Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Si Dokter Sakit


__ADS_3

Pagi ini, Mama Ria dikejutkan akan kealpaan anaknya yang tidak ada di meja makan untuk sarapan. Dia pun memutuskan ke kamar sang putra untuk membangunkannya.


Begitu sampai di kamar Ardi, dan membuka pintu kamar itu, Mama Ria mengerutkan kening bingung pada lelaki yang berbaring meringkuk dengan selimut tebal.


"Kamu sakit, Ar! Astaga, panas banget ini." Mama Ria menempelkan punggung tangannya ke kening Ardi dan berseru kaget karena merasakan panas di kening itu.


"Cuma pusing aja, Ma!" Dokter Ardi bergumam lirih.


"Mama teleponin Om Ricko dulu. Kamu harus diperiksa, ini panas banget loh!" Mama Ria berseru cemas dan segera mengirimkan pesan whatsapp pada Kakaknya yang merupakan dokter umum.


"Aku kangen dia, Ma! Beberapa bulan ini bayangannya selalu hadir dalam mimpi dan pikiranku. Apa yang salah denganku?"


Mama Ria menyimpan kembali teleponnya di kantong celana. Duduk di ujung ranjang samping kepala putranya. Mengusap sayang ubun-ubun lelaki dewasa yang berpuluh tahun dulu ia timang-timang.


"Ar!"

__ADS_1


"Aku gak mungki cinta dia 'kan, Ma? Aku 'kan sukanya sama Kinar," ucap Dokter Ardi dengan serak, netra lelaki itu memerah.


"Stop! Kamu nggak usah ngomong aneh-aneh dulu. Sebentar lagi Om Ricko sampai dan memeriksa kondisi kamu."


Dokter Ardi tidak lagi bersuara. Dua puluh menit kemudian, Om Ricko sampai dan segera memeriksa kondisi Ardi.


"Cuma kecapek'an dan banyak pikiran ini, yang efeknya ke kondisi tubuh yang down," jelas Om Ricko setelah melepaskan stetoskopnya dan mengukur suhu tubuh keponakkannya.


"Nggak demam berdarah kan, Bang?" tanya Mama Ria cemas.


"Aman. Nanti kukasih obat penurun panasnya sama vitamin. Ini kok Ardi makin kurus saja wajah kok juga kayak nggak keurus gini. Emang mikiran apa sih ini Ardi?" Om Ricko menatap penuh selidik pada keponakkannya.


"Pantes. Semoga mereka bisa segera berbaikan, kayaknya si Ardi demam rindu ini," goda Om Ricko yang dibalas delikan oleh Ardi yang sangat lesu hanya untuk membuka suara saja.


"Ya gitu deh. Biasa pengantin baru mereka," sahut Mama Ria terkekeh.

__ADS_1


Ada yang tidak bisa manusia lakukan jika takdir Tuhan menginginkan skenario seperti yang sudah tertulis di buku kehidupan, jauh sebelum manusia itu dilahirkan. Banyak hal yang harus kita terima dengan lapang dada dan ikhlas atas ketentuanNya. Lina pun sudah bertahun-tahun lalu, mengikhlaskan dan menerima semua yang terjadi pada kisah hidupnya. Kehilangan kedua orangtua saat usianya belasan tahun, dan dipaksa kuat oleh keadaan yang menjadikannya sebagai tulang punggung keluarga.


Banyak hal yang terkadang selalu Lina pertanyakan. Namun, dia tahu jika sang pemilik alam semesta ini tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hamba itu sendiri.


"Mbak Lin, kapan cek up lagi?"


Lamunan Lina dibuyarkan akan suara nyaring Diva yang duduk di sofa sampingnya. Perempuan muda itu menyodorkan bungkusan snack pada Lina, yang ia terima dengan senang hati. Ya, semenjak hamil, dia memang suka sekali mengemil.


"Minggu depan, Div. Kalau kamu kuliah, nggak apa-apa Mbak pergi sendiri aja nanti," ucap Lina sambil mengunyah snack gurih yang tadi diberikan Diva.


"Ehm, tapi aku khawatir kalau cuma biarin Mbak pergi sendiri. Ini Bandung loh, Mbak! Mbak juga belum lama di sini, takutnya ada apa-apa," sahut Diva menyuarakan kecemasannya.


"Nggak akan ada apa-apa, Div. Mbak punya ponsel dan bukan lagi anak kecil. Jadi, Mbak ngggak bakal diculik atau apapun itu yang kamu khawatirkan." Lina mencoba membujuk Diva agar tidak perlu mengkhawatirkannya.


"Iya, sudah. Kalau ada apa-apa Mbak segera hubungin aku, ya!"

__ADS_1


Lina mengangguk. Dia bersyukur Diva mau menampungnya di kontrakannya yang sederhana ini. Namun, Lina bukan hanya menumpang makan, tidur saja. Dia juga bekerja di klinik yang ada di kota itu, yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggal Diva. Dia juga sering memberikan uang tiap minggunya untuk Diva meski perempuan muda itu menolak di awal dulu, ia tetap memaksa yang akhirnya diterima juga oleh Diva.


...Bersambung.......


__ADS_2