Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Malaikat Kecil Kita


__ADS_3

Setelah kejadian ciuman sang suami, dan berakhir dengan mereka berbagi keringat di ranjang, Lina masih saja merasa malu ketika bertemu pandang dengan pria itu. Mereka sudah seperti pengantin baru yang baru merasakan nikmatnya surga dunia. Mengingat hal itu saja Lina sudah merasakan pipinya memanas dan degup jantung bertalu kencang.


"Lina, kok melamun!" tegur ibu mertuanya ketika mereka hanya sarapan berdua karena Dokter Ardi sudah berangkat lebih pagi tadi.


"Hah? Nggak kok, Ma!" sahut Lina tergagap.


"Sarapannya dimakan! Apa kamu nggak suka?" Mama Ria meneliti wajah sang menantu.


"Suka kok, Ma."


Mama Ria mengangguk. Meski sudah seminggu sejam dia kembali ke rumah ini, rasa canggung masih dia rasakan jika hanya berdua dengan ibu mertuanya.


"Lin, Mama minta maaf atas apa yang terjadi dengan hubungan kalian yang sedikitnya disebabkan karena sikap Mama ke kamu. Maafkan Mama ya, Lin!" ujar Mama Ria ketika mereka selesai dengan sarapan.


Lina menggeleng, menggenggam tangan ibu mertuanya yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Ma. Lina tahu kekecewaan Mama karena tidak bisa melihat Mas Ardi menikah. Lalu tiba-tiba pulang dan membawa perempuan lain mengatakan jika dia sudah menikah. Lina juga minta maaf karena tidak meminta restu lebih dulu pada Mama," ucap Lina dengan tulus. Dia sudah melupakan semua hal yang membuatnya tidak nyaman.


"Terima kasih, Lin!" Mama Ria memeluk menantunya erat. Mengusap punggung Lina dengan sayang.


Lina mengucap beribu syukur dalam hati. Karena kesabaran dan keikhlasannya selama ini kini terbayar dengan kebahagiaannya bisa bersama dengan orang yang ia cintai, dan diterima oleh Mama Ria.


...........


Kini waktu yang ditunggu-tunggu dengan penuh ketegangan pun tiba, hari persalinan Lina. Sejak pagi wanita itu sudah merasakan mulas luar biasa di perutnya, makanya ia langsung meminta diantarkan ke rumah sakit. Takut-takut jika air ketubannya pecah. Mama Ria pun tak kalah panik ketika ikut mengantarkan Lina ke rumah sakit diantar sopir pribadi keluarga mereka. Dokter Ardi yang sedang di rumah sakit pun sudah Lina hubungi.


Lina langsung dibantu duduk di kursi roda, dan dibawa ke ruang observasi menunggu pembukaan. Dokter Ardi ikut masuk ke ruang observasi menemani sang istri yang ternyata sudah pembukaan dua ketika Dokter Siska memeriksa jalan lahirnya.


"Sabar ya, sayang!" bisik Dokter Ardi lirih di dekat telinga sang istri.


"Temenin ya, Mas!" rengek Lina merintih menahan sakit.

__ADS_1


"Ya, Mas temenin. Tunggu pembukaannya lengkap dulu, ya!"


Lina mengangguk, dengan sesekali merintih merasakan rasa sakit menusuk di area perut bawahnya. Dokter Ardi mengusap keringat di kening sang istri dengan tisu. Sesekali membisikkan kalimat sayang pada wanita yang akan melahirkan anak mereka.


Hampir dua jam menunggu pembukaan dengan rasa sakit yang amat menyiksa, Lina pun dibawa ke ruang bersalin setelah diperiksa jika dia bisa melahirkan secara normal. Dokter Ardi pun setia menemani istrinya di ruangan itu. Setelah melalui proses panjang itu, akhirnya suara tangisan bayi terdengar nyaring di ruangan bersalin. Dokter Ardi mengecup penuh kasih kening Lina, mengucapkan banyak terima kasih atas perjuangan sang istri yang telah membawa anak mereka ke dunia.


Dengan haru, Dokter Ardi melantunkan adzan di telinga kanan putranya yang terbalut bedong. Mengecup sayang kening bayi mungil itu, setelahnya memberikan kembali pada sang suster.


Lina pun melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ia meneteskan air mata ketika bibir mungil bayinya mencari sumber makanannya. Dokter Ardi mengamati kedua orang yang ia sayangi dengan senyum bahagia. Ia tidak pernah menyangka akan berada di titik ini. Mendapatkan perempuan yang tidak ia duga jika menjadi takdirnya, dan mendapatkan malaikat kecil yang melengkapi keluarga kecilnya.


Setelah melalui berbagai proses persalinan, Lina pun dipindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan, bayinya ada di dalam box bayi di samping brankar yang Lina tempati. Mama Ria, dan kedua adiknya sudah bergantian mengecup kening putranya itu. Lina mengembangkan senyum haru atas kebahagian ini. Kini ia sudah menjadi seorang ibu dari bayi mungil itu. Rasanya luar biasa, ada letupan bahagia di dadanya.


"Istirahat dulu! Biar Mas yang jaga Kenzie," ucap Dokter Ardi yang lengan kemejanya sudah tergulung ke siku.


Lina mengangguk. Mengamati gerak gerik suaminya itu yang menyusun barang-barang keperluan bayinya yang tadi dibawakan oleh Bi Rumi. Mama Ria dan kedua adiknya sudah pulang sejam yang lalu. Ini sudah sore, sebenarnya Lina tidak mengantuk, cuma ia harus istirahat agar tenaganya pulih.

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2