
Karmila sewaktu sekolah di SMP memiliki 3 sahabat, sahabat pertama bernama Cici Kumala, dia satu SD bahkan sampai ke SMP.Sahabat kedua Tina Kartini, dan sahabat ketiga bernama Rina Anggraini. Tina dan Rina tidak satu SD, namun Tina adalah teman paling dekat dengannya, Tina dan Karmila sama-sama kehidupannya serba kekurangan, karena itulah Karmila dan Tina merasa dekat karena sama-sama orang yang tidak mampu. Lain halnya dengan Cici dan Rina, dia termasuk golongan orang mampu, ayahnya seorang pegawai negeri.Sejak masuk SLTA , mereka jarang ketemu karena kesibukannya masing-masing, karena mereka sekolah yang berbeda jurusan.Karmila mengambil jurusan keguruan, Rina mengambil jurusan teknik, Cici sekolah di SMA Negeri, sedangkan Tina di SMA swasta.Setelah Karmila bersuami dan pergi transmigrasi, mereka tak pernah lagi di dengar kabarnya oleh Karmila.Tapi sewaktu Karmila pulang mengunjungi orang tuanya, Karmila mendengar kabar Tina sudah bersuami dengan kaki-laki punya istri.Kebetulan Tinapun pulang kampung dan berjumpa dengan Karmila.Alangkah senang hati Karmila berjumpa dengan sahabat dekatnya itu."Tin, gimana kabarmu sekarang?" tanya Karmila ketika di rumah ibunya Tina, yang sudah meninggal.Rumahnya diurus kakaknya yang pertama."Aku baik-baik saja, anakku baru satu laki-laki, jawabnya sambil menunjukkan foto di dompetnya.Ketika itu dia pulang sendirian, anak dan suaminya tidak ikut."Lalu mengapa kamu dapat suami yang sudah punya istri?"tanya Karmila heran, karena Tina memiliki wajah cukup cantik, kulitnya putih, pasti banyak yang suka pada Tina."Aku mungkin merasa patah hati, sehingga aku memilih pria semauku," jawabnya sambil menceritakan kisah cintanya dengan pria tetangganya yang bernama Diding.Diding pemuda yang gagah dan berparas manis, namun cinta mereka tak dapat restu dari orang tua Diding, sehingga Tinapun pergi merantau dan akhirnya berjodoh dengan suaminya sekarang."Kok bisa jatuh cinta pada pria beristri?"tanya Karmila masih penasaran."Itu asal mulanya saya kos di rumahnya, istrinya cemburu dan melabrakku, aku sakit hati akhirnya kurebut saja sekalian, jawab Tina jujur, karena dia tidak merasakan jatuh cinta pada awal jumpa dengan suaminya, tapi entah mengapa, sejak dilabrak istrinya, hatinya merasa tertarik untuk hidup bersama dengan laki-laki yang telah beristri itu mengingat usianyapun sudah cukup berumur untuk hidup sendirian, apalagi laki- laki tersebut mau meminangnya.Tina dengan tidak ragu-ragu menerima laki-laki itu karena sudah sakit hati pula pada istrinya yang melabraknya, padahal semula tidak ada niatan untuk menyakiti istrinya.Andai istrinya tidak marah dan melabraknya, dan meminta baik-baik untuk menghindari suaminya maka Tinapun akan pergi menghindar dari laki-laki yang menggodanya karena sudah beristri.Istri tuanya akhirnya pasrah, dia menerima suaminya menikah lagi demi kedua anaknya agar tetap bisa dekat dengan ayahnya.Ini demi mempertahankan keluarga, dia harus bertahan walau sakit hatinya.Tinapun selaku istri muda harus bisa berbagi waktu dengan istri pertama suaminya.Tinapun tidak boleh menyesal dia berbagi suami, karena itu sudah pilihannya, akhirnya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dia bekerja menjahit pakaian.Tina tidak mau mengandalkan gaji suaminya saja, dia ingin hidupnya lebih maju, sementara istri tuanya jika merasa kurang, hanya bisa marah dan kecewa pada suaminya yang karena menikah lagi, dia tidak dapat mencukupi kebutuhannya.