
Kinar baru pulang di jam setengah dua siang bersama Mama mertua. Ia menghampiri Radit yang duduk di gazebo sedang membaca kertas-kertas laporan rumah sakit. Kinar duduk di samping sang suami dengan wajah berseri. Benda kecil berwarna putih ada di genggaman tangannya.
"Mas, kalau aku hamil lagi gimana?" tanya Kinar tiba-tiba.
Radit menoleh, meletakkan kertas di tangannya.
"Ya, nggak apa-apa, Bun. Ayah masih sanggup nafkahin kalian kok. Apalagi kalau dikasih princess," sahut Radit dengan senyum manisnya.
"Ya sudah. Ini!" Kinar meletakkan benda yang sedari tadi ia genggam ke tangan Radit.
Radit tampak shock. Menatap benda di tangannya tak berkedip. Lalu kembali mengangkat pandangan ke arah Kinar.
"Kin, ini benaran? Kamu hamil?" tanya Dokter Radit dengan netra yang menunjukkan kebahagiaan.
Kinar mengangguk dengan senyum cerahnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Terima kasih, Sayang! Kamu sudah memeriksakannya?" ucap Radit memeluk sang istri dan melepaskannya kembali.
"Sudah. Tadi sama Mama sehabis dari butik langsung ke rumah sakit. Sudah 10 minggu kata Dokter Leni." Kinar menjelaskan dengan ceria.
"Alhamdulillah. Sekarang kamu harus jaga kesehatan dan kurangilah aktivitas berat, ya! Urusan masak biarin para Bibi yang ngurus kamu gak usah bantu-bantu dulu sampai lahiran. Untuk anak-anak juga kamu cukup awasin mereka, untuk urusan lainnya biar Bi Isah dan Bi Noni yang urus. Kamu paham, kan?" ujar Radit memberikan nasihat dengan mengusap sayang pipi sang istri.
"Ya ampun, Mas! Mulutnya cerewet banget. Aku paham kok. Aku akan menjaga kesehatan dan kandunganku baik-baik." Kinar menyahut dengan kekehan geli.
"Anak-anak pada kemana?" tanya Kinar.
"Mirip siapa tuh?" sindir Kinar menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Bukan Ayah. Ayah kan sekarang sudah jadi bucinnya Bunda!"
Kinar terkekeh mendengar sahutan suaminya.
__ADS_1
"Ya ampun kok mulutnya sekarang lemes banget ya gak nyelekit lagi," ucap Kinar dengan sindiran.
"Takut si bidadari ini diculik orang!"
Kinar tertawa bahagia. Ya, tak usah diragukan lagi jika si Dokter Radit yang dulunya bertampang datar dan suka ngomong nyelekit itu kini sudah jadi bucinnya Kinar. Jika mengingat tahun-tahun lalu saat mereka bertemu dan menikah siri Kinar jadi merasa sedih, tapi itu semua akan jadi kenangan mereka yang tak akan terlupakan. Awal-awal bertemu, awal jatuh cinta, dan awal dari semua kebahagiaan yang kini Kinar rasakan. Sebuah keluarga yang ia harapkan kini dia dapatkan dari seorang lelaki di sampingnya yang begitu ia cintai itu.
"Cinta kamu, Mas!" bisik Kinar lirih.
"Cinta kamu juga, Sayang!" Radit membalas sambil mengecup sayang puncak kepala istrinya yang masih menyandar di bahunya.
Kebahagiaan mereka sudah lengkap. Radit tidak ingin tamak meminta hal yang lain lagi. Mempunyai Kinar dan anak-anak yang sehat dan menggemaskan itu, ia sudah cukup bersyukur. Doanya hanya satu, agar ia bisa menua bersama Kinar dan melihat anak-anak mereka nanti duduk di pelaminan bersama pasangan-pasangan mereka. Cukup hal sesederhana itu.
...End Season 1...
Sudah, segini saja ya untuk season satunya. Nanti saya up lagi season dua untuk kisah Dokter Ardi. sampai ketemu di next bab ya, jangan dulu di hapus ini dari library nya karena season dua gak banyak-banyak kok, cuma side story aja. ok, see you gaess
__ADS_1