
Kini kandungan Kinar sudah masuk di bulan ke empat. Perutnya sudah membulat seperti kehamilan tujuh pulan. Tentu saja karena kali ini ia mengandung bayi kembar. Alan sendiri sudah berusia satu tahun, dan mulai aktif berjalan. Dilepas sedikit langsung deh kehilangan jejak si balita aktif itu.
"Kin, kenapa? Wajahnya kok sedih?" tanya Ibu Sonia melihat Kinar yang berwajah murung dengan menatap layar handphonenya.
"Ma, aku pengen beli pinguin, tapi kan gak ada yang jual ya. Gimana dong!" sahut Kinar menunjukkan sebuah akun instagram yang menampilkan gambar dua pasang pingnguin lucu.
"Astaga, Mama kira kenapa. Kamu ngidam?" ucap Ibu Sonia duduk di sofa kosong di samping Kinar.
"Pengen pelihara pingnguin, Ma!" rengek Kinar dengan wajah sendu.
"Hadeh. Sudah, telepon suamimu situ! Minta dia beliin pinguin," sahut Ibu Sonia mengelus perut Kinar yang buncit.
"Tapi kan Mas Radit lagi kerja, Ma!"
"Lah kan dia yang hamilin kamu, ya minta sama dialah." Ibu Sonia menyahut sambil menatap layar televisi yang menampilkan tayangan gosip.
"Ok!" Kinar membuka ponselnya untuk mengubungi si suami.
"Mas!" seru Kinar saat panggilan tersambung.
Suara grasak-grusuk terdengar di seberang telepon.
"Iya, Kin? Mas mau ke ruang operasi sekarang. Nanti saja ya telepon lagi!" sahut suara Radit lalu panggilan terputus.
"Mas? Mas... Ih ngeselin!" seru Kok nar mengempas ponselnya kesal di samping sofa.
"Kenapa?" tanya Ibu Sonia bingung.
"Dimatiin sama Mas Radit!" Kinar merengut masam.
"Sudah! Samperin situ ke rumah sakit dan ajak dia beli pinguin. Ajak Alan juga, dia kayaknya sudah bosan di rumah terus," saran Ibu Sonia.
"Ide bagus, Ma! Ok, aku siap-siap bentar!" seru Kinar senang akan ide sang mertua itu.
Kinar pamit ke kamar untuk bersiap. Ia menggunakan dress sebatas betisnya, mempoles wajah dengan bedak sedikit, dan lipgloss kesayangannya. Tak lupa dia membawa tas slempangnya untuk menampung ponsel dan dompetnya.
Kinar sudah menggendong Alan, dan bersiap pami pada Ibu mertuanya yang sedang di dapur menyiapkan bekal untuk dibawa Kinar ke rumah sakit. Ini memang jam makan siang.
"Bawa strolernya aja. Kamu gak boleh capek-capek gendong dia. Nanti turunin aja kalau dia mau turun," ucap Ibu Sonia mengambil alih sang cucu dan menyerahkan tas bekal ke tangan Kinar.
__ADS_1
Kinar menurut saja apa yang dikatakan ibu mertuanya. Ia pun berangkat ke rumah sakit diantar oleh Pak Beni. Bi Isah tidak ikut karena wanita baya itu mesti menemani ibu mertuanya di rumah.
"Pak, gak usah dijemput. Nanti saya pulangnya bareng Mas Radit," ujar Kinar ketika dia sudah diantar sampai teras rumah sakit oleh Pak Beni.
"Ok, Mbak!" Pak Beni pun pamit.
Kinar mendorong stroler Alan memasuki gedung RD Hospital. Sesekali ia membalas sapaan staf rumah sakit yang ia temui. Seperti dokter, dan Suster.
"Eh, bocah aktif gak boleh turun dulu! Nanti turunnya kalau sudah di ruangan Ayahmu," ucap Kinar saat ia akan masuk ke dalam lift, tapi Alan malah bergerak-gerak di strolernya meminta turun.
"Ulun, Nda! Yah... Yah... Yah!" celoteh si balita satu tahun itu.
"Iya, nanti kita ketemu Ayah! Abang jangan turun dulu, duh Bang jangan gerak-gerak nanti jatuh!" peringat Kinar, menahan badan sang balita. Dia tidak sanggup lagi berjongkok karena perutnya sudah membesar.
