
Di bulan November, mulai sering hujan turun. Ketika itu Karmila mencuci pakaian sangat banyak karena dua hari tidak mencuci.Karmila menjemur pagi hari, tetapi siangnya cuaca redup kembali.Pakaian yang dijemur ada yang kering sebagian, dia menyuruh cucunya mengambilnya, tapi karena sedang tidur, dia tak mempedulikannya saking ngantuknya.Karmila menggedor-gedor pintu kamar cucunya sambil berteriak tidak sabar.Karena tidak ada sahutanpun, akhirnya Karmila menendang pintu kamar dan dengan dua kali tendangan pintu terbuka."Brak..!" suara pintu kamar terbuka dan cucunya bangun terus duduk masih setengah sadar.Karmila menggerutu kesal, karena hujan tiba- tiba datang, sedangkan jemuran sudah sebagian kering.Akhirnya suaminya turun tangan membantu mengangkat jemuran.Karmila tidak memperhatikan pintu yang ditendangnya tadi.Dia langsung beristirahat lelah bercampur kesal karena jemurannya basah semua.Pikir dia pintu kamar cucunya yang ditendangnya, slotnya jadi bergeser dan terbuka.Pada malam pukul sebelas, Karmila dikejutkan oleh Diana yang ribut mau membeli kunci untuk pintu anaknya.Tasmapuja tidak tahu, karena tidak ada yang bilang kalau kunci kamar cucunya terlepas, begitu juga Karmila tidak mengira kalau kemarahannya membuat tendangan yang kuat hingga paku slot pintu kamar cucunya terlepas.Malam itu juga Tasmapuja membetulkan kunci kamar cucunya.Setelah selesai, Tasmapuja menceramahi istrinya,agar selalu sabar terhadap perilaku cucunya."Bu, kasihan cucu kita sepertinya tertekan, tidak salah kalau ibu meminta maaf,"nasehat suaminya.Karmila menurut, diketuknya pintu kamar cucunya bermakdud minta maaf, karena tidak ada sahutan akhirnya Karmila masuk kamarnya lagi.Sampai di kamar, suaminya bertanya, " Sudah minta maafnya?" tanyanya penasaran."Belum, pintunya tidak dibuka, entah sudah tidur, entah marah,"sahut Karmila.Tasmapuja kembali berkata,"Lain kali jangan menendang pintu lagi cukup digedor saja,"katanya mengingatkan."Karena marah, aku spontan, sama ketika aku marah karena kamu selingkuh dengan Wulan, aku rasanya ingin menendangmu." kata Karmila mengingat peristiwa itu, kalau tidak ditahan Fahmi suami Wulan, yang kala itu meminta pertanggung jawaban perilaku Tasmapuja terhadap istrinya Wulan.Sedangkan Tasmapuja saat itu takut dan meminta maaf,setengah menangis."Setelah ini kamu datang ke rumah, kita selesaikan masalah ini !" pinta Fahmi sambil berlalu pulang.Dia tidak sanggup melihat Karmila yang marah mencakar suaminya, sambil menangis histeris.Mungkin dengan cepat dia angkat kaki dari rumahnya, Karmila akan mereda amarahnya, pikirnya dalam hati."Sama rasanya aku juga mau membunuh atasanmu yang sudah mengganggumu !" jawab Tasmapuja ketus.Mendengar hal itu, amarah Karmila timbul, karena bila mengungkit peristiwa itu, sama halnya dia mengingatkan janji Tasmapuja yang berjanji akan setia setelah perselingkuhan dengan adiknya.Namun karena hari sudah lewat tengah malam, Karmila segera turun untuk meredakan amarahnya.Dia mengambil wudlu dan shalat.Ketika shalat, air matanya tak tertahankan.Dia menangis dalam shalat dan do'anya.Setelah itu dia mengaji sambil mencurahkan air mata, sekali- kali dia membuang ingus yang ditimbulkan karena tangisnya.Karmila baru pergi tidur lagi ke kamarnya setelah suaminya mau shalat malam di mushala tempatnya tadi.Namun Karmila tidak bisa tidur lagi, hatinya terasa terluka kembali.Waktu suaminya mengajak berjamaah subuh, dia hanya diam tak menjawab namun mengikutinya.Pertengkaran kecil tadi malam masih mengganggu pikirannya.Setelah shalat Subuh berjama'ah,Tasmapuja bicara lagi," Bangunkan anak dan cucu kita Bu !" katanya memerintah.Karena Karmila masih marah, Karmila membangunkan anak dan cucunya sepintas saja, tidak sampai anak dan cucunya bangun, yang akhirnya Tasmapuja sendiri yang membangunkan setelah selesai dzikirnya.