
Seminggu sudah Kinar dirawat setelah proses melahirkan, dan hari ini ia akan pulang. Bayinya ada di box bayi yang satu ruangan dengannya.
Pintu ruang rawat Kinar terbuka, menampilkan sosok Dokter Radit yang hanya mengenakan kemeja dan celana bahannya, entah kemana sneli yang biasa ia kenakan. Lelaki itu berdiri menjulang di samping brankar Kinar, menatap dengan ekspresi datar. Tak lama pintu kembaki terbuk, Bi Imah masuk dengan Pak Beni di belakangnya.
"Kamu akan diantar pulang ke rumah oleh Pak Beni!" ucap Dokter Radit datar.
"Aku sama Alan?" tanya Kinar memastikan.
"Kamu sendiri. Alan akan saya bawa ke rumah orang tua saya," jawab Dokter Radit, mendekati box bayi, dan menggendong bayi berusia seminggu itu.
"Ma--maksud Mas akan memisahkan kami? Alan masih minum ASI, Mas!" ucap Kinar panik.
"Saya sudah konsultasi pada Dokter Leni. Dia bilang Alan boleh minum susu formula," ucap Dokter Radit dingin. Menoleh pada Bi Imah, menyuruh membawakan tas.
"A--" Kinar tak tahu harus mengatakan apa.
"Sesuai kesepakatan, kan? Kamu mendapatkan kebebesan kamu, dan saya mendapatkan keturunan yang saya inginkan. Pulanglah! Pak Beni akan mengantarmu!"
Kinar turun dari brankarnya, dia sudah melepas jarum infusnya tadi pagi. Baju pasiennya juga sudah diganti dengan celana kulot dan kemeja motif bunga-bunga.
__ADS_1
"Nggak! Mas gak bisa pisahin aku dengan anakku seperti ini. Ini terlalu kejam, Mas tahu? Tidak bisakah menunggu hingga Alan lepas ASI," ucap Kinar sedikit meninggi. Dia berdiri berhadapan dengan Dokter Radit yang hanya menatapnya datar.
"Tidak. Dia malah akan ketergantungan jika sampai waktu itu. Alan akan saya bawa, dan kamu pulang ke rumahmu," ucap Dokter Radit berbalik dan berjalan keluar.
Kinar menahan langkah lelaki itu dengan berdiri di depan Dokter Radit. Sedang, Bi Imah dan Pak Beni hanya diam memperhatikan perdebatan dua orang itu.
"Nggak! Kumohon jangan pisahkan kami, Mas! A--aku akan ganti semua uang yang Mas pinjamkan, tapi kumohon jangan bertindak kejam seperti ini!" ucap Kinar bergetar, dengan netra yang siap untuk meluncurkan air mata.
"Ini sudah sesuai kesepakatan kita, Kinar! Kamu sudah menandatangani sendiri di atas materai. Jadi, terimalah sendiri keputusan kamu." Dokter Radit berucap tanpa ekspresi. Lalu berjalan keluar diikuti Bi Imah. Sedang Pak Beni masih menunggu karena akan mengantarkan Kinar pulang.
"Nggak! Tolong kasihani aku, Mas!" Kinar mengejar langkah Dokter Radit, tapi terlambat karena lelaki itu sudah masuk ke dalam lift.
Dokter Radit masuk ke dalam mobilnya setelah menyerahkan bayinya pada Bi Imah yang duduk di kursi belakang. Mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan pelataran rumah sakit, dan bergabung bersama kendaraan lain. Tiga puluh menit kemudian, mobil Dokter Radit sampai di depan rumah megah berlantai dua yang di depan halamannya terdapat air mancur. Gerbang rumah itu dibuka oleh satpam yang berjaga. Mobil itu berhenti di depan halaman, Dokter Radit turun, diikuti Bi Imah. Dia kembali membawa anaknya dalam gendongannya, dan meminta Bi Imah membawa barang putranya ke kamar.
"Radit!"
Mamanya menyambut ketika dia memasuki rumah. Ibu Sonia menoleh pada bayi dalam gendongan Dokter Radit.
"Ini... Cucu Mama?" tanya Ibu Sonia menatap haru bayi mungil itu.
__ADS_1
"Ya. Alan Putra Al-Ghifari," jawab Dokter Radit tanpa ekspresi. Memberikan Alan untuk digendong Ibu Sonia.
"Mana Ibunya?" tanya Ibu Sonia menoleh ke belakang tubuh Radit, kali saja menemukan si perempuan ayu itu.
"Sesuai janjiku! Aku tidak akan menikah, tapi akan memberikan keturunan untuk keluarga ini," ucap Dokter Radit santai.
Ibu Sonia menatap dengan netra memicing pada putranya. Ia menggeleng tak habis pikir.
"Radit, kamu masih tidak ingin mengubah keputusanmu itu?" tanyanya.
"Aku tetap pada keputusanku. Aku ke kamar dulu!" ucap Dokter Radit, dan berlalu menaiki tangga melingkar yang membawanya ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Huh, anak itu. Kamu jangan niru tingkah Ayahmu itu, sayang! Nanti Nenek dan Ibumu ikutan pusing kalau kamu nurunin sikap menyebalkan Ayahmu itu," ucap Ibu Sonia memberikan kecupan sayang di kening cucunya.
Dia tak habis pikir akan apa yang ada di pikiran putranya. Dia tahu, jika trauma akan batalnya menikah dulu masih membayangi Radit, tapi dengan memisahkan ibu dan anak seperti ini, terlalu kejam menurutnya. Radit butuh psikolog sepertinya, dia akan meminta suaminya mencarikan psikolog untuk Radit. Dia tak ngim putranya itu terus seperti ini.
...Bersambung.... ...
...Nih, satu bab lagi. Aku lagi galau mau ngetik karena nungguin kontrak karya ini belum juga diacc. Part ini sedih-sedih dulu kita ya, nanti dokter Radit bucinnya masih lama gaesss, tetap pantengin ya cerita ini. ...
__ADS_1