
Seminggu sudah setelah mereka mengulang akad dan melaksanakan resepsi sederhana di taman belakang rumah megah itu. Kinar dan Radit hanya menggeleng tak percaya akan semua rencana Ibu Sonia itu. Mereka menandatangi buku nikah yang ternyata sudah diurus oleh Ibu Sonia sendiri.
Kinar merasa lapar di jam 10 pagi setelah menidurkan Alan di kamarnya. Dokter Radit sendiri sudah berangkat ke rumah sakit. Lelaki itu sudah kembali bekerja dari tiga hari yang lalu, setelah libur beberapa hari. Oh, mereka belum sempat untuk berbulan madu. Mungkin nanti saat Alan sudah tidak rewel jika ditinggal oleh Kinar.
"Loh Mbak kok ke sini? Den Alan sama siapa?" tanya Bi Isah saat melihat Kinar memasuki dapur.
"Sudah tidur dia, Bi. Saya mau buat salad buah, Bi. Bibi lanjutin aja, aku gak ganggu, kan?" sahut Kinar mendekati Bi Noni yang sedang memasak. Sedang, Bi Isah yang tadi bertanya lagi mencuci beras.
"Eh gak kok, Mbak. Buahnya ada di kulkas,Mbak. Susu sama mayonesnya di lemari atas ya!"
"Ok, Bi!"
Kinar membuka kulkas. Mengeluarkan benerapa macam buah yang akan ia gunakan untuk membuat salad. Setelah itu dia menuju lemari atas dimana tempat susu dan mayones diletakkan. Karena tingginya yang tak sampai, Kinar menarik kursi bulat yang ada di pojok ruangan. Namun, naas musibah tak dapat dielak, wanita itu tergelincir dari kursi dan jatuh, tapi Kinar sigap menahan perutnya dengan tangan mengingat jika dirinya kini sedang hamil.
"Astagfirullah, Mbak Kinar! Noni, panggilin Nyonya sekarang!" teriak Bi Isah langsung mendekati Kinar yang terduduk di lantai. Bi Noni sigap segera mencari Ibu Sonia.
"Mbak berdarah, Mbak!" ucap Bi Isah panik.
"Bi!" Kinar ikut menoleh pada lantai yang ditunjuk oleh Bi Isah. Dia kini diserang panik.
Tidak lama, Ibu Sonia dan Bi Noni terhopoh memasuki dapur.
"Astagfirullah, Kinar! Apa yang terjadi! Cepat panggil Pak Dodi sekarang kita ke rumah sakit!" ucap Ibu Sonia tidak kalah panik. Segera ia memapah Kinar dibantu dengan Bi Isah. Sedangkan, Bi Noni memanggil sang sopir untuk menyiapkan mobil.
"Kamu pendarahan, Kinar!" ucap Ibu Sonia berteriak panik.
__ADS_1
"Bagaimana ini terjadi, Bi?" lanjutnya bertanya pada Bi Isah.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit sekarang. Kinar tak berani bersuara, hanya sesekali meringis menahan sakit di area perutnya. Semoga sjaa kandungannya tidak apa-apa.
"Mbak Kinar jatuh dari kursi, Bu waktu mau ambil susu sama mayones di lemari atas," sahut Bi Isah merasa berslah. Harusnya tadi dia membantu mengambilkan susu dan mayonesnya, maka kejadian seperti ini mungkin tidak akan terjadi.
"Astaga, ceroboh sekali kamu, Kin!" gumam Ibu Sonia yang duduk berdampingan di kursi belaknag dengan Kinar, dan memeluk bahu wanita itu.
Mereka sampai di rumah sakit milik keluarga Ghifari sepuluh menit kurang. Para Suster jaga yang sudah dihubungi oleh Ibu Sonia di dalam mobil tadi sudah menunggu di lobi dengan brankar dorong. Kinar langsung dinaikkan ke atas brankar dan dibawa ke ruang pemeriksaan darurat.
"Ma, apa yang terjadi?" tanya Radit menghampiri Mamanya ketika dia mendapatkan telepon dari sang Ibu jika Kinar sedang di rumah sakit, dan diperiksa.
"Kinar pendarahan. Sedang diperiksa sama Dokter Leni," sahut Ibu Sonia lesu.
"Mama yang harusnya tanya sama kamu. Istri sendiri hamil kenapa kamu gak tahu, hah?" ujar Ibu Sonia sedikit kesal.
"Kinar gak bilang sama aku, Ma!" gumam Radit.
"Kalian ini, ah sudahlah! Berdoa saja semoga kandungannya baik-baik saja!" Mama Sonia menghela napas lelah.
Hampir setengah jam mereka menunggu di ruang ICU, tapi belum juga ada tanda-tanda Dokter Leni akan keluar dari ruangan itu. Baru satu jam setelahnya, pintu itu pun terbuka. Dokter Leni keluar masih dengan baju steril dan masker medis menutupi setengah bagian wajahnya.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Radit bertanya cemas.
Dokter Leni membuka maskernya. Menghela napas sedikit lelah.
__ADS_1
"Untung cepat dibawa kemari, Dok. Telat sedikit kaliam pasti sudah kehilangan janinnya. Kinar bedrest dulu seminggu ini sampai kondisi tubuhnya kembali membaik, ya!" sahut Dokter Leni menjelaskan.
Dokter Radit mengangguk. Ibu Sonia yang ada di sampingmya pun bernapas lega. Setelahnya, Kinar dipindahkan ke ruang perawatan.
Radit masuk ke ruang vip satu dimana Kinar dirawat. Dia duduk di kursi samping brankar. Kinar sudah sadar sejam lalu setelah pendarahannya dihentikan.
"Mas, maaf!" ucap Kinar merasa bersalah. Karena kecerobohannya, mereka hampir saja kehilangan calon anak kedua mereka.
"Lain kali hati-hati, Kin! Kenapa kamu gak bilang padaku kalau sedang mengandung?" sahut Radit dengan lembut. Mengelus punggung tangan sang istri yang tidak tertancap jarum infus.
"Mas tahu kan kalau kita dipusingkan akan rencana Mama yang mau nikahin Mas sama Lilis. Aku jadi lupa untuk bilang dengan Mas kalau aku lagi hamil. Maaf, ya!" ujar Kinar mengatakan hal yang sebenarnya. Dia terlalu memikirkan akan pernikahan pura-pura itu, sehingga lupa memberitahukan akan kehamilannya.
"Kali ini dimaafkan. Berhenti ceroboh ya! Kamu sekarang lagi hamil, berhenti melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirimu sendiri juga kandunganmu," ucap Radit mengingatkan Kinar.
Kinar mengangguk.
"Mama mana?" tanyanya.
"Ke ruangan Papa. Sekarang istirahat lagi, kamu harus bedrest dulu kata Dokter Leni. Mas temani sampai kamu tertidur."
Kinar menurut, dan memejamkan matanya. Mungkin karena efek obat bius masih tersisa, Kinar kembali mengantuk, dan tak sampai lima menit, dia pun tertidur.
"Sayang kamu, Kin!" bisik Radit dan mengecup sayang kening sang istri.
...Bersambung.......
__ADS_1