
Bugh...
Jack tersungkur di lantai gudang sekolahnya setelah seorang laki-laki memukul wajahnya, sambil mengusap darah yang ada di sudut bibirnya, Jack menunduk. Tidak berani untuk menatap mata laki-laki yang ada di depannya.
"Itu kenang-kenangan dari kita karena kau akan pindah bukan?"
Laki-laki dihadapan Jack berdiri sambil bersedekap dada. Laki-laki itu berkata dengan nada yang merendahkan,
"Kalau disana kau perlakukan tidak baik maka katakan saja kalau kau dalam perlindungan geng black rose"
Laki-laki lain yang ada di belakang laki-laki itu tertawa keras membuat laki-laki itu ikut tertawa juga.
Jack diam, tidak membantah.
Sebenarnya Jack bisa melawan karena dirinya sudah diajarkan bela diri oleh papanya tetapi Jack tidak mau papanya terkena masalah.
Alasan Jack tidak mau papanya terkena masalah bukan karena takut papanya dipanggil oleh pihak sekolah tetapi karena takut papanya akan berurusan dengan geng black rose.
Siapa yang tidak kenal geng itu?
Geng yang bahkan sudah menyebar sampai ke Paris dan Inggris itu sangat disegani.
Jack tidak mau sampai papanya dalam bahaya.
Laki-laki itu menendang kaki Jack yang ada di dekatnya sebelum pergi dari gudang, meninggalkan Jack seorang diri.
"Brengsek"
Jack berkata sambil mengusap dengan kasar darah yang tidak mau berhenti di sudut bibirnya.
Jack berdiri lalu mengambil tasnya yang tergeletak seraya merogoh tas miliknya itu.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Jack menutup kembali tasnya lalu memakai hansaplas yang baru saja dia ambil, di sudut bibirnya.
Jack berjalan keluar gudang dan menutup pintu gudang.
Tapi sebelum itu, Jack menatap sekali lagi gudang yang sudah menjadi tempat dirinya dihajar oleh teman-temannya selama setahun ini.
Tatapan Jack jadi tajam saat mengingat kejadian buruk itu. Karena kejadian itu juga Jack harus membohongi papanya agar tidak khawatir.
Jack berjalan keluar dari gudang lalu sampai di gerbang sekolahnya.
Jack berbalik dan menatap sekolah yang dia tempati selama satu tahun ini.
Jack membuang nafas sebelum berjalan pergi meninggalkan sekolah yang menyimpan banyak kenangan buruknya itu.
Jack berjalan menuju rumahnya sambil bersiul di dalam perjalanan.
__ADS_1
Jack Nathan Moses, laki-laki yang hampir berumur tujuh belas tahun itu tidak pernah mengerti apa itu cinta.
Laki-laki pengecut yang sengaja menyembunyikan jati dirinya agar tidak diganggu.
Laki-laki tampan yang wajahnya sangat mirip dengan papanya saat masih muda. Bahkan saat Jack melihat foto papanya saat masih muda, Jack seperti melihat dirinya sendiri.
Laki-laki yang sangat menyayangi papanya, satu-satunya orang tua yang dia punya.
Laki-laki yang akan menjadi ceria saat bersama papanya.
Laki-laki yang bahkan tidak tau siapa ibu yang sudah melahirkannya.
Jack membuang nafas sekali lagi setelah dirinya sampai di depan rumahnya.
Rumahnya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Bisa dikatakan rumahnya seperti perumahan pada umumnya.
Jack mengembangkan senyumnya sebelum membuka pintu rumahnya yang tertutup.
"Papa, Jack pulang!"
Tidak ada jawaban dari papanya itu.
"Papa?" Panggil Jack lagi.
"Papa...?"
Jack mengembangkan senyumnya lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Oh? Jack udah pulang?"
Ricard mematikan kompor lalu berbalik, menatap anak semata wayangnya dengan tersenyum lebar.
Wajah Ricard meskipun sudah menginjak kepala tiga tetapi masih awet muda.
