
Hari ini pun tiba. Hari pernikahan si Dokter Radit. Kinar masih bergelung nyaman dalam selimutnya. Dia memang suka sekali tidur saat hamil. Kinar kira hanya saat mengandung Alan saja dia suka tidur, ternyata di kehamilan kedua ini juga dia masih suka sekali tidur.
"Mbak Kinar, lah kok belum bangun! Mbak, bangun!"
Suara Bi Isah juga guncangan pelan di lengannya mengusik tidur nyaman Kinar.
"Nanti, Bi! Masih ngantuk!" sahutnya masih dengan netra terpejam.
"Lah ini mau nikah toh, Mbak! Masa pengantinnya masih molor aja," ucp Bi Isah, yang samar-samar masih Kinar dengar.
"Lima men--"
Seolah sadar akan ucapan Bi Isah, Kinar langsung membuka mata dan menoleh pada si wanita baya itu yang duduk di samping ranjangnya.
"Apa, Bi?" gumanya bingung. 1.
"Itu periasnya sudah nunggu, Mbak! Buruan mandi ini mau nikah apa nggak?"
"Siapa yang mau nikah?" tanya Kinar kian bingung. Oh, dia lupa. Ini hari pernikahan Radit dan Lilis. Pantas saja Bi Isah membangunkannya.
"Lah Mbak Kinar lah! Masa Bibi," sahut Bi Isah enteng.
"Bi?" Kinar kian kebingungan. Kok dari tadi bilangnya dia terus sih yang mau nikah. Kan yang mau nikah itu si Dokter Radit, kenapa dia yang didesak-desak bangun gini.
"Sudah ayo mandi, Mbak! Nanti Nyonya marah kalau lama." Bi Isah menarik Kinar bangun dari kasurnya dan mendesak Kinar untuk segera mandi.
Di antara kebingungan itu, Kinar menurut dengan linglung. Dia mandi dan selesai sepuluh menit setelahnya. Dia semakin kebingungan karena tiga orang perias dan juga Bi Isah ada di kamarnya saat ia keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Ayo, Mbak! Duduk di sini biar segera dirias!" Bi Isah menuntun Kinar yang hanya mengenakan bathrobe untuk duduk di kursi meja riasnya.
Kinar pun di make up dan dibantu mengenakan gaun putih gading yang beberapa hari lalu dia coba di butik. Dia mulai paham akan semua ini setelah Bi Isah membisikinya jika dia yang akan jadi pengantinnya sang mempelai pria. Kinar tidak tahu harus mengekspresikan perasaan apa. Ada bingung, senang, juga debar-debar tak percaya. Ia merasa masih berada dalam dunia mimpi, tapi ini nyata. Tidak bisa ia sebut mimpi saat kakinya sendiri menjejak lantai, dan elusan penuh senyum Bi Isah yang menenangkannya.
"Senyum dong, Dit! Ini mau nikah loh, bukannya ngelayat. Mendung banget wajahnya," ucap Ibu Sonia yang membantu putranya itu bersiap. Penampilan pria itu sudah rapi dengan stelan baju berwarna putih gading, senada dengan gaun yang Kinar kenakan. Baju itu Ibu Sonia sendiri yang memesannya.
"Ma, batalin aja ya!" ucap Radit merengek bak anak kecil.
"Gak bisalah! Enak aja, Mama sudah mempersiapkan ini dari dua bulan lalu, gak bisalah seenaknya main batalin. Lagian terima sajalah, Dit. Kamu akan bahagia kok nanti," sahut Ibu Sonia dengan senyum penuh arti.
"Hay, Dit! Yang mau nikah kok wajahnya mendung banget," ucap Lilis menyapa Radit yang bersiap akan menuju taman belakang rumahnya yang sudah didekor sedemikian rupa.
"Loh, Lis? Kamu kok belum siap?" Radit mempeehatikan pakaina yang dikenakan Lilis. Terusan gamis brokat dan pashmina yang senada dengan gamis yang ia kenakan.
"Hah? Gue dah siap dan cantik gini, belum siap apaan?" sahut Lilis santai.
"Eh ngebet banget nikah sama gue! Maaf, ya Dokter Radit Si Wajah Datar, gue gak mau nikah sama lo!" Lilis memamerkan senyum usilnya pada Radit.
"Lah, Lis? Maksudnya gimana sih?" Radit bergumam bingung.
