi berembus.


"Mam, I love you!"


Dokter Ardi menggerakkan bibirnya tanpa suara pada wanita yang masih meyuapkan nasi ke mulutnya itu. Lina mengerutkan kening bingung, tapi begitu prianya itu mengulanginya, ia pun paham dan tersenyum. Membalas dengan gerakan bibir tak bersuara juga dengan kalimat, 'Aku tahu, Pa!'. Sesederhana itu kebahagian mereka. Namun, Lina yakin jika bahagia tak akan selamanya, pasti akan ada badai menimpa mereka, tapi Lina yakin jika mereka bisa menghadapinya dengan bersama.


..._END_...


Ok, sekian cerita Dokter Radit dan Dokter Ardi. Tenang, masih ada beberapa bab bonus yang nanti aku posting, tapi nggak sekarang. Untuk minggu-mingu ini mungkin mau libur dulu, karena ada beberapa tugas yang belum kuselesaikan. Maaf, ya gaes kalau bikin kalian nunggu lama, dan bosan 🙏 benar-benar disibukkan sama semua kegiatan dunia nyata ini 😭😩


Nah, untuk rencana kisahnya Mbak Lilis enak aku posting di lapak ini atau bikin lapak baru, gaess? tapi nantilah awal Juni rencananya

__ADS_1


__ADS_2