Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Merasa Kehilangan


__ADS_3

Ardi terbangun pagi harinya. Namun, ada yang aneh, dia tidak mendapati seseorang yang biasa membangunkannya setiap pagi. Rutinitas yang sudah hampir beberapa bulan dilakukan oleh wanita berstatus istrinya.


Mengabaikan kejanggalan itu, Ardi masuk ke kamar mandi membersihakn diri dan mandi. Ia keluar sepuluh menit kemudian, dan kejanggalan kedua ia dapati. Karena tidak ada pakaian yang biasanya sudah siap di atas ranjang.  Ranjang yang tadi ia tinggalkan pun kini masih berantakan dengan bed cover yang terjatuh di ujung ranjang.


"Lagi buat sarapan kali ya!" gumamnya berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil pakaiannya.


Ardi keluar dari kamar setelah ia rapih dan membereskan tempat tidurnya. Tujuan pertamanya adalah dapur, ia ingin melihat istrinya itu. Entah kenapa beberapa minggu ini, Ardi mulai terbiasa akan seraut wajah ayu itu yang selalu ada di hadapannya juga senyum ramah wanita itu.


"Loh, istrimu mana?" Langkah Ardi yang hendak menuju dapur dihentikan oleh Mamanya yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan bersama Bi Rumi.


"Loh! Bukannya di dapur bikin sarapan?" tanya Ardi ikut bingung.


"Mana ada. Orang Mama sama Bi Rumi sudah sibuk di dapur sejak pukul setengah 6 tadi. Belum lihat itu batang hidung istrimu," sahut Ibunya ikutan bingung. Karena dia memang belum melihat Lina pagi ini.


"Lina!"

__ADS_1


"Apa ini?"


Untukmu, Dokter Ardiansyah....


Sebelumnya aku minta maaf, Mas. Minta maaf karena membuat batal pernikahnmu dengan tunanganmu. Minta maaf membuat kamu harus bertanggung jawab pada diriku. Bagi kamu ini pasti adalah keputusan terbodoh dan ceroboh aku buat. Namun, bagiku ini adalah keputusan paling baik untuk semua pihak.


Maaf, aku memilih pergi dari rumah tanpa izin dan pamit sama kamu, Mas. Aku akan membesarkan anak ini sendirian, dan kamu bisa menyerahkan surat cerai setelah aku melahirkan nanti pada Haikal. Tidak usah mencariku, Mas. Kamu bebas sekarang, dan semoga Mama Ria bisa tenang karena dia tidak harus menerimaku dengan terpakasa.


Terima kasih untuk beberapa bulan ini, Mas! Semoga kamu menemukan cinta dan bahagiamu.


"Apa-apaan ini? Bagaimana bisa Lina pergi seperti ini? Apa dia tidak memikirkan masa depan anakku?" Dokter Ardi menggepalkan tangannya. Dia tidak paham dirinya sendiri, satu sisi merasa marah dan satu sisi terasa ada yang kosong di hatinya mengetahui jika wanita yang mulai membuatnya nyaman itu pergi.


Pria itu terduduk di jung ranjan. Meremas surat yang tadi ia baca, melemparnya asal dan mengusap wajah kalut. Dia harus bersikap bagaimana? Ardi tidak paham.


"Ardi!"

__ADS_1


"Loh, kok berantakan gini? Lina kemana?" Ibu Maria masuk ke kamar putranya dengan kebingungan.


"Lina kemana?" tanya Ibu Maria lagi.


"Ma! Dia pergi!" Lirih. Suara pria itu bahkan nyaris seperti gumaman tak berarti.


"Pergi? Pergi kemana?" ujar Ibu Maria tak paham.


Ardi memungut kembali kertas yang tadi ia remas dan sudah kusut itu. Memberikannya pada Mamanya. Ibu Maria menerimanya dengan kebingungan, dan membuka kertas yang sudah tak beraturan lagi bentuknya itu. Wanita baya itu begitu fokus membaca setiap kata demi kata yang tertulis di sana. Setelah selesai, dia sama linglungnya seperti Ardi tadi. Tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Dia pergi, Ar? Apa karena Mama yang selalu bersikap antipati padanya?" gumam Ibu Maria merasa bersalah.


Ardi menggeleng lesu. Baiklah, ia akan menemui Haikal dan mencari tahu keberadaan Lina pada adik iparnya itu. Semoga saja Haikal mau membantunya. Namun, melihat sikap tak bersahabat dari adik lelaki Lina itu, Ardi jadi ragu jika Haikal mau memberitahunya akan keberadaan Lina.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2