Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Dipecat!


__ADS_3

Sudah dua minggu berjalan sejak Kinar pulang dari rumah sakit dan dipisahkan dengan bayinya. Sudah semingguan juga Kinar kembali masuk kerja, dan hanya wajah mendung yang selalu ia tampilkan. Jiwanya terasa hilang, sejak Dokter Radit membawa pergi Alan. Sejak semingguan dia masuk kembali ke rumah sakit, dia belum juga bisa ketemu Dokter Radit. Kinar tahu jika lelaki itu menghindarinya, dan selalu saja tak ada kesempatan bagi Kinar untuk bertemu dan berbicara dengan sang dokter.


"Kinar, kamu dipanggil ke ruang HRD!"


Kinar menoleh pada Suster Lina yang menatapnya prihatin. Dia sudah menceritakan semua hal yang ia lalui setahun belakangan ini dengan Dokter Radit. Termasuk hubungan mereka, dan kehadiran Alan.


"Ada apa ya, Mbak?" tanya Kinar berdiri dari tempat duduknya. Mengantongi handphone yang tadi dia gunakan.


"Kamu ke sana saja memastikannya," jawab Suster Lina.


Kinar mengangguk, berpamitan pada rekannya itu sebelum menuju ruang HRD. kenapa dia dipanggil?


Kinar sudah berdiri di depan pintu cokelat yang di depannya tertempel tulisan HRD. dia mengetuk pintu pelan, dan membukanya setelah mendengar sahutan suara dari dalam.

__ADS_1


"Permisi, Bu!" Kinar berdiri di ambang pintu, sedikit menundukkan kepala menyapa singkat.


"Silahkan masuk, Suster Kinar!" ucap Ibu Meli--wanita berusia kepala tiga itu.


Kinar mengannguk. Duduk di kursi berhadapan dengan Ibu Meli, dipisahakn oleh meja kerja kepala HRD itu.


"Ada apa saya dipanggil kemari, Bu?" tanya Kinar tanpa basa-basi.


Ibu Meli menyodorkan amplop putih berlogo lambang rumah sakit RD Hospital. Kinar mengambil amplop itu, membukanya dan membaca setiap detail kata yang tertulis di selembar kertas dalam amplop itu.


"Maaf, Kinar. Ini permintaan langsung dari direktur rumah sakit. Saya tidak bisa berbuat banyak," ucap Ibu Meli menatap Kinar mengasihani. Dia juga tidak tahu kenapa Kinar yang kinerjanya begitu baik tiba-tiba diminta untuk dipecat oleh sang direktur rumah sakit ini. Dia juga sungguh sangat menyayangkan hal ini, tapi tidak bisa berbuat banyak, karena dia juga hanya bawahan di sini.


Kinar tersenyum kecut. Menahan sakit hati juga keinginan untuk segera menemui Dokter Radit, dan mencercah lelaki tak berperasaan itu.

__ADS_1


"Baiklah, Bu. Terima kasih telah memberikan kesempatan pada saya untuk mendedikasikan diri di rumah sakit ini beberapa tahun belakangan," ucap Kinar serak, mencoba menerima semua hal ini.


Meski rasanya sakit sekali, harus meninggalkan pekerjaan yang begitu ia sukai ini. Bukan hal mudah juga dia bisa menyandang gelar sarjana keperawatan hingga bisa bekerja di sini, ada banyak biaya yang dulu orang tuanya keluarkan, tapi lihatlah sekarang. Dia hanya bertahan 3 tahun bekerja di rumah sakit ini.


"Saya harap kamu akan kembali bekerja di rumah sakit lainnya karena dedikasi terbaikmu ini," ucap Ibu Meli mensupport Kinar. Memberikan dukungan moral agar perempuan muda di depannya itu tak putus asa dan menyerah begitu saja.


Kinar mengangguk. Tersenyum tipis pada Ibu Meli.


"Semoga ya, Bu. Terima kasih sekali lagi, dan kalau begitu saya permisi, Bu! Sampai jumpa di lain waktu," ucap Kinar bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan keluar dari ruangan itu.


Kinar meremas amplop putih yang ada di genggamannya. Merasa marah juga ingin berteriak pada si biang kerok semua ini.


"Kamu sampai memecatku, Dokter Radit! Sungguh aku tak percaya jika kamu tidak bisa profesional dalam bekerja. Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut nanti, sudah cukup kamu menghinakan harga diriku, tidak untuk kedua kalinya!" gumam Kinar dengan netra memancarkan amarah juga rasa sakit.

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2