
Pagi ini Suster Lina tetap menjalani harinya dengan ceria dan menebar senyum ramah meski hati galau merana memikirkan hidupnya. Ia hendak ke kantin seorang diri karena Suster Shela sedang ada tugas di ruangan pasien jadi mereka tak bisa makan bersama.
"Suster Lina!"
Seseorang memanggilnya hingga wanita itu menoleh dan mendapati seorang lelaki berseragam biru khas perawat lelaki.
"Eh, Bang Tama! Ada apa, Bang?" tanya Lina pada rekan seniornya.
Lelaki hitam manis berlesung pipi itu merangkul bahu Lina akrab.
"Makan siang yuk! Belum makan siang, 'kan?" tanyanya.
"Ehm... Gimana ya, Bang? Nggak enak aja dilihatin orang," sahut Lina dan mencoba melepaskan rangkulan itu.
"Ngapain musingin omongan orang. Sudah, yuk! Abang traktir deh!" ucap lelaki itu melepaskan rangkulannya dan mengganti dengan menarik tangan Suster Lina.
"Nah kalau itu gak nolak aku!" sahut Lina terkekeh.
"Ish kebiasaan maunya yang gratisan mulu!" sahut lelaki bernama Tama itu.
"Iya dong, hemat dan bisa makan enak."
Dua orang itu begitu akrab dan tidak sadar jika ada sepasang netra tajam yang memperhatikan keduanya dengan tatapan tak suka juga tangan terkepal. Pria berjas putih dengan gelar dokter anestesi itu masih menatap punggung dua orang itu hingga menghilang di balik pintu lift.
"Apa-apaan dia? Sudah bersuami masih saja senang dipegang-pegang cowok begitu!" gumam lelaki itu dengan dengusan tak suka.
Dokter Ardi yang tadi berniat mengajak Lina untuk makan bersama kini kembali masuk ke ruangannya dan memutuskan untuk memesan delivery saja. Moodnya tiba-tiba anjlok dan ia tak paham itu kenapa. Rasanya mau menghajar orang saja untuk melampiaskan kekesalan tak tahu muara itu.
__ADS_1
...........
Setelah memikirkan matang-matang akan keputusan yang akan ia ambil pada akhirnya Lina memutuskan untuk pergi. Ia menemui Bu MELI--HRD di rumah sakit RD Hospital hari ini untuk mengatakan keputusan resignnya.
"Bu Meli saya mau ngajuin surat resign besok, apa itu berpengaruh pada karir saya ke depannya sebagai seorang perawat?" tanya Suster Lina yang kini duduk berhadapan di ruangan Ibu Meli.
"Kenapa kamu mau resign, Sus? Kamu bisa ambil cuti jika nanti mau melahirkan. Tidak perlu sampai resign," ucap Ibu Meli tampak bingung.
"Ehm... Saya mau fokus mengurus anak saya sampai usianya dua tahun nantinya, Bu!" Lina memilih opsi berbohong.
"Sebenarnya gak berpengaruh buruk sih, Lin. Karena kamu juga resgin secara baik-baik dan kinerja kerjamu juga bagus. Insha allah untuk ke depan kalau kamu mau kerja di tempat lain bisa dipertimbangkan oleh pihak rumah sakit bersangkutan."
Penjelasan Ibu Meli menghadirkan lega di hati Lina yang gelisah. Ia mengusap perutnya yang buncit di balik seragam kerjanya.
"Alhamdulillah kalau seperti itu, Bu. Besok surat resign saya titip ke Mbak Shela gak apa-apa? Karena saya ada urusan mendesak," ucap Lina menutup pembicaraan.
Setelah mengucapkan terima kasih, Suster Lina pun berpamitan undur diri. Ia akan menyelesaikan semuanya, mengirim surat resign dan pergi dari kediaman Dokter Ardi. Demi keamanan hati dan juga pikirannya. Untuk apa dia berada di sana jika tidak ada yang menerima dirinya dan calon anaknya.
Malam itu ketika Dokter Ardi baru pulang, lelaki itu menyodorkan sebuah paper bag pada Lina yang sedang duduk berselonjor di ranjang. Kebetulan Suster Lina juga shift siang hari itu dan baru pulang pukul tunuh malam tadi.
"Ini!"
"Apa ini, Mas?" tanya Suster Lina kebingungan menerima paper bag itu.
"Baju hamil! Aku lihat baju kamu sudah gak muat semua. Jadi aku beliin," sahut Dokter Ardi sambil membuka kemejanya hingha menyisahkan kaos singlet saja.
"Terima kasih, Mas!"
__ADS_1
"Kamu sakit?" tanya Dokter Ardi menyambar handuk di gantungan.
Lina menggeleng dan menghindari tatapan penuh selidik dari sang suami.
"Kamu banyak diam hari ini. Nggak seperti biasanya," ucap pria itu samar.
Lalu suara pintu kamar mandi yang dibuka dan tertutup menandakan jika Dokter Ardi sudah tak berada dekat lagi di sisi ranjang. Suster Lina mendongak, menghela napas lelahnya. Lelah dengan semua hal yang ia lalui ini.
"Rasanya sakit, Mas! Mungkin kita memang gak berjodoh sehingga tiada muara untuk hati kita bisa bersati," gumam Lina lirih.
...........
"Ren, jujur sama gue kalian masuki obat perangsang kan ke minuman gue waktu kita reunian beberapa bualn lalu?" tanya Doktet Ardi pada orang yang ada di seberang telepon. Ia memutuskan untuk menuntaskan rasa penasarannya dan agar tak ada prasangka di dirinya maupun Mamanya setelah ia menjelaskan kejadian seminggu lalu.
"Iya. Sorry, Bro! Kami cuma mau ngerjain lo aja soalnya hidup lo lurus-lurus aja gak asik banget. Gimana? Bisa bobolin tunangan lo juga 'kan akhirnya."
"Br*****k banget kalian! Gue batal nikah gara-gara itu. Tapi kalian gak kirim cewek kan buat jebak gue?" Dokter Ardi mengumpat dengan kekesalan menumpuk di dadanya.
"Nggak, Bro. Kita gak kirim cewek! Sorry banget karena sudah buat batal pernikahan lo. Jadi, lo malam itu nidurin cewek asal?"
"Nggak asal. Cewek itu satu tempat kerja sama gue. Ok, gue maafin kalian kali ini. Lain kali gak lagi gue ikutan reuni sama kalian!" sahut Dokter Ardi menggerutu lalu memutuskan panggilan telepon sepihak.
"Jadi, malam itu benaran hanya sebuah kebetulan? Lalu, kenapa Lina bisa ada di sana?" gumamnya bingung. Lebih penasaran kenapa mereka bisa dipertemukan di tempat seperti itu.
...Bersambung.... ...
...Hari ini cukup satu bab ya, vote sama hadiahnya gaess jangan lupa...
__ADS_1