Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Tanggung Jawab


__ADS_3

Padahal dua hari lagi acara pernikahannya dengan Lilis, tapi Dokter Ardi melakukan kesalahan fatal. Ya, semua yang terjadi padanya dan Suster Lina adalah kesalahan menurutnya. Dia di luar kendali, ia ras teman-temannya semalam memasukkan obat perangsang di minumannya.


"Sial! Seharusnya aku tidak perlu datang semalam!" Lelaki itu menjambak rambutnya kesal.


Lelaki itu duduk di pinggiran ranjangnya dengan menopangkan siku di kedua pahanya.


"Ardi!"


Seruan dari luar kamar membuat lelaki itu menghela napas. Dia sudah rapi dengan kemeja biru muda dan celana bahannya.


"Masuk, Ma!" sahut lelaki itu membenahi tatanan rambutnya yang agak berantakan.


"Kamu tidur dimana semalam?" tanya Mamanya dengan tangan bersedekap.


"Apartemen, Ma." Dokter Ardi menyahut berbohong sambil menyambar handphone dan snelinya.


"Baju yang kamu pakai semalam bau alkohol. Kamu mabuk?" Netra Ibu Maria menatap penuh selidik pada putranya itu


"Minum dikit, Ma!"


"Astaga, dikit-dikit itu alkohol juga namanya, Ardi! Pokoknya Mama gak suka ya kamu minum-minum gitu lagi, kalau mau reunian ya kumpul biasa aja minum jus atau kopi, gak usah minum-minum yang begitu," ujar Ibu Maria panjang lebar dengan nada kesal.


"Iya, Ma!" Dokter Ardi menyahut pasrah.


"Kamu harus jaga kesehatan, lusa kamu menikah!"


Setelah mengucapkan kata itu, Ibu Maria berlalu keluar dari kamar putranya. Menyisahkan lelaki berusia kepala tiga itu yang kini kembali duduk di ujung ranjang dengan wajah kusut.


"Astaga, aku bisa gila! Bagaimana aku menyelesaikan masalah ini?" gumamnya frustasi.


Akhirnya, meski suasana hati buruk Dokter Ardi tetap berangkat juga ke rumah sakit. Dia tak bisa mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya begitu saja. Dia sudah memikirkan solusi yang tepat menurutnya selama perjalanan dari rumah ke rumah sakit tadi.


"Suster Shela!" panggil Dokter Ardi ketika ia berjalan menyusuri koridor mencari keberadaan Suster Lina.

__ADS_1


"Ya, Dokter Ardi?" Orang yang dipanggil itu menoleh.


"Lihat Suster Lina tidak?" tanya Dokter Ardi sesekali menoleh ke arah orang-orang yang lewat.


"Suster Lina? Ah, tadi dia di ruang Mawar lantai 3." Suster Shela menjawab dengan tatapan penuh selidik. Ada apa si Dokter Ardi mencari keberadaan rekan juniornya itu? Pikirnya.


"Ok, terima kasih kalau begitu."


Dokter Ardi berlalu setelah mendapatkan jawaban akan keberadaan Suster Lina dari Suster Shela tadi. Sedangkan, perempuan berseragam perawat itu menatap penuh tanya dan penasaran punggung sang dokter.


"Aneh banget sih orang-orang hari ini. Tadi si Lina, sekarang Dokter Ardi. Apakah ini april mop? Ck, masa bodohlah bukan urusanku juga," gumam Suster Shela mencebikkan bibirnya.


Seperti yang dikatakan oleh Suster Shela, maka Dokter Ardi pun menuju ruang Mawar di lantai tiga. Ini pukul sepuluh pagi, jam-jam sibuknya para staf sebenarnya, tapi lelaki itu tak peduli. Mumpung ia sedang tidak ada pasien, ia harus segera menemui perempuan itu.


"Suster Lina!" panggil lelaki itu ketika ia mendapati keberadaan perempuan yang ia cari.


Suster Lina yang baru saja keluar dari ruang Mawar menoleh pada sunber suara. Perempuan itu tampak kaget, dan berusaha menampilkan ekspresi wajah santai, meski dia merasa tegang juga gugup. Kenapa mereka harus bertemu hari ini?


"Saya mau bicara!" ucap lelaki itu terkesan datar.


"Jangan menghindar! Kita butuh membicarakan kejadian semalam," ucap Dokter Ardi sedikit kesal.


"Ok!" Suster Lina menyahut pasrah. Dokter Ardi pun melepaskan cekalannya di tangan perempuan itu.


Mereka berjalan beriringan menuju ruangan Dokter Ardi, tempat teraman untuk berbicara hal yang akan mereka bahas ini. Dokter Ardi duduk di kursinya, sedang Suster Lina duduk di kursi di depan meja dokter itu.


