Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Menyambangi Rumah Mertua


__ADS_3

"Sebentar saja. Kamu bisa artikan sendiri bagaimana perasaan saya ini," ucap lelaki itu berbisik di balik telinga Kinar.


Keduanya terdiam masih dalam posisi berpelukan. Lalu setelah itu, Dokter Radit melepaskan pelukannya, dan wajah itu masih saja datar.


"Beri waktu dan jarak untuk hubungan ini, Kinar. Alan akan baik-baik saja denganku, kamu tak perlu khawatir. Beri saya waktu untuk menyembuhkan diri," ucap lelaki itu menatap Kinar dalam.


Kinar tidak tahu harus mengatakan apa. Dia terlalu terkejut, dan juga tidak terlalu memahami apa maksud pelukan lelaki itu. Dia butuh kata-kata bukan hanya tindakan yang bisa saja keliru baginya. Juga, maksud lelaki itu meminta waktu untuk apa? Bukankah sudah banyak waktu yang lelaki itu lewatkan.


"Aku tidak paham maksudmu, Dokter Radit!" Kinar menyuarakan kerisauannya.


"Maaf, Kinar! Saya masih tenggelam dalam kubangan masa lalu dan berusaha menyembuhkan diri sendiri," ujar lelaki itu lirih.


Kinar ingin kembali membuka suara, tapi urung. Dia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan lelaki itu. Ini sulit, jika lelaki itu masih saja terpaku pada masa lalunya, bagaimana bisa membuka hati untuk dirinya. Satu-satunya cara adalah memberikan kesetiaan dan membangun kepercayaan untuk lelaki itu. Ya, Kinar akan melakukannya, untuk Alan--putranya juga untuk hatinya yang sudah terlanjur mencintai lelaki itu.

__ADS_1


Kinar akhirnya kembali pulang ke rumah kontrakan lamanya. Sudah lima hari sejak pertemuannya dengan Dokter Radit di rumah sakit hari itu. Dia merenung, dan otaknya terus berpikir menyusun rencana selanjutnya agar dia bisa bertemu Alan. Satu-satunya cara ialah dia harus bisa masuk ke rumah orang tua Dokter Radit. Ya, dia harus bisa masuk ke rumah itu.


"Ehm... Aku bisa minta alamat Dokter Radit dengan Pak Beni. Alan, tunggu Bunda, Nak!" gumam Kinar menatap handphonenya yang menampilkan wajah bayi mungil itu. Dia sudah begitu merindukan putranya, dadanya bahkan sudah begitu kencang, karena air ASI nya belum tersalurkan dan ia berikan pada sang putra.


Kinar menemui Pak Beni setelah menelepon nomor sopir pribadi Dokter Radit itu. Mereka bertemu di sebuah restoran sederhana yang jaraknya tak jauh dari rumah sakit.


"Pak, tolong bantu saya! Antarkan saya ke rumah orang tua Dokter Radit, tolong...." Kinar menatap memohon pria berusia paruh baya yang duduk di depannya.


Pak Beni tampak berpikir, tapi mengangguk juga pada akhirnya. Merasa tak tega melihat wajah memelas perempuan muda di depannya.


Hari itu juga, dia diantar Pak Beni ke rumah orang tua Dokter Radit yang berada di kawasan kompleks perumahan elite. Kinar sudah menduga jika keluarga itu kaya, tapi tak ia sangka jika akan sekaya ini. Rumah mewah lantai dua dengan desain modern di depannya ini membuktikan akan berkelasnya bangunan itu.


"Saya tidak bisa mengantarkan ke dalam, Mbak. Saya takut ketahuan Dokter Radit," ucap Pak Beni menyadarkan Kinar dari keterpanaannya.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Pak. Terima kasih sekali lagi karena sudah mengantarkan saya. Saya yang akan bertanggung jawab kalau ketahuan Dokter Radit," sahut Kinar pada Pak Beni yang berdiri di sampingnya.


"Kalau begitu saya duluan, Mbak Kinar. Hati-hati," ucap Pak Beni berpamitan dan masuk kembali ke dalam mobil, dan melajukan kendaraan roda empat itu.


"Rumahnya mewah banget," gumam Kinar tak percaya.


"Maaf, Mbak ada keperluan apa ya?"


Kinar segera menoleh pada sumber suara. Seorang satpam yang baru saja keluar dari gerbang rumah itu menatapnya menelisik.


"Eh, itu pak... Saya mau melamar kerja di sini. Bisa saya bertemu dengan Ibu Sonia?" ucap Kinar menjelaskan maksud kedatangannya.


Sang satpam berusia kisaran kepala empat itu tampak menatap Kinar curiga, tapi mengangguk dan mempersilahkan Kinar masuk. Kinar mengikuti satpam itu menyusuri halaman depan rumah yang begitu luas, dia kembali berdecak kagum dalam hati, melihat air mancur yang ada di halaman. Rumah ini mewah seperti istana, Kinar tak menyangka jika ada rumah semewah ini. Maklum saja, keluarganya hanyalah keluarga sederhana.

__ADS_1


"Mbak, tunggu sini dulu! Saya akan melaporkan dulu pada Nyonya Sonia," ucap Pak Satpam pada Kinar.


...Bersambung.......


__ADS_2