
Ini hari kedua setelah Kinar melahirkan. Kinar masih harus dirawat untuk seminggu ke depan di rumah sakit karena ia mesti memulihkan bekas operasinya terlebih dahulu. Radit pulang semalam dan bergantian dengan Mamanya yang menemani Kinar di rumah sakit, sedang Radit menemani Alan.
"Alan mandi sama Ayah ya hari ini. Mau jenguk dedek, kan?" tanya Radit menggendong putranya yang baru bangun tidur.
"Dek, yah?" gumam balita itu menatap wajah Ayahnya.
"Iya. Kita jenguk Bunda sama Adek di rumah sakit," sahut Radit.
"Yeay! Nguk dek!" Alan berseru girang. Radit terkekeh menanggapinya.
Radit memandikan Alan, memberikannya sarapan dan menyiapkan keperluan putranya itu ke dalam tas kecil. Bi Isah yang tadi membantunya membuatkan susu putranya, dan dua botol susu itu sudah ia masukkan ke dalam tas dan beberapa roti kering kesukaan balita itu.
"Assalamualaikum, Bunda!" Radit membuka pintu ruang rawat Kinar.
"Kum, Nda!" ucap Alan menirukan apa yang Radit ucapkan.
"Waalaikumsallam. Wah Dek tuh kalian dijengukin Abang," sahut Kinar yang sedang duduk di ranjangnya dengan dua bayi yang bergelung nyaman di pelukannya.
Radit duduk di kursi yang ada di samping brankar. Sedang Alan ia dudukkan di pinggiran brankar Kinar.
"Adek salim Abang dulu ya!" Radit membantu menuntun tangan-tangan mungil bayi kembarnya menyalami tangan Alan. Mereka membiasakan hal-hal baik untuk perkembangan anak-anak mereka dari hal-hal kecil.
"Ini Adek Al, Bang! Kalau yang ini Adek El!" ucap Radit menunjuk bayi di gendongan tangan kanan Kinar dengan panggilan Al dan di tangan kiri dengan El.
"Alo, Adek! Abang cayang Adek!" Alan mengecup pipi kemerahan bayi kembar itu bergantian.
__ADS_1
"Alo, Bang! Adek juga cayang Abang!" sahut Kinar dengan suara seperti anak kecil.
"Mama kemana?" tanya Radit pada Kinar.
"Beli sarapan bentar di kantin. Mas sudah sarapan?" sahut Kinar.
"Sudah. Kamu sudah dikasih sarapan?"
Kinar mengangguk. Tadi suster sudah membawakannya sarapan, dan rekannya Suster Lina sendiri yang mengantarkannya ke sini.
"Mereka gak rewel, Bun?" tanya Radit mengambil salah satu bayi yang ada di gendongan Kinar. Putranya kembar identik, hanya tanda lahir yang ada di leher yang membedakan keduanya. Al tidak punya tanda lahir, hanya El yang ada tanda lahir di leher kanannya.
"Al nggak. El saja yang manjanya minta ampun!" jawab Kinar dengah kekehen kecil, menjawil hidung mungil El yang ada di gendongannya. Sedangkan Althan ada di gendongan Radit.
"Abang, tadi sarapan sama siapa, Nak?" tanya Kinar pada Alan yang anteng menatapi wajah adiknya.
"Gak nakal kan ditinggal sama Ayah?" tanya Kan nar lagi mengusap puncak kepala putra pertamanya itu penuh sayang.
"Ndak. Abang anak pintal!"
"Wah senang banget Bunda dengarnya. Sini Abang belum kiss Bunda loh dari kemarin. Gak kangen Bunda, Nak?" Kinar menyodorkan pipinya ke hadapan Alan yang disambut balita itu dengan kecupannya.
"Angen, Nda. Malin Lan bok cama yayah. Bang, nanis malin, Nda!" celoteh Alan mengadu pada Kinar.
Kinar menoleh pada Radit yang berjalan menimang-nimang Althan.
__ADS_1
"Semalem dia nyariin kamu!" sahut Radit dengan kekehan.
"Abang, nangis nyariin Bunda, Nak?" tanya Kinar memastikan.
"Heem. Lan mau pokpok, Nda. Pokpok yayah ndak nak!" (Alan mau di tepuk-tepuk, Bunda. Tepuk-tepuk Ayah nggak enak!)
"Hahaha! Ayah mah tahunya cuma pokpok Bundamu saja, Nak!" sahut Radit dengan kerlingan mata genit pada Kinar.
"Ayah!" tegur Kinar kesal.
"Hehehe!" Radit hanya cengengesan.
"Maaf ya, Sayang. Alan mesti tidur sama Ayah atau Kakek dulu untuk seminggu ke depan. Bunda belum boleh pulang ke rumah soalnya." Kinar mengecup sayang puncak kepala Alan. Putranya masih terlalu dini untuk punya adik sebenarnya, tapi ya rezeki ini juga tidak boleh ditolak. Namun, Kinar akan memastikan agar ia juga tak lalai memberikan perhatian pada putra pertamanya itu.
"Ot. Lan ndak nanis agi anti!" Alan menunjukkan jarinya yang membentuk huruf O.
"Pinternya anak Bunda!" Kinar terkekeh.
"Dek bok, Nda!" tunjuk Alan pada bayi di gendongan Kinar yang sudah memejamkan mata.
"Sini Mas taruh di boxnya. Al juga sudah tidur ini," ucap Radit setelah menaruh Al ke boxnya, dan mengambil alih El untuk ia letakkan juga di box bayinya.
Kinar menatap punggung suaminya dengan senyum haru. Lelaki itu begitu perhatian dan perlakuannya selalu saja membuat Kinar merasa beruntung mendapatkan suami sebaik itu. Kendati sikap dingin dan datar lelaki itu dulu, kini lelaki itu sudah jadi lelaki bucin pada keluarganya. Kinar senang kok, biarkan saja lelaki itu sebucin dan seposesif itu pada keluarganya.
...Bersambung.......
__ADS_1
...Beberapa bab lagi bakal end gaesss. kira² masih belum bosan atau sudah eneg? masih mau season duakah? atau mau cerita baru?...