
Ini hari menyebalkan untuk Lina. Pasalnya, saat ia pulang jam tujuh malam tadi, dia menerima laporan dari Viona jika Haikal--adik lelakinya pergi ke sebuah klub malam bersama teman-temannya. Sebetulnya, ini bukan pertama kali bagi Lina menjejakkan kaki di klub malam, tapi ia masih saja merasa risih berada di tempat yang dipenuhi manusia-manusia yang sedang mabuk dan berjoget ria itu.
"Aduh!" Suster Lina mengaduh ketika bahunya menabrak tubuh seseorang.
"Kamu!" Sosok itu menatap Suster Lina tajam dengan aroma alkohol begitu menguar dari mulutnya.
"Dokter Ardi!" Suster Lina menatap tak percaya akan sosok yang ia dapati di tempat itu. Lelaki itu masih mengenakan kemeja dan celana dasarnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Lelaki itu menatap penuh selidik pada Suster Lina.
"Bukan urusan Anda kan, Dok?" Suster Lina menyahut acuh. Ia mengedarkan pandangan mencari sosok Haikal.
"Ah, benar. Bukan urusan saya! Minggir saya mau lewat!" Dokter Ardi menyenggol lengan Suster Lina dan berlalu menuju meja bartender.
"Haikal dimana sih? Ya ampun anak itu bikin cemas aja," gumam Lina masih mengedarkan pandangan sambil berjalan lebih masuk ke dalam.
"Hay, cantik! Sendirian saja nih?" Suster Lina langsung menoleh dan mendelik kesal pada pria yang tadi menyentuh bahunya.
"Minggir! Jangan ganggu saya!" Suster Lina berusah menjauh, tapi lengannya dicekal oleh pria tak dikenal itu.
"Ah, sok jual mahal banget sih! Mending sini minum sama kita!" Suara lelaki itu begitu menjijikkan dengan aroma alkohol yang membuat Lina ingin muntah.
"Jangan kurang ajar ya!" Suster Lina langsung menyentak lengan pria itu yang hendak menyentuh wajahnya.
"Dia pacar gue! Jangan macam-macam!" Lengan Lina dicekal oleh tangan hangat yang lain. Perempuan itu menoleh dan menatap penuh tanya sosok itu.
__ADS_1
"Slow, Bro! Kalau sudah bosan boleh deh kasih ke kita. Iya nggak, guys?" Pria kurang ajar tadi berlalu dengan tawa menjijikkan bagi Lina.
"Ayo ikut saya!" Lengan Lina ditarik oleh pria sang dokter.
"Dokter Ardi, lepaskan! Saya bisa jalan sendiri!" Suster Lina meninggikan suaranya di antara bisingnya suara musik dan suara orang-orang.
Namun, Dokter Ardi tak mendengarkannya. Suster Lina diawanya hingga mereka sampai di lorong koridor yang sepi. Dokter Ardi menyentak Lina hingga perempuan itu bersandar di dinding dengan kedua tangan lelaki itu yang menempel di dinding di sisi tubuh Lina.
"Karena saya sudah menyelamatkan kamu, maka kamu harus bantu saya!" bisik Dokter Ardi menunduk di balik telinga Suster Lina. Lelaki itu mengendus aroma shampo di rambut sang perempuan.
"Do--dokter mau apa?" Suster Lina berucap terbata dengan mencoba mendorong tubuh lelaki itu menjauh.
"Menciummu!"
"Kurang ajar!" ujar Suster Lina lantang di antara koridor yang sepi.
"Bantu saya ya, Suster Lina!" Dokter Ardi tampak gelisah, keringat tampak di pelipis lelaki itu.
"Dokter, ini tidak benar! Anda sudah bertunangan!" Suster Lina kembali mendorong lelaki itu yang hendak kembali menciumnya.
"Saya tidak peduli!" sahut Lelaki itu tak sadar. Dia sepertinya meminum minuman yang salah. Dia di sini karena mengikuti acara reuni dari teman SMA nya.
"Dokter saya akan membawa Anda pulang, ayo!" Suster Lina hendak memapah lelaki itu, tapi Dokter Ardi menolaknya.
"Siapa yang bilang mau pulang? Saya mau ajak kamu ke hotel, ayo!" Gantia kini malah lelaki itu yang mencengkram lengan Suster Lina erat dan menariknya keluar dari dalam klub dan menuju gedung di samping klub yang meruoakan gedung hotel bintang tiga.
__ADS_1
"Dokter Ardi, ini tidak benar!" Suster Lina sudah berkaca-kaca ingin menangis, tapi ternyata tenaga lelaki itu masih kuat neski dia sudah dipengaruhi obat perangsang.
Hingga, mereka tiba di depan pintu yang kamar yang sudah dipesan, dan lelaki itu langsung menyeret Suster Lina masuk dan menutup pintu serta memutar tuas kunci.
"Oh ya? Saya tahu kamu juga menginginkannya kan, Suster Lina?" ucap Dokter Ardi menyeringai sinis. Keinginannya ini diliputi juga dengan rasa tak sukanya pada Suster Lina.
"Jangan gila, Dokter! Biarkan saya pergi, Anda bisa meminta bantuan tunangan Anda," ucap Lina hendka bangkit dari ranjang temoat ia tadi dijatuhkan oleh lelaki itu, tapi tubuhnya kembali didorong hingga ia kembali pada posisi setengah berbaring di ranjang hotel itu.
"Jangan munafik! Kamu juga menginginkan saya, kan?"
Lalu, Suster Lina tak bisa lagi mengelak. Perempuan itu menerima perlakuan itu dengan rasa perih di dada dan di tubuh bagian bawahnya. Lelaki yang ia cintai telah merenggut kehormatannya sebagai seorang wanita, betapa ia menyesali takdirnya yang datang ke sini malam ini. Andai... Dia hanya bisa beranda-andai saja pada takdir hidupnya yang tak pernah mulus ini.
Setelah menghabiskan dua sesi permainan, Dokter Ardi langsung membaringkan dirinya dan memejamkan mata tanpa sadar akan apa yang telah ia lakukan. Suster Lina segera bangkit dan memunguti pakaiannya yang berceceran, sama seperti hatinya yang sudah hancur tak bertepi.
Setelah mengenakan pakaiannya kembali, Suster Lina menatap sosok yang berbaring dengan selimut menutupi tubuh polos itu. Dia mendekat, menatap sosok itu penuh benci dan juga cinta yang tak bisa ia padamkan.
Setelah beberapa detik, dia berbalik dan keluar dari kamar itu, mengusap lelehan bening di pipinya. Dia harus tetap hidup dan menjalani harinya seperti biasa seperti tak pernah ada hari yang buruk ini, demi adik-adiknya. Ia mesti tetap kuat dan mengais kembali kepingan harga dirinya.
"Kenapa tak pernah ada kata bahagia di hidpku?"
...Bersambung.......
...Vote sama hadiah jangan lupa, gaess....
...Mohon maaf lahir batin semua 🙏 selamat menjalankan ibadah puasa ya, aku mungkin bakal up nya sebab sehari karena bulan puasa makin repot, semoga masih ada yg baca ya...
__ADS_1