Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Hormon Hamil


__ADS_3

Hari ini Suster Lina agak sibuk dengan beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan sebagai seorang perawat. Kendati kini ia berbadan dua, kondisi tubuhnya tetap fit dan sehat. Morning sicknessnya sudah ia lalui di trimester pertama kemarin.


"Jangan lari-lari, Suster Lina!"


Wanita itu langsung merasakan degup jantungnya yang berpacu cepat. Ia memegang erat lengan kekar yang memeluk pinggangnya itu.


"Ma--Mas!" ucapnya tergagap dengan wajah memucat.


"Jalan saja. Ingat, kamu sedang hamil!" Dokter Ardi melepaskan pelukannya di pinggang Suster Lina.


"Maaf, Mas!" Suster Lina berdiri dengan benar. Mengatur degup jantungnya yang tadi berdegup kencang karena rasa shocknya.


Wanit itu menunduk dan tiba-tiba rasa panas menyerang kedua bola matanya. Ia menggigit bibir bawah menahan tangis yang ingin keluar. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin menangis padahal ia tidak apa-apa.


"Aku tidak marah! Hey, kok malah nangis sih?" Dokter Ardi berucap panik dan memegang kedua bahu perempuan yang tingginya hanya sebatas dagunya itu.


"Ng--nggak tahu, hiks!" Tangis Suster Lina pun pecah. Dia tahu sepertinya ini hormon kehamilan yang ia rasakan.


"Astaga! Kita ke ruanganku dulu!" Dokter Ardi membimbing sang istri untuk berjalan menuju ruangannya yang tak jauh. Kebetulan, koridor agak lengang sehingga tidak banyak yang memperhatikan tingkah kedua pasangan itu.


Mereka masuk ke ruangan Dokter Ardi. Pria itu menuntun Suster Lina duduk di sofa yang ada di ruangannya, dan ia pun ikut duduk di samping sang istri.


"Katakan! Kenapa kamu menangis? Aku sedang tidak marah, aku hanya mengingatkanmu," ucap Dokter Ardi lembut. Mendongakkan dagu wanita itu agar menatapnya.


"Maaf, Mas. Aku lagi sensitif kayaknya," jawab Suster Lina serak karena mencoba menghentikan tangisannya.


Dokter Ardi pun mengangguk paham akhirnya. Ia membantu mengusap sisa air mata di pipi halus wanita di hadapannya. Memberikan kecupan singkat di kening wanita itu. Perlakuannya begitu manis dan lembut, tapi Suster Lina tahu jika hati pria itu bukan untuknya.

__ADS_1


"Kapan kamu mau berhenti kerja? Kehamilanmu semakin besar, dan kamu juga harus menjaga kesehatan," ucap Dokter Ardi setelah keheningan beberapa saat.


"Tunggu usia kandungan tujuh bulan saja, Mas."


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Kuharap kamu bisa menjaga kondisi tubuh agar tidak terlalu lelah."


"Terima kasih, Mas!"


Lalu hal yang tidak Suster Lina sangka yaitu ketika telapak tangan hangat pria itu berada di perutnya yang buncit tertutup seragam perawatnya. Keduanya saling menatap dengan pandangan shock.


"Aku mau menyapanya! Boleh, kan?" ujar Dokter Ardi tanpa sadar. Karena dirinya pun tidak tahu apa yang ia lakukan. Itu hanyalah gerakan refleksnya saja tadi karena melihat perut membuncit itu yang tiba-tiba menarik perhatiannya.


Suster Lina mengangguk dengan menahan senyum. Perasaan senang itu ia rasakan ketika tangan hangat pria itu mengusap-usap perutnya.


"Hay, baby? Sehat-sehat ya di perut Mamamu, jadilah pelita penerang di pernikahan kami ini. Tumbuhlah jadi anak yang kuat sekuat Mamamu," ucap Dokter Ardi dengan tulus.


"Mas!"


"Apakah salah kalau aku mencintai suamiku sendiri?"


"Ap--apa?"


Dokter Ardi tergagap. Ia terkejut atas pengakuan wanita di depannya. Sehingga, ia hanya bisa mengeluarkan kata itu.


"A--aku mencintai kamu jauh sebelum kita bisa sedekat ini, Dokter Ardi! Salahkah jika aku menaruh hati pada pria yang kini sudah jadi suamiku?"


Suster Lina menatap pria di hadapannya dengan berani. Menunjukkan keseriusan akan apa yang ia ucapkan. Ia sudah tidak bisa lagi menahan perasaan yang ia rasakan. Apalagi sikap Dokter Ardi yang kian perhatian setiap harinya. Boleh 'kan kalau dia berharap jika perasaannya bisa terbalaskan?

__ADS_1


"Mas!" panggil Suster Lina menyadarkan Dokter Ardi.


Ia menunggu tak sabar akan tanggapan pria di depannya yang hanya diam membisu. Baru saja pria itu akan membuka suara, tapi ketukan di pintu menghentikan ucapan Doktet Ardi.


"Masuk!" titahnya pada siapapun yang ada di luar sana.


Pintu dibuka dari luar. Seorang perawat masuk dengan menunduk singkat menyapa ketika dilihatnya ada Suster Lina di ruangan itu. Ya, bukan rahasia umum lagi jika seluruh staf rumah sakit sudah tahu akan pernikahan mereka yang diam-diam tanpa resepsi itu.


"Maaf, Dokter! Dokter senior meminta Anda menemuinya di ruangan beliau," ucap sang perawat itu menyampaikan pesan.


"Saya akan ke sana sebentar lagi."


"Baik, Dok! Saya permisi!"


Setelahnya seorang perawat itu berlalu pergi. Dokter Ardi bangkit dari sofa yang tadi ia duduki. Pria itu menyambar handphone yang tadi ia letakkan di atas meja kerjanya. Lalu, kembali menghampiri Suster Lina yang masih duduk di sofa.


"Aku harus menemui Dokter Toni. Kamu ingin tetap di sini atau--"


"Aku akan segera keluar, Mas! Permisi!"


Suster Lina langsung memotong dan berlalu pergi dari ruangan itu. Ia sudah tidak tahan. Ia ingin menangis karena semua pengungkapannya tadi terasa bagai tak berarti. Dia tahu bahwa konsekuensi paling menyakitkan yaitu tertolaknya perasaannya ini, tapi tetap saja dia merasa begitu sakit saat secara tak langsung pria itu sudah menolaknya tanpa harus menjawab.


"Huh!" Dokter Ardi menghela napas lelah.


Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia tidak tahu jika Suster Lina sudah sejak lama memiliki perasaan padanya. Entah kenapa, tahu akan perasaan wanita itu untuknya bukannya senang, pria itu malah berpikir negatif. Mungkinkah, jika kejadian malam ketika mereka mabuk saat itu adalah rencana Suster Lina?


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2