
...Ini saya tambah satu lagi disempatin ngetiknya. vote sama hadiahnya banyakin ya gaesss!...
Radit menemui Dokter Leni hari ini, dia ingin berkonsultasi tentang kehamilan Kinar. Untuk itulah sekarang ia mengobrol di depan ruangan Dokter Leni. Duduk di bangku besi yang ada di samping pintu masuk ruangan sang dokter.
"Aman kan, Dok? Buat perjalanan jarak jauh?" tanya Radit memastikan.
"Trimester kedua ini aman, Dok. Untuk perjalanan darat, tapi kalau perjalanan udara gak saya anjurkan, ya! Apalagi kalau yang sampai belasan jam." Dokter Leni menjelaskan.
"Baik. Terima kasih, Dokter Leni!"
"Sama-sama, Dok!"
Setelah mendapati sendiri jawaban dari Dokter Leni, Radit langsung menyiapkan segala keperluan perjalanannya dan Kinar ke Bali esok hari. Ia menelepon Bi sri--orang yang menjaga dan membersihkan villa milik keluarga Ghifari di Bali agar menyiapkan villa dalam keadaan siap huni, Radit juga memesan tiket pesawat.
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Kinar malam harinya ketika dilihanya koper berukuran sedang yang sudah diisi dengan pakaian sang suami dan dirinya.
"Honeymoon!" sahut Radit sambil menutup resleting koper.
"Apa? Kok mendadak?" ucap Kinar setengah kaget. Lelaki itu tidak membicarakan dulu dengannya akan rencana honeymoon ini.
"Gak mendadak kok. Memang sudah direncanain dari dua bulan lalu," sahut Radit menatap sang istri.
Kinar mengangguk juga pada akhirnya. Honeymoon? Ah, dia jadi tidak sabar menikmati quality time nga berdua dengan sang suami.
Hari ini mereka pun sampai di Bali. Alan tidak ikut tentunya. Mereka memggunakan perjalanan udara kurang lebih dua jam. Di bandara mereka naik taksi online hingga sampai di sebuah villa yang cukup mewah yang sekelilingnya ditumbuhi tanaman hijau.
__ADS_1
"Bagaimana? Kamu senang?" tanya Radit ketika mereka turun dari mobil dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju villa. Koper mereka sudah dibawa oleh suami Bi Sri.
"Senang. Aku gak tahu kalau keluarga Mas punya villa sebagus ini, tempatnya juga asri banget," sahut Kinar antusias. Binar cerah tak dapat ia sembunyikan. Radit ikut senang melihat sang istri begitu antusias.
"Mas gak sabar loh nanti malam!" bisik lelaki itu dengan senyum penuh kelicikan.
"Mas, masih siang jangan godain, ya!" sungut Kinar dengan netra memicing.
Radit terkekeh. Menggengam tangan Kinar kembali melangkah mendekati villa.
"Sudah. Yuk kita masuk dulu."
Mereka disambut oleh Bi Sri di teras. Senyum ramah Bi Sri dibalas dengan ramah juga oleh Radit dan Kinar.
"Bi, kenalkan ini istri saya!" ucap Radit merangkul bahu sang istri.
"Cantik ya, Mbak Kinar! Semoga nyaman di sini ya, Mbak!"
Kinar mengangguk. Mereka pun diantar menuju kamar yang sudah dibersihkan. Sebenarnya villa ini tiap hari dibersihkan jadi tidak seperti tempat yang jarang dihuni. Villa ini juga kadang disewakan jika ada yang butuh tempat penginapan dengan suasana tang asri dan nyaman.
"Mas, ayo bangun! Ini sudah siang loh aku lapar!" Kinar mengguncang lengan kekar Radit yang tidur menelungkup.
Ini sudah jam setengah sembilan pagi. Ya, mereka semalam begitu brutal menikmati manisnya madu, memang benar-benar seperti pengantin baru saja. Kinar rasa, pengantin baru mungkin tidak segila mereka semalam. Gila saja, sang suami mengajaknya mencoba berbagai gaya, hingga mereka baru terlelap jam setengah tiga pagi.
"Mas, ayo bangun aku sama anakmu lapar loh!" rengek Kinar kembali mengguncang lengan Radit yang masih memejamkan mata.
__ADS_1
Radit pun membuka matanya. Tidak tega mendengar suara istrinya yang sepertinya memang sangat kelaparan. Radit mengambil posisi duduk, tubuh bagian atasnya yang telanjang terpampang di depan Kinar. Lelaki itu hanya mengenakan boxser selututnya.
Kinar memerah tentunya. Melihat dada bidang sang suami juga mengingat percintaan mereka semalam. Duh, padahal mereka bukan lagi pengantin baru, tapi Kinar masih saja suka malu-malu begini.
"Kamu sudah mandi?" Radit melihat rambut basah Kinar juga pakaian yang dikenakan wanita itu yang bukan pakaian semalam.
Kinar mengangguk. Dia membuka koper mereka, menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Radit pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kenapa? Makanannya gak enak?" tanya Radit melihat Kinar yang menghentikam suapannya, dan malah melihat pada piring sang suami.
"Kok punya Mas kayaknya lebih enak deh! Tukeran boleh?"
Radit menatap bingung. Makannan di piringnya sudah setengah, sedang yang Kinar malah masih tampak utuh, hanya dimakan dua atau tiga suap oleh wanita itu.
"Ini makanannya sama loh, Sayang!" ucap Radit bingung.
Kinar memberengut, "ya tapi kan aku pengen makan yang punya, Mas!"
Radit tahu ini mungkin hormon si ibu hamil. Karena tidak ingin merusak mood Kinar, dia pun menukar piringnya dengan Kinar sehingga piring berisi nasi gorengnya sudah di hadapan Kinar. Wanita itu pun langsung memakan nasi gorengnya dengan lahap. Ini sebenarnya sarapan yang sudah sangat telat, ya mau gimana lagi.
"Pelan-pelan!" peringat Radit melihat Kinar hang begitu lahap, dan malah nambah dengan menyendok nasi goreng miliknya. Ia pun kembali menyodorkan piring itu ke hadapan Kinar. Sepertinya istrinya begitu amat kelaparan.
"Loh?" Kinar menatap bingung.
"Habisin! Mas sudah kenyang. Kamu sama dedek bayi harus sehat dan dapat makanan yang cukup."
__ADS_1
Kinar tersenyum senang. Langsung melahap kembali nasi goreng di piring yang tadi Radit sodorkan, sedang piring yang sudah kosong sudah ia pinggirkan ke samping.
...Bersambung.... ...