
...Karena minggu-minggu ini sibuk banget kemungkinan up di minggu² ini bakal banyak bolong, gaesss. Gak sempat juga ngetik, mohon maaf ya, tungguin bab doublenya minggu kalau gak senin. ...
"Ma, kok bising banget di luar. Ada apaan?" tanya Kinar esok harinya ketika ia baru saja keluar dari kamar di jam setengah dua belas siang. Karena kesusahan tidur semalam, dia jadi begadang dan baru terlelap jam setengah dua belas malam, dan alhasil bangun kesiangan. Subuh tadi ia bangun, dan kembali tidur dan bangun lagi jam setengah sembilan. Lalu tidur lagi dan baru bangun sekarang di jam setengah dua belas siang.
"Tuh, pingnguin kamu sudah sampai!" sahut Ibu Sonia yang sedang menikmati cemilannya di ruang tamu.
"Hah? Beneran? Serius ini?" pekik Kinar senang.
"Iya, sana lihat!" Ibu Sonia mengangguk dengan senyum bahagia melihat keantusiasan menantunya.
Kinar pun berjalan dengan langkah cepat menuju pintu keluar rumah. Ibu Sonia segera menegur sang menantu yang lupa akan kehamilannya itu.
"Kin, jalannya jangan cepat-cepat, astaga!" teriak Ibu Sonia mengejar langkah Ku nar.
Kinar sampai di sebuah halaman samping rumah yang telah dibuatkan habitat untuk seekor pingnguin lucu itu. Beberapa pekerja rumah terkekeh melihat keantusiasan ibu hamil itu.
"Huwaaa! Ini beneran pingnguin, duh lucu banget!" gumam Kinar dengan menangkup pipinya sendiri gembira.
__ADS_1
"Nda, wuin wuin!" Alan yang sudah dari pagi tadi berada di sana bersama Bi Isah memeluk paha sang Ibu.
"Hehe, iya pingnguin, sayang! Sini, Bi! Alan sama saya dudukkin sini," Kinar meminta Bi Isah membawa Alan duduk di kursi panjang yang menghadap habitat si pingnguin.
"Kita telepon Ayahmu dulu, ya!" ucap Kinar mengeluarkan ponselnya yang ada di saku dasternya.
"Mas!" seru Kinar saat telepon tersambung.
"Pingnguinnya sudah sampai! Terima kasih, ya! Aku seneng banget," lanjut Kinar dengan antusias.
"Sama-sama, Bunda! Sudah makan siang?" tanya Radit di seberang dengan kekehan ringan.
"Makan dulu sana! Aku gak mau ya kamu lupa makan gini karena pingnguin itu," gerutu Radit di seberang sana.
"Iya nanti makan kok, Mas!" Kinar menyahut sambil menahan tubuh Alan yang mau turun dari kursi.
"Sekarang, Kin! Gak ada nanti-nantinya. Kamu lupa kalau nanti. Kalau sudah makan boleh lihat pingnguinnya lagi," titah Radit tak ingin dibantah.
__ADS_1
"Iya, ini mau makan kok, sudah ya. Aku tutup teleponnya, Mas! Assalamualaikum!"
Sambungan pun terputus setelah sahutan salamnya dibalas oleh sang suami. Kinar memangku Alan, sekali lagi menoleh pada si hewan lucu yang sedang asik makan.
"Ayahmu nyuruh makan, Nak. Alan sudah makan belum, Bi?" Kinar menoleh pada Bi Isah.
"Belum, Mbak."
"Ya, sudah. Alan makan sama saya saja, Bi. Yuk siapin makannya!"
Kinar menggendong Alan, padahal Bi Isah sudah meminta si balita itu agar dirinya saja yang menggendong, tapi Kinar menolak. Akhir-akhir ini waktunya bersama sang putra sedikit berkurang.
"Duh, Kin! Perutmu dah besar gitu, Alannya turunin saja sudah bisa jalan juga. Itu perutmu kegencet," ucap Ibu Sonia ketika Kinar memasuki rumah.
"Hehe, suka lupa, Ma!" kekeh Kinar dan menurunkan Alan.
"Kamu ini, jangan begitu lagi! Ini kehamilan kembar loh, berat!" ucap Ibu Sonia memgelus perut besar Kinar.
__ADS_1
"Iya, Ma. Ayo, kita makan siang dulu, itu bocah sudah lapar baget kayaknya!" Kinar menarik lengan mertuanya menuju meja makan. Memyusul Alan yang lebih dulu berjalan bersama Bi Isah.
...Bersambung.... ...