
"Kamu itu kerjanya perawat, tapi kok pakai sepatu buluk begitu, gak sinkron banget," ucap Mama Ria yang pagi Rabu ini cerewet ketika ia melihat sepatu yang Lina kenakan.
Sedangkan, Ardi ia tak mau mengomentari. Sejak menikahi wanita itu ia sudah meminta Lina untuk membeli keperluan apapun yang wanita itu inginkan dengan kartu ATM yang ia berikan. Namun, sampai saat ini ia belum melihat jika Lina berbelanja untuk diri wanita itu sendiri. Dia hanya berbelanja keperluan dapur, rumah, dan keperluan Dokter Ardi.
"Eh. Ini masih bagus kok, Ma! Ini sering kujahit sama tukang sol sepatu biar tahan lama," sahut Lina menatap flat shoes yang ia kenakan. Ia membawa 3 pasang flat shoes yang ia anggap masih cukup layak dan bagus untuk dipakai saat ia pindahan kemarin.
"Hari Minggu kamu libur, 'kan? Temani saya beli sepatu!" ucap Mama Ria datar.
"Maksudnya, Ma?"
"Jangan pura-pura gak dengar!" Wanita baya itu menyahut kesal sambil menyuap sarapannya.
Ardi diam-diam mengulum senyum. Dia tahu jika Mamanya mulai menerima kehadiran Lina di rumah ini dan juga sebagi menantunya. Hanya saja, sepertinya wanita berseragam perawat itu tidak menyadarinya.
Minggu yang Lina nantikan dengan senyum yang terus terkembang pun kini hadir. Ia sudah siap dengan stelan tunik berwarna dusty pagi ini. Mereka berangkat dengan sopir jam 10 pagi. Sedangkan, Dokter Ardi tidak ingin ikut ke acara belanjanya para perempuan itu. Namun, hal yang tak disangka terjadi. Ardi mendapatkan telepon dari Mamanya jika keadaan Lina tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Ardi! Temui kami di rumah sakit, kami sedang dalam perjalanan ke sana!"
"Ma, ada apa? Apa yang terjadi? Istriku tidak apa-apa, kan?" Dokter Ardi memberondong dengan suara cemas.
"Kamu akan tahu nanti. Cepat ke sini!"
Degup jantung karena cemas dan takut hal buruk terjadi dirasakan oleh pria berkepala tiga itu. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah sakit.
"Ma!" Ardi segera menghampiri Mamanya yang duduk di depan ruang ICU.
"Maaf, Ar. Lina tadi jatuh saat kami berbelanja karena kakinya tersandung ujung kursi," sahut Mama Ria dengan tangis.
"Ini salah Mama, Ar. Harusnya Mama bisa jaga istri kamu."
"Bukan salah Mama! Doakan saja semoga istri dan anakku baik-baik saja," gumam Dokter Ardi lirih.
__ADS_1
Sejujurnya ia pun sudah pasrah dan akan menerima jika hal paling buruk terjadi, seperti kehilangan calon anak mereka. Ini sudah takdirNya.
Dokter keluar setelah hampir satu jam mereka menunggu dengan cemas di depan ruangan itu. Kebetulan Mama Ria tidak membawa Lina ke rumah sakit RD Hospital. Mama Ria kalut, sehingga mendatangi rumah sakit paling dekat dengan lokasi mereka berbelanja tadi.
"Bagaimana, Dok?" tanya Dokter Ardi pada seorang dokter wanita paruh baya.
"Kondisi pasien sudah membaik, pendarahannya sudah dihentikan. Untung cepat dibawa kemari, sehingga janinnya masih bisa kami selamatkan."
Dokter Ardi hanya dapat mengembuskan napasnya yang tadi ia tahan. Sedangkan, Mama Ria sudah terduduk lemah di bangku besi. Keduanya tak ada yang bersuara, masih larut akan berita yang dokter tadi katakan. Merasa bersyukur dan masih menenangkan diri masing-masing karena tadi begitu amat cemas.
Pintu ICU kembali terbuka, brankar dorong yang di atasnya ditempati Lina dengan kondisi belum sadarkan diri kini dipindahkan ke ruang perawatan. Dokter Ardi menggenggam tangan Mamanya untuk mereka mengikuti para suster yang mendorong brankar.
...Bersambung.......
...Saya sibuk gaess jadi gak bisa up tiap hari 😠habis bulan april dan selesai S2 ini saya mau hiatus dulu kayaknya. maaf, ya bikin kalian nunggunya lama...
__ADS_1