
"Kinar, temani saya, ya! Gak apa-apa Alan diajak saja, Bi Isah ikut kok."
Kinar yang sedang bermain bersama Alan di gazebo menatap bingung Ibu Sonia. Wanita baya itu sudah rapi dan siap akan pergi.
"Kemana, Bu?" tanyanya.
"Fitting baju pengantin di butik," sahut Ibu Sonia santai, tanpa melihat ekspresi masam di wajah Kinar. Dia malah menggendong Alan dan menciumi wajah balita itu.
"Ehm sama Bi Isah saja ya, Bu!" tolak Kinar. Mana mau dia diajak menemani fitting baju pengantin untuk madunya. Dia masih cukup waras untuk tidak membuat sakit hati diri sendiri.
"Gak bisalah. Bukan Bi Isah yang bakal fitting, kan kamu yang peng--" Ibu Sonia langsung menutup mulutnya dengan satu tangan. Hampir saja dia keceplosan dan mengatakan jika Kinar yang akan fitting baju. Bisa gagal total rencananya memberiakn kejutan manis pada Kinar dan Radit jika dia sampai membuka sendiri rencananya.
"Ah pokoknya kamu harus ikut! Siap-siap sana!" ucap Ibu Sonia segera mendesak Kinar.
Kinar menghela napas pasrah. Dia pun berlalu masuk ke dalam rumah, dan menuju kamarnya untuk mengganti baju juga membawa tas slempang kecil yang berisi Hp juga dompet. Ya, dia digaji bekerja sebagai Ibu Asuh untuk putranya sendiri saat itu, gajinya lumayan. Namun, setelah dia membongkar semua tentamg h bungannya dengan Radit juga tentang Alan yang merupakan putra kandungnya, dia menolak saat Ibu Sonia menyerahkan uang itu padanya. Dia malah merasa seperti Ibu yang kejam, menyusi anaknya sendiri dengan menerima uang. Tetapi, Ibu Sonia tetap memeberikannya uang itu, dan Kinar menerimanya karena terus didesak.
"Alan masih nyusu sama kamu, Kin?" tanya Ibu Sonia saat mereka di perjalanan menuju butik. Kinar duduk di belakang bersama Bi Isah, dan Ibu Sonia duduk di depan di samping sopir.
"Masih, Bu. Kadang dia ngambek kalau cuma dikasih susu formula," jawab Kinar jujur. Alan tampak anteng di gendongamnya.
"Tapi kamu lagi hamil loh. Nggak bahaya, kan?" tanya Ibu Sonia tetap santai, padahal terselip nada cemas yang tak kentara di nada suaranya itu.
"Kata Dokter Leni aman, Bu. Boleh berhenti kalau dirasa sudah masuk trimester ketiga," sahut Kinar lagi.
Ibu Sonia pun mengangguk paham. Mereka sampai di butik yang cukup terkenal di kota itu sepuluh menit kemudian. Kinar dan Bi Isah turun mengikuti Ibu Sonia. Alan sudah berpindah di gendongan Bi Isah, atas perintah Ibu Sonia.
"Hay, Lis! Sudah lama?" sapa Ibu Sonia pada Lilis ketika mereka memasuki gedung butik yang cukup mewah dan berkelas itu.
"Hay, Tan! Belum lama kok." Kedua orang itu seperti biasa, saling menempelkan pipi bercipika-cipiki seperti wanita kalangan atas lainnya.
"Kinar, apa kabar?" Lilis beralih pada Kinar yang berdiri berdampingan dengan Bi Isah di belakang Ibu Sonia.
"Baik, Lis." Kinar menyahut singkat.
"Kamu agak gendutan ya dari terakhir kita ketemuan," ucap Lilis menyuarakan pendapatnya. Meneliti tubuh Kinar yang memang agak berisi menurutnya.
__ADS_1
"Eh, iya!" Kinar menyahut kikuk dan salah tingkah.
"Lagi hamil lagi, Lis!" bisik Ibu Sonia pada Lilis yang cukup didengar oleh Kinar.
"Oh, wow! Tokcer juga ya si Radit," ucap Lilis menganga takjub.
"Eh, Lis--" Kinar hendak menjelaskan, tapi segera dipotong oleh Lilis.
"Iya. Aku tahu kok hubungan kamu sama Radit. No problem, pernikahan kami tetap akan dilaksanakan," ucapnya santai. Beda halnya dengan Kinar yang menghela napas kesal.
"Sudah. Yuk kita coba bajunya!" ucap Ibu Sonia menarik lenga Kinar untuk masuk ke ruangan penuh pakaian di lantai dua.
"Eh, Bu! Saya tunggu sini saja bareng Bi Isah," tolak Kinar mencoba melepas genggaman Ibu Sonia di lengannya.
