Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Fate!


__ADS_3

"Dokter Ardi!" Lelaki yang hari ini berwajah kusut itu menoleh dan menatap datar orang yang tadi memanggil namanya.


"Loh, bukannya hari ini hari pernikahan Dokter Ardi, ya. Kok Dokter Ardi malah ke rumah sakit?" ucap Dokter Ririn--orang yang tadi memanggil Dokter Ardi.


"Bukan urusan Anda!" sahut Dokter Ardi ketus, dan hendak berlalu.


"Dokter Ardi, tunggu!"


"Apalagi?" Dokter Ardi kembali menghentikan langkahnya, menatap malas Dokter Ririn yang berdiri di depannnya menghadang langkah.


"Saya minta maaf akan ucapan saya minggu lalu. Saya tidak memikirkan akan apa yang saya ucapkan hingga berani meminta hal tersebut pada Dokter," ucap Dokter Ririn menatap penuh sesal.


"Sudah saya lupakan. Tidak perlu minta maaf, dan pernikahan saya batal makanya saya kerja hari ini," sahut lelaki itu sedikit melunak.


"Ap--apa? Batal?" gumam Dokter Ririn, dan menatap tak percaya punggung Dokter Ardi yang berjalan menjauh.


Dokter Ardi harusnya tidak datang ke rumah sakit hari ini, dan mendengar desas desus orang-orang yang membicarakan akan batalnya pernikahannya.


"Sudah dengar berita panas hari ini?"


"Pernikahan Dokter Ardi batal padahal hari ini mereka akan akad."

__ADS_1


"Wah mendadak banget ya, kan!"


"Yang batalin Dokter Ardi apa calon istrinya?"


"Nah untuk yang itu masih tanda tanya. Nggak ada konfirmasi lebih lanjut dari kedua belah pihak keluarga."


Kira-kira begitulah obrolan-obrolan para staf rumah sakit yang membicarakan akan batalnya pernikahnnya hari ini. Namun, lelaki itu acuh dan masa bodoh. Batalnya pernikahannya, toh tidak merugikan mereka juga, yang keluar modal kan dia bukan omongan orang-orang itu.


Beda dengan Dokter Ardi, beda juga dengan Suster Lina yang tidak tahu akan kabar itu karena dirinya yang terlalu sibuk menghindar dan mencoba menutup telinga dari berita tentang sang dokter yang notababe adalah suaminya


"Lin, sudah dengar kabar panas hari ini?" tanya Suster Shela rekan sejawat Suster Lina semenjak Kinar berhenti bekerja.


"Nggak, yang aku tahu cuma hari ini acara pernikahannya Dokter Ardi, kan?" sahut Suster Lina yang sedang duduk istirahat di taman rumah sakit.


Suster Lina yang tadinya asik berbalas pesan dengan adiknya, segera menoleh kaget pada lawan bicaranya. Tidak percaya akan apa yang ia dengar.


"A--apa? Maksudnya gimana, Mbak?" tanya Sustet Lina ragu.


"Pernikahannya dibatalkan semalam. Nggak tahu juga apa penyebabnya gak ada konfirmasi dari dua keluarga itu. Aneh banget kan, Lin?"


Suster Lina terdiam. Mencerna informasi yang disampaikan oleh rekannya, sembari pikirannya menerka apakah yang menyebabkan Dokter Ardi membatalkan pernikahannya karena kesalahan mereka malam itu.

__ADS_1


...........


Sebulan telah berlalu sejak hari menggemparkan itu, yaitu batalnya pernikahan dokter anestesi itu. Sebulan juga tak berarti bagi Dokter Ardi dan Suster Lina yang jarang bertemu sapa dan bertukar kabar, padahal mereka adalah suami istri sah di mata agama. Padahal mereka bekerja di tempat yang sama, kadang juga sering berpapasan, tapi tidak ada sapa menyapa.


Lalu, hari ini takdir membuat keduanya berada di ruang UGD dimana ada kecelakaan lalu lintas yang memakan banyak korban, sehingga para tenaga kesehatan berkumpul di unit darurat itu. Semua orang berlalu lalang dengan heboh. Beberapa interuksi juga rintihan kesakitan para korban kecelakaan mengisi koridor menuju ruang UGD itu.


Suster Lina dan para rekannya juga sibuk membantu membersihkan luka untuk korban yang lukanya ringan, sedang para dokter menangani korban yang terluka parah.


Suster Lina yang terburu-buru dengan kotak P3K di tangannya bertabrakan dengan Dokter Ardi yang juga buru-buru hendak masuk ke UGD. Lengan perempuan itu ditahan oleh tengan hangat dan lebar sang dokter, hingga ia tak sempat terjatuh. Keduanya bertatapan beberapa saat, hingga lelaki itu yang memutus tatapan lebih dulu.


"Hati-hati!" pesan lelaki itu datar, dan berlalu pergi.


Suster Lina masih terpaku, hingga ia disadarkan oleh senggolan orang yang lewat. Untuk itulah perempuan itu segera melanjutkan tugasnya. Lalu, mereka kembali didekatkan karena para dokter menbutuhkan beberapa perawat untuk membantu mereka, hingga Suster Lina yang masuk bersam lima rekan perawat lainnya. Ruang UGD yang hari itu dipisah jadi tiga bagian dengan kain hijau sebagai pembatas. Suster Lina dan satu rekannya menyibak salah satu tirai hijau itu, dan netra perempuan itu tak sengaja bertemu dengan netra cokelat terang milik Dokter Ardi yang juga saat itu menoleh. Ada satu pasien dengan luka parah di ranjang pasien.


"Cepat! Bantu kami!" titah dokter senior pada Lina dan rekannya.


Dua perawat itu segera mendekat, dan mengarahkan troli dorong berisi berbagai peralatan medis mendekati sang dokter. Kebetulan, Suster Lina berdiri di samping Dokter Ardi, sedang rekannya berdiri di samping dokter senior.


Setelah menit-menit menegangkan juga jantung yang berdebar karena berdekatan dengan Dokter Ardi, akhirnya Suster Lina bisa bernapas lega ketika ia dan rekannya keluar dari ruang UGD itu.


"Deg-deg kan banget gak sih deketan sama suami sendiri?"

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2