"Kinar!"
"Mbak Lina! Bang, say hello dulu sama Tante Lina!" sahut Kinar pada Suster Lina yang mendekati mereka.
"Alo! Yah... Yah... Yah.... " Alan menoleh pada Suster Lina dengan celoteh tak jelasnya.
"Sini Kin biar aku bantu gendong aja! Dia mau turun itu!" Suster Lina menggendong Alan.
"Mau ke ruangan Dokter Radit atau main di taman rumah sakit?" tanya Suster Lina ketika mereka sudah memasuki lift.
"Dia lagi ada operasi ya? Nunggu di ruangannya aja deh!" shaut Kinar sambil mendorong stroler kosong Alan.
"Nda, tu tu tu!" Si Balita itu menggoyangkan lengan Kinar yang berbaring di karpet berbulu yang tadi ia bentang di ruangan Radit. Si bakita itu sendiri bermain dengan mainannya. Kinar baru berjalan sedikit, tapi pinggangnya sudah pegal minta ampun.
"Apa, Bang?" tanya Kinar dengan mencubit gemas pipi gembil putranya.
"Tutu!" Si balita menyentuh dada Kinar, yang Kinar pahami jika putranya itu meminta susu.
"Oh, susu. Gak yang ini ya, Bang! Susu Abang ada di tas. Bentar, Bunda ambilin dulu!"
Kinar bangkit dengan kesusahan dari posisi berbaringnya, tapi sentuhan ringan di pinggangnya dan tangannya yang digenggamhangat oleh tangan kekar itu membuat senyum Kinar mngembang. Rafit membantunya duduk.
"Abang, mau susu? Ini!" Radit sudah membuka tas yang berisi keperluan Alan, yang ada di atas sofanya tadi, memberikan botol susu pada si balita itu.
"Kok gak telepon kalau mau ke sini?" tanya Radit mengusap perut besar Kinar.
__ADS_1
"Mau ajak Mas beli pingnguin," sahut Kinar santai.
"Beli pingnguin?" gumam Radit bingung.
"Iya. Aku ngidam pengen pelihara pingnguin."
"Pingnguin gak dijual loh, Kin! Kita lihat aja di Taman Safari, ya!" bujuk Radit lembut.
Kinar memberengut, "gak bisa apa beli satu di taman safari?"
"Gak ada yang urus, sayang!"
"Yah... Li nguin...."
Radit menoleh pada si balita yang menatao kedua orang tuanya dengan mata polosnya.
"Pokonya mau pingnguin, Mas!" rengek Kinar lagi.
"Tapi kan itu hewan dilindungi, Kin! Gak dijual, sayang! Kita lihat saja, ya! Nanti kita beli bonekanya buat di kamar, gimana!" bujuk Radit lagi. Ayolaj, itu hewan dilindungi, butuh izin dan lain-lainnya kalau mau pelihara, dan di rumahnya gak ada tempat untuk memelihara hewan itu.
"Gak, Mas! Anakmu ngidamnya pingnguin asli, mana ada boneka, ih!" kesal Kinar.
"Kin, jangan ngada-ngada, dong! Nanti kalau pingnguinnya mati waktu kita yang pelihara gimana?"
"Ya, Mas minta orang taman safari yang pinter ngerawatnya lah buat di rumah," sahut Kinar asal
Radit mengwmbuskan napasnya lelah. Oh, ibu hamil dan proses ngidamnya yang luar biasa!
"Ok, kita pelihara nanti!" sahut Radit akhirnya.
"Besok haru sudah ada ya, Mas!"
Radit melotot, "Minggu depan, Kin. Mas mesti urus surat izinnya dulu sama bikin habitatnya, gak bisa langsung ambil aja."
"Ok. Lusa atau aku gak mau tidur sekamar sama, Mas!"
Radit mengusap wajah frustasi. Astaga, betapa tidak sabarannya ibu hamil satu ini. Sedangkan, Kinar tersenyum senang tak sabar menantikan hewan lucu itu. Balita satu tahun itu tak terusik akan negosiasi orang tuanya, dia malah sibuk dengan mainannya sendiri.
...Bersambung.......
__ADS_1