"Saya akan bertanggung jawab," ucap Dokter Ardi tanpa basa basi. Ekspresi wajahnya datar, tak menunjukkan apa-apa.


Suster Lina mendongak, mengarahkan pandangannya pada wajah Dokter Ardi.


"Jangan gila! Anda akan menikah dua hari lagi, saya tidak ingin menjadi penghancur hubungan kalian. Dokter tidak perlu bertanggung jawab, saya sudah minum obat pencegah kehamilan." Suster Lina berujar dengan tatapan tajamnya.


"Saya akan tetap bertanggung jawab dengan kita menikah secara siri," ucap Dokter Ardi lagi dengan nada lebih meninggi.

__ADS_1


"Tidak perlu, Dokter!" Suster Lina pun ikut mengeraskan suaranya. Ayolah, dia tidak ingin menikah dengan lelaki itu yang notabanenya tidak menyukainya, atau benci dirinya.


"Saya akan tetap bertanggung jawab. Nanti malam saya akan mengurusnya dan menjemputmu, urusan pernikahanku itu bukan urusanmu!" Kali ini suara dingin lelaki itu tidak ingin dibantah.


Suster Lina tak berkutik. Sejujurnya, ia juga takut jika dirinya hamil akibat insiden mereka semalam, tapi ia juga tidak ingin menghancurkan hubungan orang lain. Ia dilema, meski ia sudah minun pil pencegah, tapi tak menjamin ia tak akan hamil karena dia dalam masa subur


"Astaga, kenapa semuanya jadi kacau begini sih?" gumam Suster Lina meremas jemarinya gusar.


Pasalnya, lelaki itu menepati ucaoannya dengan mendatangi kediamannya malam ini. Entah tahu darimana pria itu akan lokasi kontrakannya ini. Akhirnya, dengan pasrah dibawa tatapan bingung kedua adiknya, Lina mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih baik. Di teras kontrakannya Dokter Ardi bersama 3 orang lelaki yang tidak ia kenal, dan juga Pak RT pemilik kontrakan ini sudah menunggu di teras. Lina segera menyuruh Viona menyiapkan kudapan dan minuman, sedang Haikal ia suruh menggelar tikar karena mereka tidak punya sofa.


Akhirnya setelah hampir setengah jam Lina sedikit berdandan, dia menyuruh Haikal meminta orang-orang di luar itu masuk ke dalam. Tatapan Lina sempat bertemu dengan netra tajam Dokter Ardi yang malam ini mengenakan kemeja lengan pendek dan celana bahan hitam. Tampilan pria itu begitu fresh di mata Lina, tetap tampan dan berkarisma seperti biasanya.


"Nah, Mbak Lina sudah siap? Dokter Ardi bagaimana?" tanya seorang pria berkaca mata yang usianya Lina perkirakan awal kepala empat.


"Baiklah. Kita mulai saja, ya!"


Anggukan dari semua orang di ruang berukuran sedang itu mengawali acara ijab dan qabul malam itu.


"Saya terima nikahnya Lina Indriani binti Syaifullah (Alm) dengan mas kawin tersebut, tunai!" Suara lantang dan tegas itu kekuar dari mulut Dokter Ardi. Lina menunduk didampingi adiknya, Viona.


Lalu seruan dari para saksi menghadirkan desiran aneh di dada Lina. Ada perih juga desir senang yang ia rasakan. Ia dinikahi secara siri, dan esok lusa akan diduakan karena Dokter Ardi akan menikah dengan wanita lain.


"Alhamdulillah! Nah sekarang kalian sudah halal sebagai pasangan suami istri," ucap Pak Ibrahim--seorang penghulu yang dibawa oleh Dokter Ardi.


Lina hanya bisa menunduk setelah ia diminta menandatangani surat di atas materai yang telah disipakan oleh Pak Ibrahim. Setelahnya Pak RT dan tiga orang yang tadi dibawa oleh Dokter Ardi berpamitan untuk pulang, sedang lelaki itu sendiri masih tinggal.


Viona dan Haikal pun masuk ke kamar masing-masing meninggalkan dua orang dewasa itu. Nanti Lina akan menjelaskan pada dua adiknya.


Dokter Ardi menyerahkan sebuah kartu kredit ke hadapan Lina dan surat tadi yang sudah mereka tanda tangani.


"Kamu simpan surat itu, dan kartu kredit itu untuk nafkah dariku," ucap Dokter Ardi datar, tapi sudah menghilangkan nada formal yang biasa ia pakai.


Suster Lina hanya mengangguk dan tak membuka suara apapun. Dia terlalu bingung dan masih merasa tak percaya jika kisah cintanya akan serumit ini.

__ADS_1


...Bersambung.......


...Mohon maaf kalau banyak typo ya gaess nanti edit kalau sudah selesai, sekarang lagi males hehe...


__ADS_2