
Lelaki itu menatap dengan pandangan kosong. Banyak pikiran berseliweran di kepalanya, ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Wajah lelah, dan kantung mata yang menghitam menghiasi wajah lelaki itu.
"Radit, maaf aku gak bisa ngelanjutin pernikahan ini! A--aku sudah dinikahkan dengan pria lain...."
"Kamu membohongiku, Rin? Kita baru saja saling menelepon semalam, membicarakan akan hari pernikahan kita ini, tapi... bagaimana bisa kamu bilang sudah menikah dengan pria lain?"
"Tapi itulah faktanya, Dit! Papa sudah menikahkan aku dengan anak rekan kerjanya, maafkan aku, Dit...."
"Kamu menyakitiku, Rin! Kamu tidak membicarakannya padaku lebih dulu, dan mempermainkan perasaanku seperti ini apakah adalah hal yang mudah untuk kumaafkan? Pergi, Rin! Pergi dari hadapanku sekarang! Jangan pernah berani lagi menampakkan diri di hadapanku, pergilah!"
"Radit!"
"Pergi!"
"Sialan!"
Lelaki itu menghamburkan semua barang yang ada di mejanya. Bayangan itu kenapa muncul lagi, dia benci akan kejadian penghianatan itu.
Radit tidak bisa terus seperti ini, dia adalah masa lalu harusnya Radit bisa melupakan kejadian itu, termasuk kecelakaan yang ia alami dulu karena dirinya yang terlalu sakit hati akan kebohongan yang telah dilakukan Ririn. Perempuan itu bukan dijodohkan, tapi dia sudah mengkhianatinya dalam waktu lama dengan status mereka masih sebagai sepasang kekasih, benar-benar luar biasa, kan? Dia terlalu mempercayai perempuan itu.
...****...
Kinar mengenakan celana kulot warna biru muda, dipadu padankan dengan blouse senada, membuat penampilan perempuan itu tampak segar. Sejak ia memasuki rumah megah itu, semua pasang mata sudah mengamati dirinya.
"Selamat datang, Suster Kinar!" ucap Ibu Sonia pada Kinar yang berdiri kikuk di tengah ruangan. Di belakang Ibu Sonia, berdiri 5 orang ART yang usianya kisaran kepala empat.
__ADS_1
"Panggil saja Kinar, Bu. Terima kasih karena saya sudah diterima bekerja di sini," sahut Kinar mengangguk singkat.
"Oh, tidak masalah.Kalian, kenalkan dia anggota baru di rumah ini, dan sekaligus yang akan menjadi ibu susu untuk cucu saya. Jadi, bantu dia jika ada yang ia butuhkan," ucap Ibu Sonia tegas pada lima ART nya. Semua ART mengangguk paham, setelahnya Ibu Sonia menyuruh mereka kembali bekerja.
"Ayo, saya antar ke kamar Alan!"
Kinar mengikuti langkah Ibu Sonia yang mengarah ke lantai dua rumah itu. Ibu Sonia membuka pintu kamar, dan Kinar mengikuti masuk, dia langsung disuguhi pemandangan kamar seorang bayi yang luas juga mewah. Box bayi yang didesain begitu mewah dan juga mainan berbagai jenis. Kinar merasa terpukau akan hal itu.
Tangis bayi membuat Kinar segera menoleh ke box bayi berwarna hijau tosca itu.
"Oalah, cucu Nenek sudah bangun."
Kinar memperhatikan ketika Ibu Sonia mengambil bayi mungil itu dari boxnya dan menggendongnya telaten. Dia merasa terharu melihat pemandangan itu.
"Kamu ingin menggendongnya dulu untuk berkenalan?" ucap Ibu Sonia tiba-tiba. Mendekati Kinar yang berdiri agak jauh darinya.
"Tentu." Ibu Sonia menyerahkan Alan ke gendongan Kinar.
"Hay, baby?" ucap Kinar serak, menahan haru juga air mata yang mendesak ingin keluar.
Ibu Sonia yang melihat pemandangan itu diam-diam mengulum senyum juga haru yang melanda. Dia juga menahan air matanya.
"Saya tinggal dulu ya, Kinar! Kamu bisa menyusuinya kalau dia sudah haus, biasanya dia akan minum susu formula, tapi karena sudah ada kamu, da bisa menyusu dengan kamu." Ibu Sonia memilih untuk keluar sebentar memberikan waktu pada Kinar.
"Iya, Bu." Kinar menyahut tanpa mengalihkan tatapannya dari bayi di gendongannya.
__ADS_1
"Nenek tinggal dulu ya, Alan! Kenalan dulu ya sama Bunda Kinar," ucap Ibu Sonia mengelus pipi halus cucunya.
"Bu-Bunda?" ucap Kinar terbata, netranya tampak berkaca-kaca.
"Iya. Kamu bisa membiasakan dia panggil Bunda karena kamu akan menyusuinya dalam waktu lebih lama, biar kalian lebih dekat," sahut Ibu Sonia santai.
"Saya tinggal, ya!"
Kinar mengangguk. Ibu Sonia pun berlalu keluar dari kamar itu. Meninggalkan Kinar dan baby Alan.
"Halo, sayang! Kamu kangen Bunda, Nak?" tanya Kinar pada bayi yang belum bisa melihat itu.
Kinar memberikan kecupan-kecupan penuh kerinduannya pada putranya. Tetes bening itu akhirnya jatuh juga dari bingkai mata perempuan itu. Rasanya rindunya meledak dengan air mata yang terus mengaliri pipinya, sesekali dia usap. Seolah paham jika sang ibu bersedih, bayi di gendongan Kinar itu ikut menangis, membuat Kinar segera menenangkannya dengan menimang-nimangnya.
"Kamu haus?"
Kinar segera duduk di sofa panjang di kamar itu. Menaikkan blouse yang ia kenakan, dan memberikan sumber ASI pada bayi di gendongannya. Kinar kembali merasa terharu melihat anaknya menyambar sunber ASI itu.
"Bunda gak akan biarin lagi Papamu itu memisahkan kita, Nak!" gumam Kinar mengelus sayang ubun-ubun bayinya.
Kinar tidak tahu, jika Ibu Sonia mengintip interaksinya dengan sang bayi melalui celah pintu yang terbuka sedikit.
"Radit, kamu sudah buat cucu dan menantu Mama menangis, awas kamu ya!"
Ibu Sonia menjauh dari pintu. Memilih ke kamarnya untuk menenangkan diri. Dia terlalu kesal dan greget dengan Radit dan Kinar. Dua orang itu tidak ingin mengaku pada orang tua, padahak sudah jelas-jelas dia sudah memancing-mancing, tapi masih saja kedua orang itu tak ada yang mau membicarakan hubungan mereka dengannya. Benar-benar anak muda zaman sekarang.
__ADS_1
...Bersambung.... ...
...Hari ini cukup satu bab gaesss, author masih galau tolong ya dimengerti rasa-rasanya mood anjlok padahal raeders banyak, tapi ya mau gimana dong 😩...