Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Suster Lina Indriani


__ADS_3

...Ada yg bener tuh jawab di bab kemarin. Nanti habis lebaran saya kasih hadiah lah, sambil ngumpulin lagi pembaca setia yg komennya bikin senyum² 😅...


"Dokter Ardi!"


Lelaki itu segera menoleh pada orang yang memanggil namanya. Dokter Ardu berbalik dengan salah satu tangan berada di kantong sneli dokternya.


"Ya, Dokter Ririn? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah seperti biasa.


"Bisa kita bicara sebentar?" Wanita cantik dengan rambut sebahu itu menatap intens Dokter Ardi.


"Bisa. Kebetulan saya sedang luang," sahut Dokter Ardi.


Keduanya berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit. Kebetulan masih lengang karena belum waktunya jam makan siang.


"Bisa Dokter bantu saya?" ucap Dokter Ririn menatap lelaki di hadapannya tanpa ekspresi.


"Bantu dalam hal apa? Akan saya usahakan jika mampu," sahut Dokter Ardi ramah.


"Nikahi saya, Dok!"


"Anda bercanda, Dokter Ririn?" Kekagetan tampak dalam nada suara Dokter Ardi.


"Saya serius. Nikahi saya, Dok! Saya mau lepas dari mantan suami saya yang terus mengejar-ngejar saya!" Dokter Ririn menjawab yakin.


Dokter Ardi menggeleng, "jangan gila, Dokter Ririn! Saya menikah bukan untuk hal main-main seperti itu. Maaf, saya tidak bisa membantu Anda," jawab lelaki itu dan bangkit berdiri meninggalkan Dokter Ririn yang tertunduk di tempat duduknya.


Dokter Ardi berjalan dengan dada bergemuruh kesal. Apa-apaan itu Dokter Ririn tiba-tiba meminta dia menikahinya. Mereka bahkan tidak terlalu dekat, dan hanya saling menegur atau berdiskusi jika dalam satu tim di ruang operasi saja. Walau Ardi akui jika Dokter Ririn cantik tanpa cela, tapi ia juga tidak ingin menikahi perempuan hanya karena wajahnya yang cantik.


Karena terlalu kesal, lelaki itu menabrak seseorang yang melewatinya. Dia mendelik kesal.


"Lihat-lihat kalau jalan, Sus!" ujarnya dingin saat tahu siapa yang menabraknya. Suster Lina yang berwajah topeng. Ardi jadi tidak respek lagi pada perawat itu karena ia mendengar perempuan itu bergosip membicarakannya dan juga Suster Kinar.


"Ma--maaf, Dok!"

__ADS_1


Perempuan itu menunduk, membuat Ardi kian geram. Dasar tidak sopan!


"Minggir! Saya mau lewat!"


Suster Lina segera menyingkir. Lalu pria itu berlalu melewati Suster Lina dengan langkah-langkah lebarnya.


"Ya ampun, ganteng-ganteng ternyata galak juga. Coba kalau wajahnya jelek, sudah kulempar sama sepatuku ini," sungut Suster Lina kesal.


Lina Indriani. Perempuan berusia 27 tahun itu menatap punggung Dokter Ardi yang sudah menghilang di balik tikungan. Perempuan itu menghela napas, mengatur perasaanya sendiri. Dia sudah lama menaruh perasaan berlebih pada lelaki itu, sejak pertemuan pertama mereka ketika ia baru saja melamar di rumah sakit ini. Pria itu begitu ramah senyum saat itu, membantunya kala ia kesusahan mencari ruang HRD.


Sudahlah, Lina tak berharap banyak. Dia tidak sepadan dengan lelaki itu. Dokter Ardi berasal dari keluarga terpandang juga berada, sedang dirinya hanyalah seorang yatim piatu yang harus membiayai sekolah kedua adiknya. Dia tidak cukup pantas jika mengharapkan jodoh seperti lelaki itu.


Suster Lina kembali meneruskan langkahnya. Lalu netranya berbinar melihat sosok wanita hamil yang begitu ia kenali. Langkahnya dipercepat untuk menyusul si wanita yang hampir melewati tikungan koridor.


"Kinar!" serunya antusias.


Wanita hamil itu menghentikan langkah dan menoleh padanya. Suster Lina langsung memeluk erat rekan setianya itu.


"Ih lebay banget, Mbak! Baru juga sebulan ditinggal cuti masa sudah kangen aja," sahut Suster Kinar terkekeh.


