Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Pembatalan Pernikahan


__ADS_3

Hari ini Ardi sudah memutuskan jika ia akan menyelesaikan urusannya dengan Lilis segera. Dia tidak bisa mencurangi Lilis dengan tetap melanjutkan pernikahan jika dia sendiri sudah mengucapkan ijab dan qabul tadi malam.


"Lis, bisa kita bicara?" tanya Dokter Ardi melalui sambungan telepon.


"Bisa. Mau bicara dimana, Ar?" sahut suara di seberang telepon.


"Starbuck dekat rumah sakit," ujar Dokter Ardi.


"Ok!"


Setelahnya lelaki itu segera mengantongi handphonenya ke saku celana. Menyambar kunci mobil dan meninggalkan sneli dokternya di ruangannya. Ia sampai di starbuck tujuh menit kemudian, dan menuju salah satu meja di pojokan. Lilis belum sampai, mungkin masih di perjalanan. Hampir lima belas menit Dokter Ardi menunggu, hingga ia melihat Lilis yang baru saja memasuki starbuck.


"Mau bicara apa? Kok mendadak banget?" ujar Lilis ketika ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Dokter Ardi.


"Kita pesan minum dulu!"


Lalu Ardi memesankan dua jus alpukat untuk mereka. Tidak sampai lima menit, pesanan mereka diantar. Setelah menyeruput minumannya, lelaki itu menghela napas. Menyiapkan semua kata untuk menjelaskan semuanya.


"Aku minta maaf sebelumnya, aku gak bisa melanjutkan pernikahan kita," ucap Dokter Ardi langsung, menatap Lilis serius.

__ADS_1


Tidak ada reaksi dari perempuan di hadapannya untuk beberapa saat. Hingga Lilis menghela napas dan mengangguk paham.


"Sudah kuduga. Ok, aku paham dan gak akan marah akan apa yang terjadi ini. Sebenarnya, aku juga ragu untuk melanjutkan pernikahan kita, mengingat pendekatan kita ini gak ada kemajuan sama sekali. Lalu bagaimana dengan semua modal yang telah dikeluarkan?" ucap Lilis terlihat santai.


Dokter Ardi menghela napas lega. Ia kira Lilis akan marah dan mengamuk seperti perempuan kebanyakan. Untunglah perempuan cerdas di depannya itu bisa menyikapi semua ini dengan tetap pada sikap tenangnya. Ardi cukup salut akan pengendalian diri yang Lilis miliki.


"Tidak masalah. Aku akan mengganti semua kerugian, kamu bisa kirimkan jumlah pengeluarannya."


"Baiklah, jika memang ini sudah jadi keputusan kita. Semoga kamu bisa temukan orang yang kamu cintai dan segera menikah, Dokter Ardi!" ucap Lilis bijak.


"Terima kasih. Semoga kamu juga dapatkan orang tersebut!" Dokter Ardi membalas tak enak hati.


"Ah, ya sudah. Kalau tidak ada lagi yang ingin dikatakan, aku duluan ya, Ar!" Lilis bangkit dari tempat duduknya.


"Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri kok," jawab Lilis dengan gelengan.


"Hati-hati!"


Setelahnya punggung perempuan berhijab pashmina itu menghilang di balik pintu starbuck. Dokter Ardi kembali duduk di kursinya.

__ADS_1


"Ok, satu masalah selesai. Sekarang tinggal memberitahu Mama. Semoga saja Mama gak murka," gumamnya dengan helaan napas berat.


Setelah pembicaraan dengan Lilis, Dokter Ardi segera melajukan kendaraannya menuju rumah. Ia harus segera membicarakan akan batalnya pernikahannya esok hari pada Mamanya. Nyatanya, berita itu sampai dengan cepat ke Mamanya. Ardi baru saja turun dari mobilnya saat Mamanya memberondongnya dengan cercaan.


"Ardi, Lilis bilang kamu membatalkan pernikahan kalian. Kamu sudah gila apa? Kalian akan menikah besok, bagaimana kamu bisa membatalkannya seenaknya begini?" ucap Ibu Maria dengan amarah.


"Kami sudah berdiskusi berdua, Ma. Kami sepakat untuk membatalkan karena tidak ada kecocokan di antara kami. Kuharap Mama paham," sahut Ardi sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Ardi duduk di sofa ruang tamu dengan helaan napas yang berat.


"Astaga, bagaimana bisa kamu mempermalukan Mama begini, Ar? Semua bahkan sudah siap dan kamu dengan gampangnya membatalkan ini? Mau ditaruh dimana muka Mama ini," ucap Ibu Maria lagi, duduk dengan lesu di sofa berseberangan dengan Ardi.


"Maaf, Ma!" Dokter Ardi menunduk dengan jemari saling menggenggam.


"Sudahlah terserah kamu. Mama gak peduli lagi kamu mau menikah atau membujang sampai tua. Mama gak mau lagi urus, dan jangan harap meminta restu Mama saat kamu mau menikah nanti," ucap Ibu Maria kecewa juga merasa dipermalukan akan tingkah putranya.


"Ma!"


Dokter Ardi hanya bisa menghela napasnya menatap punggung sang ibu yang sudah menghilang di balik pintu kamar. Ya, sudah terjadi juga. Dia harus terima konsekuensi akan kemarahan Mamanya ini. Nanti dia akan jelaskan apa yang terjadi jika suasana dan hati Mamanya sudah mendingin. Saat ini, ia harus memberi jeda dan waktu untuk Mamanya menetralkan emosi di dirinya. Ardi juga harus menyiapkan mental saat menjelaskan kejadian malam penuh kesalahan yang telah ia lakukan.

__ADS_1


...Bersambung.......


...Selamat berpuasa ya gaesss, scene panasnya nanti saja deh, saya simpen dulu ya hehe 😅...


__ADS_2