"Lah, gak bisalah. Ayo, kamu juga ikut ke dalam buat beri penilaian juga terus pilih yang mana menurut kamu bagus." Ibu Sonia tak ingin ditolak.
"Tapi, Bu--"
"Gak ada bantahan ya, Kin!"
"Hey, apa kabar nih, Nia? Sudah mau dapet mantu aja ya kamu."
Ibu Sonia kembali saling menyapa dan saling menempelkan pipi dengan wanita baya seumurannya. Kinar tebak sebagai pemilik butik ini.
"Baik, Pop!"
"Iya, dong. Cantik lagi orangnya, manis dan pengertian. Iya kan, Lis?" sahut Ibu Sonia mengerling penuh arti pada Lilis, lalu menoleh pada Kinar yang tampak asik memperhatikan deretan gaun pengantin di dalam lemari kaca.
"Tentu dong, Tan!" sahuy Lilis terkekeh. Paham akan maksud Ibu Sonia.
Lilis sedanh mengepas bajunya di dalam ruang ganti bersama Popi--Mamanya. Ya, butik ini adalah milik Mamanya Lilis. Ibu Sonia memang merencanakan hari ini berbarengan dengan Lilis yang akan melangsungkan pernikahan dua mingguan lagi.
"Kin, menurut kamu gaun yang cantik mana nih?" tanya Ibu Sonia mengajak Kinar melihat-lihat gaun-gaun putih indah yang terpajang di dalam lemari.
Kinar menoleh pada Ibu Sonia tak mengerti. Untuk apa meminta pendapatnya, kan yang mau fitting si Lilis, pikirnya.
__ADS_1
"Yang mana, Kin?" desak Ibu Sonia. Mereka berdiri di depan lemari kaca yang berisi gaun-gaun rancangan terbaru. Gaun esklusif yang belum dipamerkan ke pelanggan oleh Popi karena Ibu Sonia yang memintanya.
Kinar menunjuk gaun putih gading lengan panjang, dengan renda dan mutiara yang mengelilingi bagian pinggangnya. Gaun itu sudah menarik perhatiannya sejak pertama dia masuk ke ruangan itu.
Ibu Sonia mengangguk, "pilihan bagus!"
"Mbak, gaun yang itu! Tolong dibantu ya menantu saya untuk mengepasnya!" titah Ibu Sonia pada pramuniaga yang dari tadi mengikuti mereka, sambil menunjuk gaun yang tadi Kinar tunjuk.
Pramuniaga mengangguk. Dia menarik lengan Kinar yang kebingungan untuk mengikutinya. Sedangkan, Ibu Sonia hanya mengulas senyum penuh arti.
"Mau saya bantu, Mbak pakainya?"
Kinar menggeleng. Meski masih dilanda bingung, dia tetap juga mencoba gaun yang diberikan oleh pramuniaga itu. Sesuai dugaannya, gaun itu pas sekali dengan tubuhnya, dan Kinar merasa ini mimpi melihat pantulan dirinya di cermin.
"Cantik, Mbak! Cocok dan pas banget sama, Mbak!" puji si pramuniaga yang menemaninya di ruang ganti.
Kinar mengangguk. Andai saja gaun ini ia yang akan mengenakannya, sayangnya gaun ini nanti mungkin akan digunakan oleh Lilis di hari pernikahannya.
"Ayo, Mbak! Kita keluar dulu dan perlihatkan pada Ibu Sonia!" Kinar berjalan dibantu oleh pramuniaga itu. Karena gaunnya yang panjang menjuntai sedikit menghalangi langkahnya.
"Ini, Bu! Cantik, kan?" ucap si pramuniaga menarik perhatian Ibu Sonia yang duduk di sofa yang tersedia.
Ibu Sonia menoleh pada Kinar yang menatapnya penuh kebingungan, dan ia mengangguk puas melihat gaun itu pas dan cocok dikenakan oleh Kinar.
"Saya ambil yang itu, Mbak!" sahut Ibu Sonia dengan tangan bersedekap.
Si pramuniaga mengangguk riang. Dia kembali membantu Kinar melepaskan gaun indah itu, dan membungkusnya dengan baik. Kinar semakin kebingungan karena Lilis hanya duduk santai saja di samping Ibu Sonia ketika dia keluar dari ruang ganti.
"Sudah, Kin?" tanya Ibu Sonia menoleh pada Kinar.
Kinar mengangguk saja. Mereka melakukan pembayaran dan sebagainya, dan totebag berisi gaun pengantin itu sudah di tangan Ibu Sonia, dan mereka pulang setelahnya. Lilis hanya melambaikan tangan pada mereka dengan senyum terlalu cerah menurut Kinar. Perempuan itu tidak ikut pulang? Pikirnya.
...Bersambung.......
...Alhamdulillah gaesss sudah acc kontraknya, semoga saya makin semangat ya menghibur kalian dengan bacaan-bacaan receh ini, hihihi 😂...
__ADS_1