Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Dokter Ardi Dijodohkan


__ADS_3

"Apa, Ma?" Ardi menatap Mamanya yang duduk di kursi seberang meja makan. Keduanya baru saja selesai menyelesaikan makan malam. Ia menatap meminta penjelasan akan apa yang Mamanya ucapkan sebelumnya.


"Mama sudah jodohkan kamu sama anak teman Mama," sahut Ibu Maria santai.


"Astaga, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya, Ma! Aku bisa cari pasanganku sendiri, gak perlu Mama pakai acara jodoh-jodohin segala!" ucap Ardi kesal.


"Tidak ada bantahan, Ar. Kamu harus segera move on dari Suster Kinar dan memulai kisah baru," ujar Ibu Maria tegas.


"Tapi gak dengan cara jodoh-jodohan seperti ini juga, Ma!" Ardi menyandarkan punggungnya lelah. Apa-apaan sih Mamanya ini? Dia bukannya lelaki yang tak laku sehingga harus dicarikan pasangan seperti ini.


"Mama gak percaya kamu akan menikah kalau gak dijodohin gini. Umurmu sudah matang dan Mama kian menua. Ibu Maria menurunkan nada bicaranya.


"Huh! Ok. Terserah, Mama! Aku akan menuruti apa yang menurut Mama baik," sahut Ardi pada akhirnya. Baiklah, dia akan sedikit berbakti untuk kali ini. Semoga saja dengan perjodohan ini dia bisa melupakan Suster Kinar seperti yang Mamanya katakan. Jahat memang jika calon istrinya itu tahu.


"Besok malam kita ke rumah teman Mama itu!"


Setelah percakapan malam itu, esok malamnya Ardi dan Mamanya menyambangi kediaman teman sang Mama. Mereka disambut hangat oleh wanita seumuran Mamanya.


"Wah ini Dokter Ardiansyah yang selalu dibilangin itu ya, Mbak?" ucap Tante Popy--teman Mamanya.


"Iya, Pop. Ganteng kan anakku!" sahut Ibu Maria antusias.


Ardi dan perempuan berhijab di samping Tante Popy itu hanya diam saja mendengarkan percakapan dua wanita baya itu. Sedangkan, pria baya yang merupakan suami Tante Popy juga tampak menyimak saja. Om Feri namanya.


"Ini mah mirip oppa-oppa korea yang sering kutonton itu loh, Mbak! Wajahnya ini kok putih mulus banget sih. Jadi ngiri deh Tante!"


Ardi hanya melempar senyum manisnya sungkan pada Tante Popy yang terus memujinya.

__ADS_1


"Oh ya kenalin ini anak Tante. Lis, kenalan sono sama calon suami!" Tante Popy segera menyenggol lengan putrinya.


Perempuan berhijab pashmina yang tadi menunduk kini mendongak dengan senyum canggung. Mengulurkan tangan di hadapan Ardi, yang disambut lelaki itu ramah.


"Lilis, Dok!" ucapnya.


"Ardi!" sahut Ardi setelahnya melepaskan jabatan tangan mereka.


"Duh masih canggung banget ya. Nanti kalian jalan bareng lah buat pendekatan," ucap Tante Popy menggoda dua anak muda itu.


"Nanti kalau sudah klop biar Mama sama Tante Popy bisa urus persiapannya," sahut Ibu Maria dengan senyum bahagianya.


Lalu setelah menikmati kudapan dan makan malam, Ardi diberi waktu untuk berbicara dengan perempuan bernama Lilis itu. Perempuan berhijab itu cantis dan manis dengan lesung pipinya. Ardi mengakui kecantikan yang dimiliki Lilis, tapi jujur saja tak ada debar-debar aneh di dadanya. Ia hanya merasa biasa saja.


"Kenapa kamu setuju dengan perjodohan konyol ini?" tanya Ardi ketika ia dan Lilis duduk mengobrol di taman depan rumah Tante Popy


"Sama. Mama terus desak saya buat segera menikah dan umur pun sudah kepala tiga," jawab Ardi dengan kekehan.


"Berarti kita memang cocok, kan?"


"Bisa jadi."


"Ya sudah. Kita terima saja perjodohan ini dengan tunangan terlebih dulu. Bagaimana?" tanya Lilis to the poin. Tipe perempuan yang gak suka basa-basi.


"Saya setuju. Sudah bukan waktunya lagi kita buat pacaran." Ardi mengakhiri percakaoan mereka malam itu dengan pengakuan jika mereka akan segera bertunangan.


...______...

__ADS_1


"Lin, Dokter Ardi mau tunangan loh minggu depan. Kenapa ya yang ganteng-ganteng sudah pada taken semua?"


"Oh ya? Dapet info darimana, Mbak?" tanya Suster Lina sambil menyusun obat-obatan. Seolah tak peduli, padahal jantungnya berdebar tak mengenakkan.


"Tadi waktu dia lewat sambil ngobrol sama Dokter senior aku dengar mereka ngomongin acara tunangannya Dokter Ardi," sahut Suster Shela.


"Kamu sendiri sudah punya pacar belum, Lin?" tanya Suster Shela lagi.


"Boro-boro mikiran pacar, Mbak. Masih bisa makan dan penuhi kebutuhan adik-adik saja sudah syukur." Suster Lina memyahut dengan kekehan miris.


"Sabar ya, Lin. Nanti ada masanya kamu bisa dapetin pria yang baik dan mau menjadi sandaran buat kamu berkeluh kesah menikmati sisa hidup ini," ujar Suster Shela menepuk pundaknya menyemangati.


"Wah, Mbak Shela. Aku jadi terhura!" Suster Lina memeluk lengan rekannya dengan wajah menggoda.


"Aish, orang serius malah bercanda ini anak!" Suster Shela menyentil kening Suster Lina gemas.


"Hehehe, sorry! Mbak sendiri gimana? Kapan ini hari H-nya?" tanya Suster Lina melepaskan tangannya yang tadi memeluk lengan seniornya.


"Bulan depan, Lin. Nanti kamu jadi bridesmaid, ya!"


Suster Lina mengangguk antusias. Kendati dia pandai menyembunyikan wajah patah hatinya mengetahui sang pujaan hati akan bertunangan dengan perempuan lain.


"Gak ada harapan, Lin! Sudah ikhlasin, siapa tahu nanti dapet yang lebih baik!"


...Bersambung.......


...Nah sudah tahu kan muaranya kisah Dokter satu ini? Siap-siapin tisu lah ya siapa tahu nanti kalian mewek 😂...

__ADS_1


__ADS_2