Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Melabrak Sang Dokter


__ADS_3

Dua hari pun berlalu begitu saja. Kinar masih menempati rumah yang diberikan Dokter Radit atas namanya. Dia akan mengembalikan rumah ini pada lelaki itu. Hari ini dia sudah bersiap akan ke rumah sakit untuk menemui Dokter Radit, entah dengan cara apapun dia akan menemui lelaki itu.


Menggunakan celana kulot berwarna coklat susu, dan kemeja polos berwarna biru muda, dan rambut yang dijepit sebagian, penampilan perempuan itu tampak fresh. Tapi, wajah datarnya membuat orang yang melewatinya tak berani untuk menegur perempuan itu.


"Kinar!"


Kinar baru saja hendak masuk ke dalam lift ketika Dokter Ririn menghentikan langkahnya. Dia hanya menatap datar pada dokter itu.


"Sudah kubilang bukan? Dokter Radit hanya menginginkan anaknya, bukan dirimu! Ternyata tak cukup memisahkanmu dengam anakmu, Radit juga ikut memecatmu ternyata. Kasihan sekali kamu, Kinar!"


Ejekan dan hinaan dari Dokter Ririn membuat Kinar tersenyum menyeringai, menatap datar perempuan bersneli dokter di depannya itu.


"Anda menghina saya karena Anda tak cukup baik dari saya. Setidaknya... Saya bisa merasakan berbagi ranjang dan keringat dengan suami saya," balas Kinar telak dan berlalu masuk ke dalam lift meninggalkan Dokter Ririn yang mengepalkan tangan.

__ADS_1


Kinar sampai di depan ruangan Dokter Radit, yang untungnya kali ini tak terkunci. Dia tak berniat untuk mengetuk dulu pintu cokelat itu, dan langsung saja membukanya kasar. Netranya langsung bertemu dengan netra Doktet Radit ketika ia melangkah masuk. Lelaki itu duduk di kursi kerjanya.


Kinar melempar map di tangannya ke atas meja. Netra perempuan itu begitu datar dan dingin, tidak seperti biasanya.


"Saya tidak butuh itu semua! Saya mau kembalikan Alan dan saya akan melunasi semua uang yang Dokter berikan," ucap Kinar datar.


Dokter Radit tak menyahut. Dia masih menunduk menekuri handphonenya. Wajah lelaki itu datar, tapi raut lelah dapat Kinar tangkap di wajah Dokter Radit.


"Seharusnya semua resiko kamu pikirkan sejak awal. Bukan setelah semuanya terjadi baru kamu merasa menyesal, Kinar."


Kini keduanya saling berhadapan dengan tatapan yang sama-sama datar. Kinar mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak memukul lelaki di depannya yang begitu menyebalkan, tapi sayangnya dia cintai.


"Apakah satu tahun kita seatap tidak adakah sedikit pun perasaan Dokter pada saya?" tanya Kinar datar, tak tahan lagi menahan perasaannya seorang diri.

__ADS_1


Kinar menunggu suara lelaki itu, tapi sang dokter es itu hanya menatap Kinar datar. Ekspresinya tak terbaca, membuat Kinar ingin sekali mencakar wajah tampan di depannya ini.


"Apakah Dokter Radit tidak pernah merasakan sedikit saja perasan berdebar ketika kita bersama? Apakah hanya saya yang memiliki perasaan seperti itu?" teriak Kinar meluapkan semua amarah di dadanya.


Hening terjadi setelah itu. Kinar mengatur emosinya, dan napasnya yang naik turun karena berteriak tadi. Dia menunduk menyembunyikan netranya yang mulai berair.


"Sudah?" tanya lelaki itu akhirnya.


Kinar mengangkat kepalanya, ingin kembali meluapkan perasaanya, tapi semua ucapannya terhenti karena pelukan tiba-tiba dari Dokter Radit.


"Sebentar saja. Kamu bisa artikan sendiri bagaimana perasaan saya ini," ucap lelaki itu berbisik di balik telinga Kinar.


Keduanya terdiam masih dalam posisi berpelukan. Lalu setelah itu, Dokter Radit melepaskan pelukannya, dan wajah itu masih saja datar.

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2