"Buruan turun sono! Pak penghulunya sudah nunggu. Gue duluan ya!" Lilis tak menjawab kebingungan Rafit. Dia sudah berlalu dari hadapan pria itu.
Radit pun menuju taman belakang rumahnya yang sudah disulap sedemikian rupa. Pintu gerbang belakang juga dibuka, untk pintu masuk para tamu, dan sebuah pelaminan untuk acara resepsi juga telah didekorasi begitu indah. Lalu, ada meja untuk acara akad, dan kursi-kursi berjejer rapi untuk tamu undangan duduki. Namun, yang membuat Radit bingung adalah Lilis yang penampilannya tidak seperti si pengantin perempuan pada umumnya.
"Pa, maksudnya gimana sih?" tanya Radit mendekati Papanya yang sedang menyambut para tamu.
"Yang mau kamu sebut ijab nanti namanya Suster Kinar, awas kalau salah! Bisa-bisa kamu dimutilasi sama Mamamu!" bisik Dokter Ghifari santai.
__ADS_1
"Ma--maksudnya ini pernikahan aku sama Kinar, Pa?" Radit tergagap dengan degup jantung membuncah senang.
"Iya. Sengaja Mamamu mau balas dendam karena kalian dah bohongin orang tua. Gimana, Dit? Sebulanan ini kayaknya cukup ya buat kamu stres sama berat badanmu turun," ejek sang Papa.
"Pa! Mama licik banget sumpah!" gerutu Radit antara kesal dan gemas ingin memeluk Mamanya itu.
"Ya, mau gimana. Mamamu itu gak bisa ditukar sama yang lain," kekeh Dokter Ghifari.
"Mas Raditnya sudah siap?" tanya Pak Penghulu pada Radit yang sudah duduk berhadapan dengan pria setengah baya bertugas sebagai penghulu.
"Siap, Pak!" sahut Radit kelewat antusias.
"Semangat banget nih! Sudah gak sabar ya ketemu pengantin perempuannya," goda si pak penghulu.
"Baik. Mari kita mulai ya!" Pak Penghulu memulai acara sakral itu. Dibuka dengan beberapa kata sambutan dan pembacaan ayat suci al-quran.
Radit gugup. Jika dulu saat mereka menikah siri karena sebuah perjanjian, kini ia akan mengucap akad dengan sebuah komitmen panjang juga penyerahan hatinya untuk sang wanita yang ia cintai. Akad ini adalah pengulangan untuk pernikahan siri mereka. Di buku nikah yang tercatat adalah tanggal pernikahan siri lalu. Ini adalah pengulangan agar suasana sakral itu bisa dirasakan oleh kedua mempelai.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kinar Ananda Putri Binti Rahman (Alm) dengan mas kawin 10 gram mas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
Seruan pengesahan dari para saksi dan doa yang terlantun, membuat rasa haru bagi semua orang yang menyaksikan. Mama Sonia yang duduk mendampingi Kinar di belakang Radit mengusap sudut matanya yang berair dengan tisu. Kinar juga demikian, ia juga ikut merasakan perasaan haru itu. Suara lantang, tegas dan penuh keyakinan dari pria itu memupuk perasaannya untuk menangis haru. Namun, dia tak ingin merusak make up di wajahnya yang hampir dua jam diaplikasikan oleh si penata rias tadi.
Akhirnya, setelah beberapa skenario dan scene-scene yang membuat Kinar sedih, juga merasa ingin menyerah, kini terjawab pada hari ini dengan sebuah tekad dari si lelaki yang berstatus suaminya itu. Ini adalah hari bersejarah yang tak akan Kinar lupakan. Ucapan selamat dari rekan kerjanya juga beberapa tamu undangan lainnya yang merupakan rekan Dokter Ghifari, Papa mertuanya. Oh, jangan lupakan juga ucapan selamat dari Lilis yang sempat menggoda mereka, bersam Dokter Ardi di sampingnya. Kinar dan Radit tentu saja kaget, akan pengakuan Lilis yang mengatakan jika dia juga akan melangsungkan pernikahan dengan Dokter Ardi seminggu lagi. Dokter Ardi tak banyak bicara, dia hanya mengulas senyum saja dan bersalaman pada Radit dan Kinar.
...Bersambung.......
...vote sama hadiahnya banyakin ya gaesss...
__ADS_1