Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Menjauh


__ADS_3

Malam itu Lina meninggalkan secarik surat di meja nakas kamar. Meninggalkan rumah megah itu di jam 3 dini hari. Haikal sudah menunggunya di depan rumah, ia segera mengangkat tas besarnya, menatap sekali lagi wajah tampan yang terlelap itu.


"Selamat tinggal, Mas! Kamu tidak perlu memberatkan diri dengan tanggung jawab ini. Karena aku akan membesarkannya dengan baik," gumam Lina lirih.


Wanita hamil itu berjalan mengendap keluar dari kediaman itu. Ia tidak mau ada yang melihatnya pergi dan malah membatalkan niatnya itu.


"Sudah, Mbak?" tanya Haikal--adiknya yang sudah menunggu di depan pagar rumah.


"Mbak yakin mau pergi dari Mas Ardi? Apakah tidak bisa membicarakan hal ini baik-baik?" tanya Haikal membantu Kakanya memawa tas besar itu masuk ke dalam mobil.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan kendaraan roda empat itu pun melaju membelah jalanan lengang dini hari itu. Lina tidak tahu mobil siapa yang adiknya pinjam untuk mengantarkannya kali ini.


"Mas Ardi gak pernah cinta sama Mbak, Kal. Ibu Maria juga gak suka Mbak jadi menantunya. Jadi, buat apa Mbak bertahan sama pernikahan yang hanya dilandaskan tanggung jawab karena lelaki itu sudah merebut kehormatan Mbak," ucap Lina di sela perjalanan mereka.


Haikal mengangguk paham. Sebenarnya ia juga tidak suka dengan cara dokter itu menikahi Kakaknya. Tidak ada pembicaraan, dan konfirmasi padanya yang notabane adalah saudara laki-laki dari Kakaknya.


"Kita jadi berangkat ke Bandung, Mbak? Mbak gak capek? Kita istirahat dulu, Mbak lagi hamil loh!" ujar Haikal setelah hening beberapa saat.

__ADS_1


"Langsung ke Bandung saja, Kal. Biar cepat sampainya," sahut Lina singkat. Dia tidak ingin menunda keberangkatannya menuju Bandung, takut jika Dokter Ardi segera menyadari kepergiannya dan malah mencegahnya.


Haikal pun menuruti apa yang Kakaknya inginkan. Kendaraan roda empat itu pun melaju menuju Kota Bandung dengan perjalanan dua jam lebih. Mereka sampai di Bandung jam setengah 6 pagi dan berhenti di sebuah rumah sederhana bernuansa modern. Pintu pagar rumah itu dibuka oleh seorang perempuan muda yang masih mengenakan piyama.


"Mbak Lina! Ayo masuk, Mbak!" sapa perempuan muda itu ramah.


"Kamu apa kabar, Div? Kuliahmu gimana?" tanya Lina berjalan beriringan dengan perempuan muda itu. Sedangkan, Haikal berjalan di belakang mereka menenteng tas besar milik Kakaknya.


"Baru masuk semester ini, Mbak. Kemarin aku ngulang semester."


Perempuan muda bernama Diva Maharani itu membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Lina dan Haikal untuk masuk.


"Mas mau langsung pulang ke Jakarta, Div. Titip Mbak Lina ya!" ucap lelaki itu setelah mengantarkan tas besar Kakaknya tadi ke kamar yang sudah Diva siapkan.


"Tenang saja, Mas. Mbak Lina akan aman sama aku!" sahut Diva merangkul lengan Lina yang duduk di sofa ruang tamu rumah itu.


Diva tinggal sendiri di Bandung karena ia harus menyelesaikan kuliahnya. Sedangakn, orang tuanya ada di Jakarta sana.

__ADS_1


"Hati-hati, Mas!" pesan Diva yang mengantarkan Haikal sampai pintu pagar. Lelaki itu mengangguk dengan senyum tipis. Ia melambaikan tangan pada Diva dan Kakaknya, lalu mobil pun melaju berlalu membelah jalanan.


"Maaf, Mbak ngerepotin kamu ya, Div!" ucap Lina saat mereka kembali masuk ke dalam rumah.


"Mbak apaan sih. Kayak kita baru kenal saja. Kita sudah belasan tahun loh Mbak kenal. Aku sudah tahu keluarga Mbak dan sebentar lagi juga jadi bagian dari kalian," sahut Diva merangkul lengan Lina dan membimbingnya masuk ke dalam kamar yang sudah ia siapkan.


"Mbak istirahat dulu, ya! Ayo, kuantar ke kamar. Kamarnya sudah kubersihin nanti pakaian Mbak bisa langsung dimasukin ke lemari, nanti kubantu beresinnya. Mbak istirahat dulu aja, kan lagi hamil. Habis perjalanan jauh pasti dedek bayinya capek," ucap Diva mengusap singkat perut buncit calon kakak iparnya.


"Terima kasih banyak ya, Div!"


"Duh berapa kali Mbak ngomong gitu aku marah kalau sekali lagi Mbak ngomong kata itu!" ancam Diva dengan mata mendelik pura-pura kesal.


Lina mengangguk dengan kekehan geli. Ia mengusap sayang pipi perempuan muda itu.


"Istirahat ya, Mbak! Aku tinggal keluar dulu," ucap Diva mencium singkat pipi calon kakak iparnya itu dan meninggalkan Lina sendirian.


"Kita di tempat Tante Diva, Nak! Sehat-sehat ya kita harus saling menguatkan," gumam Lina lirih mengusap perutnya.

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2