Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Quality Time (2)


__ADS_3

Radit mengangguk. Lalu beralih pada Althan.


"Mas Al?" tanyanya.


"Mas Al tuma temenin El, Yah. Mas Al ndak nyuli tok," sahut bocah itu jujur. (Mas Al cuma nemenin El, Ayah. Mas Al nggak nyuri kok)


"Nak, jangan diulangin ya! Mencuri itu bukanlah hal yang baik, meski sekecil apapun hal yang dicuri itu. Kalau memang Kakak El pengen banget, bilang sama Pak Dodinya baik-baik pasti dikasih. Iya kan, Pak?" ujar Radit lembut sambil menoleh pada Pak Dodi yang berdiri di depan pintu pos satpam.


Pak Dodi mengangguk dengan senyum geli melihat ketiga bocah itu yang menatapnya penuh harap meminta diberi permen kacang.


"Ot, Yah. Aaf, tak El tak au nyuli agi," ujar El menatap polos wajah Ayahnya yang menahan senyum geli. (Ok, Ayah. Maaf, Kak El gak mau nyuri lagi)


"Ayah maafkan. Nah, Mas sama Abang kenapa Adeknya gak ditegur dan dikasih tahu kalau hal itu gak baik, hem?" tanya Radit kini beralih pada Alan dan Althan.


"Maaf, Ayah. Abang lupa!" ujar Alan menunduk.


"Mas uga inta aaf, Yah!" ucap Althan juga menunduk. (Mas juga minta maaf, Ayah.)


"Ok, Ayah maafkan, tapi lain kali diingetin ya kalau saudaranya melakukan hal yang salah, dikasih tahu baik-baik. Abang sama Mas paham?" ujar Radit mengelus puncak kepala putranya bergantian.


"Sudah. Hari ini kita mau main apa?" tanya Radit sudah kembali santai. Tentunya setelah si kembar meminta maaf pada Pak Dodi dan diberi permen kacang kesukaan mereka.


"Ehm, ain entak upet aja, Yah!" sahut El riang.

__ADS_1


"Iya, main petak umpet aja, Yah!" Alan menyahut ikut semangat.


"Ok. Ayo kita main di dalem aja di luar panas banget," ajak Rafit pada ketiga putranya.


"Ayah yang jaga duluan. Ayah hitung sampai sepuluh ya, kalian sembunyi di tempat yang susah ayah temuin, ok?" ucap Radit pada ketiga bocah itu.


Ketiganya mengangguk antusias.


"Siap ya. Ayah mulai nih satu... dua...."


Alan, Althan, dan Elthan pun mulai berlari-lari di dalam rumah mencari tempat persembunyian yang susah dicari Ayahnya.


"Sepuluh. Sudah ya, Ayah buka matanya!" teriak Radit membuka matanya yang tadi ia tutup dengan kedua telapak tangan.


"Wah dimana ini anak-anak ganteng Ayah sembunyi kok sepi banget ya!" ujar Radit menahan senyum geli. Padahal dia tahu dimana ketiga bocah itu sembunyi. Alan yang ada di bawah meja ruang makan, Althan yang ada di balik rak buku bersama El.


"Ot. El cali empat ain," sahut El dan bergegas mencari tempat persemb nyian yang lain.


"Abang! Mas Al! Kakak El! Kalian dimana nih?" teriak Radit sambil berpura-pura mencari putra-putranya itu.


"Wah kalian sembunyi di mana ini? Ayah kok susah ya nemuinnya," ucap Radit dengan senyum tertahan.


Ketiga bocah itu cekikin di tempat persembunyian mereka. Radit lebih dulu menghampiri Alan yang ada di bawah meja dapur.

__ADS_1


"Abang, yeay ketahuan!" ucap Radit dengan wajah ceria. Sedang, Alan sudah merengut lucu.


"Ayo, Bang bantu Ayah cari si kembar!"


Radit dan Alan pun berpindah ke ruang keluarga. Radit terkekeh melihat Al yang ada di balik rak buku, dengan satu kue bolu yang ia makan. Ck, anaknya yang satu itu suka sekali dengan hal yang manis-manis.


"Mas Al! Akhirnya ketemu!" ucap Radit menoel pipi gembil bocah itu. Tak jauh dengan Alan tadi, wajah Althan juga merengut kesal karena ketahuan.


Alan dan Althan pun mengikuti Radit untuk mencari si El. Wah, dimana bocah tengil itu bersembunyi.


"Mas, tadi kayaknya Kak El sembunyi deket kamu deh. Kok dia gak ada. Sembunyi dimana dia?" tanya Radit bingung.


Altahn yang ditanya hanya menggeleng, dengan menjilati jari-jarinya dari sisa-sisa kue bolu.


Alan yang ada d samping kanan Radit menoel tangan sang Ayah dan menunjuk pintu kamar Radit dan Kinar yang ada di lantai dua.


"Ayo, kita temukan si tengil itu!" Radit menggenggam kedua tangan putranya di kanan kirinya.


Dia membuka pintu kamarnya dan Kinar, dan mendapati si El yang tidur telungkup di atas ranjang dengan wajah yang begitu menggemaskan. Radit terkekeh dibuatnya. Putranya yang satu ini memang ajaib sekali tingkahnya. Benar-benar membuat orang-orang yang melihatnya ingin menguyel-uyelnya.


"Bang... Mas... Lihat tuh ulah si Kakak!" Radit menunjuk ranjang diaman El tertidur. Alan dan Althan yang ada di belakang tubuh sang Ayah segera melongok dan ketiganya tertawa cekikikan akan ulah si El itu.


Akhirnya mereka meninggalkan kamar dan memilih ke dapur untuk mengisi perut mengingat ini sudah masuk jam makan siang. Radit dibantu Bi Isah menyiapkan makan siang untuk anaknya. Hari ini, quality timenya hanya dengan anak-anak hingga sore nanti karena Kinar yang meminta. Radit tak mengeluh, dia malah senang bisa mengurus anak-anaknya. Karena jika di hari lain, dia akan sibuk dengan pasien di rumah sakit. Hanya weekend yang ia punya untuk keluarganya.

__ADS_1


...Bersambung.......


...Season 2 ceritanya si Dokter Ardi sama Lilis bakal di up secepatnya jangan ditinggal dulu ya cerita ini, nantikan sikap juteknya Dokter Ardi 😅...


__ADS_2