Bila orang tidak mengetahui siapa Jack dan siapa Ricard pasti orang-orang mengira kalau Jack dan Ricard adalah saudara kembar.
Jack menatap masakan yang berada dibelakang papanya itu lalu mengalihkan pandangannya pada papanya yang tersenyum.
"Laper..." Rengek Jack seperti anak kecil.
Ricard tertawa kecil melihat kelakuan anaknya itu.
Ricard berbalik dan menyiapkan masakannya pada piring lalu menghidangkannya untuk Jack.
Jack langsung tersenyum begitu lebar dan duduk lalu melahap masakan papanya itu.
Seperti biasa, masakan papanya memang selalu enak membuat Jack tidak pernah bosan saat makan masakan dirumah.
__ADS_1
Ricard ikut duduk di hadapan Jack sambil menatap wajah anaknya yang sama persis seperti dirinya.
Ricard mengerutkan keningnya saat melihat hansaplas yang menempel di sudut bibir anaknya. Ricard membuang nafas lelah sebelum bertanya, "Bertengkar lagi?"
Jack tersenyum canggung lalu mengangguk, "Biasa pa, anak muda"
"Papa tidak bisa membayangkan, anak papa yang selalu seperti anak kecil dihadapan papa ini suka sekali bertengkar" ucap Ricard sambil terkekeh.
Jack diam, tidak menjawab, lebih tepatnya tidak ingin menjawab. Jack bahkan menghentikan kegiatan makannya dan tidak berani menatap mata papanya itu.
"Papa heran deh, sering sekali kamu pulang dengan luka di wajahmu tapi kenapa papa tidak mendapat surat panggilan orang tua jika kamu sering bertengkar?" Tanya Ricard heran.
"Ada" jawab Jack singkat.
Ricard mengangkat alisnya, "Mana?"
"Jack buat menjadi sebuah kapal lalu Jack lepasin di sungai dekat sekolah Jack" jawab Jack acuh sambil melanjutkan kegiatan makannya lagi.
Wajah Ricard seketika menjadi datar, menatap anaknya dengan perasaan kesal.
"Perasaan dulu papa tidak pernah berbuat seperti kamu. Bila ada surat panggilan orang tua, papa selalu memberikan surat itu pada pamanmu"
Jack mengangkat bahunya, "Paling sifat turunan dari mama"
Ricard langsung berdiri dari tempat duduknya membuat Jack terkejut.
Wajah Ricard berubah menjadi buruk sebelum Ricard membalikkan badannya untuk memunggungi anaknya, tidak mau sampai anaknya melihat kebencian yang terpancar dari matanya.
"Udah disiapin barang-barang kamu?" Tanya Ricard mengalihkan pembicaraan.
Jack membuang nafas karena selalu seperti ini jika dia menyinggung tentang mamanya.
"Sudah, pa"
"Lalu, kamu sudah bisa memakai bahasa Indonesia?" Tanya Ricard yang mencoba memakai bahasa Indonesia saat ini.
Ricard melirik anaknya yang sedang menatapnya.
"Bagaimana aku nggak bisa kalau papa udah mengajariku bahasa Indonesia dari kecil" jawab Jack jengah.
Ricard tersenyum miring lalu berkata dengan dingin, "Kalau kamu menuruni sifat ibumu itu maka papa akan melepas tangan dari tanggung jawab papa" ucap Ricard memakai bahasa Indonesia.
Jack menahan nafasnya sambil menatap Ricard dengan tatapan rumit. Baru kali ini papanya mengatakan hal ini.
Biasanya jika Jack menyinggung mamanya, hal yang biasa Ricard lakukan hanya mengalihkan pembicaraan.
"Kamu bebas melakukan apa saja dan papa tidak akan melarang. Papa hanya melarang kamu menyebutku dengan sebutan 'papa' bila memang sifat ibumu itu menurun padamu. Dengar itu baik-baik, Jack"
__ADS_1
like.