Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Langkah Awal


__ADS_3

Dokter Ardi sudah beberapa hari ini tidak melihat Suster Kinar dari pandangan matanya. Kemarin-kemarin dia masih melihat perempuan itu, tapi beberapa hari ini keberadaan perempuan itu hilang. Untung menuntaskan rasa penasarannya, Dokter Ardi pun menemui Suster Lina--rekan terdekat Suster Kinar.


"Suster Kinar dipecat?" ucap lelaki itu terkejut mendapatkan penjelasan dari Suster Lina jika Kinar dipecat.


"Iya, Dok. Sudah dari tiga hari yang lalu," sahut Suster Lina.


"Atas kesalahan apa dia dipecat?" tanya Dokter Ardi penasaran. Setahunya, Suster Kinar termasuk staf yang rajin dan ulet.


"Saya nggak tahu. Dokter Ardi bisa tanyakan langsung pada direktur rumah sakit," sahut Suster Lina menunduk.


Dokter Ardi mengangguk paham. Dia mengerti sekarang, kenapa Kinar dipecat, pasti ini campur tangan Dokter Radit, pikirnya. Ya, wajar saja, perempuan itu sudah melahirkan, dan harus mengurus anaknya. Mana bisa Dokter Radit membiarkan istrinya bekerja sedang anaknya ditinggal di rumah. Sepertinya dia harus berhenti untuk penasaran pada Suster Kinar yang sudah menjadi milik orang lain.


Sedang di ruangannya, Dokter Radit berhadapan dengan Dokter Ririn yang tampak berwajah kesal dan tak terima.


"Radit, apa maksudnya ini?" tanya Dokter Ririn menunjukkan amplop berlogo rumah sakit.

__ADS_1


"Surat pemindahanmu! Minggu depan kamu sudah tidak lagi di sini," sahut Dokter Radit datar.


"Tapi kenapa? Kamu merasa terganggu dengan adanya aku di dekatmu karena kamu masih mencintaiku?" ucap Dokter Ririn, menatap Dokter Radit serius.


"Omong kosong macam apa itu? Aku sudah tidak lagi mencintaimu. Aku memindahkanmu agar kamu tidak lagi mengganggu ketenangan Kinar," sahut Radit menajamkan netranya menatap Dokter Ririn.


"Kamu benar-benar sudah jatuh cinta padanya?" Dokter Ririn tampak merasa tak terima.


"Kenapa? Dia istriku, wajar kalau aku mencintainya." Dokter Radit menyahut dengan nada dingin.


"Sudan tidak ada lagi yang ingin dikatakan? Kamu boleh pergi sekarang!" usir Dokter Radit menunjuk pintu ruangannya.


"Baiklah. Mungkin kita memang tidak berjodoh, Dit. Maaf sudah mengusik ketenanganmu. Aku pamit, Dit!" ucap Dokter Ririn pada akhirnya. Tidak ada lagi yang harus ia lakukan, jika lelaki itu sudah berhenti mencintainya. Mungkin, mereka memang tak ditakdirkan untuk bersama. Ini juga salahnya, jadi dia harus menerima konsekuensi itu.


Setelah Dokter Ririn keluar, Radit bisa mengembuskan napasnya lega. Setidaknya ia sudah mengikuti saran dari Om Hendra. Langkah pertama sebelum ia memulai kisah baru.

__ADS_1


"Mari kita mulai kisah baru, Kinar!" gumam lelaki itu menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah Kinar yang menggendong Alan. Foto ini dia dapatkan dengan diam-diam. Ya, dia mengambil foto itu ketika Kinar sedang menimang-nimang putranya.


Kini, usia Alan sudah masuk di bulan ketiga. Balita itu tampak begitu montok, dan menggemaskan. Kinar juga selalu menghindar jika bertemu Dokter Radit, lebih kepada dia masih sakit hati akan ulah lelaki dingin itu. Jadi, selama kurang lebih tiga bulan ini ia terus menghindar dan mengacuhkan lelaki itu. Biar saja, biar si dokter itu merasakan juga tidak enaknya dicuekin.


"Ululuh, cucu Nenek sudah wangi ya sudah mandi hm? Ini pipi montok banget sih, sayang dikasih apa saja kamu samu Bunda, hm?"


Kinar hanya terkekeh mendengar ucapan Ibu Sonia. Oh ya, hubungannya cukuo dekat dengan Ibu Sonia. Wanita baya itu begitu ramah dan juga baik, beda banget sama anaknya yang sering ngeselin itu.


"Dikasih mimi susu dong, Nek!" sahut Kinar menirukan suara anak kecil.


Mereka sedang duduk di gazebo, menikmati suasana segarnya pagi hari. Saat asik bercengkrama dengan baby Alan, suara seorang perempuan menginterupsi mereka.


"Halo, selamat pagi Tante!"


...Bersambung.... ...

__ADS_1


Sekian, gaesss untuk hari ini. Nanti lah ya saya crazy up kalau kontrak karya ini sudah diacc. Doain aja cepat acc, soalnya sampai sekarang belum acc juga, masih badmood saya


__ADS_2