Suster Lina melepaskan pelukannya, dan meneliti tubuh yang sudah berisi ditambah perut membuncit rekannya.


"Ya gimana dong kalau kangen gak ada yang bisa cegah. Eh kamu ke sini ngapain? Sama siapa? Gak sama suami kamu, Kin?" tanya Suster Lina memberondong Kinar.


"Mau cek kandungan, Mbak. Gak... Dia lagi kerja!" sahut Kinar.


Suster Lina mengernyitkan keningnya, wajahnya tampak merengut tak suka.


"Kerja terus perasaan. Dia gak pernah loh sekali pun nemenin kamu periksa, emangnya kerja apa itu suamimu masa sibuk banget sampai gak sempetin waktu buat nemenin istrinya untuk cek kandungan," ujar Suster Lina menyerocos panjang.


"Ehm itu...."


"Suster Kinar!"

__ADS_1


Kedua perempuan itu menoleh ke sumber suara. Dokter Ardi mendekati keduanya dengan kedua tangan yang tersembunyi di balik kantong snelinya.


"Mantan gebetan tuh, Kin!" bisik Suster Lina menyenggol lengan Kinar pelan.


Suster Lina mengalihkan pandangan agar tak bersitatap dengan lelaki yang beberapa menit lalu bertabrakan dengannya.


"Mau cek kandungan, ya?" tanya Dokter Ardi basa-basi.


Kinar hanya mengangguk singkat. Sedang, Suster Lina di sampingnya memperhatikan interaksi dua orang itu dengan perasaan iri yang tak terlihat.


Lalu setelahnya lelaki itu kembali berlalu melewati kedua perempuan itu dengan melempar senyum ramahnya pada Kinar, dan mengabaikan keberadaan Suster Lina.


"Dokter Ardi boleh buat gue gak sih, Kin?" bisik Suster Lina pada Kinar dengan mengulum senyum malu.


"Boleh dong! Dokter Ardi ini Suster Li--"


Suster Lina langsung menutup mulut Kinar panik, dan mendelik kesal pada rekannya. Untung saja Dokter Ardi sudah tak terlihat lagi keberadaannya.


"Ngeselin deh, Kin. Gue kan bercanda!" ujar Suster Lina setelah melepaskan tangannya dari mulut Kinar.


Suster Lina berlalu pergi karena tidak ingin ketahuan Kinar kalau wajahnya kini memerah malu.


Suster Kinar menahan senyum, "beneran juga gak apa-apa kali, Mbak! Dokter Ardi masih single tuh kayaknya, ibunya juga baik loh buat dijadiin mertua!" goda Kinar.


"Nanti aku salamin ya, Mbak!" teriak Kinar yang dihadiahi kepalan tangan oleh Suster Lina yang sudah berjalan memasuki lift.


Suster Lina mengusap dadanya yang masih berdebar karena melihat Dokter Ardi juga godaan dari Kinar tadi. Perempuan itu menyandarkan punggung di dinding lift, menghela napasnya lelah.


"Bisa gak sih gue dapet jodoh anak sultan? Biar gak capek kerja terus!" lirih perempuan itu menunduk menatap ujung sepatunya yang sudah beberapa kali ia tambal dengan lem perekat karena ujungnya sudah menganga bak mulut buaya.


Denting lift yang terbuka segera menyadarkan Suster Lina dari lamunannya. Perempuan itu kembali mengais semangat di dadanya untuk kembali bekerja. Inilah hidupnya, yang beruntung bisa kuliah di prodi keperawatan dengan jalur beasiswa dan lulus dengan tepat waktu, juga bisa bekerja di rumah sakit ternama ini. Sejak orang tuanya meninggal 10 tahun lalu, dirinya inilah yang menjadi tulang punggung keluarga menghidupi kedua adiknya yang saat itu berumur 8 tahun dan 12 tahun. Viona adik tertuanya kini sudah kuliah semester 2 lewat jalur beasiswa, dan Haikal kini akan lulus SMA. di balik itu semua, Lina bersyukur masih memiliki kedua adiknya yang menemani dirinya di dunia ini. Entah akan jadi apa ia jika hanya ditinggal sendirian, apalagi orang tuanya adalah anak rantauan dan juga tak punya saudara lagi.


...Bersambung.... ...

__ADS_1


__ADS_2