Jack

Jack
Gadis berambut pirang


__ADS_3

"Jangan coba-coba untuk kabur!"


Bruk.


Tubuh Ricard dan Rendy tersungkur dengan ikatan yang melilit tubuh keduanya. Ricard dan Rendy bekerja sama untuk dapat duduk tegap.


"Sial." Ricard memandangi ruangan gelap di sekitarnya. Meskipun terlihat gelap dan menyeramkan tapi tidak ada tikus yang terlihat.


"Ini pasti ruang interogasi." Ucap Rendy yang menyadari hawa tekanan mendominasi di ruangan ini.


Ricard diam. Untuk ukuran seorang yang sudah menjadi bagian dari geng black rose sejak muda, Ricard sudah tau sejak awal ruangan apa ini.


Ruangan itu terasa sunyi ketika Ricard maupun Rendy tidak ada yang berinisiatif untuk mengawali pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Rendy memikirkan dengan keras bagaimana caranya bisa lepas dari ikatan yang mengikat tubuhnya bersama dengan tubuh om-om ini lalu keluar dari markas geng black rose.


Sedangkan Ricard, dia memikirkan bagaimana keadaan anak-anaknya kedepannya saat tidak ada dirinya.


"Hei nak." Ricard membuka suaranya. "Bagaimana bisa kamu dan gadis itu tadi ditangkap?"


Rendy yang sudah mendengar dengan serius langsung tertawa kecil setelah mendengar apa pertanyaan yang ingin Ricard ketahui. Rendy melirik Ricard yang berada di belakangnya.


"Panjang om ceritanya." Rendy menghela nafas lelah. "Intinya aku ditangkap karena mencoba menyelamatkan Claudia yang sudah di sandera sejak awal."


"Kenapa mereka juga ingin menangkap anakku?" Tanya Ricard.


"Bukankah om sendiri yang mencari gara-gara dengan menghajar mereka langsung di gedung itu?" Tanya Rendy balik dengan bingung.


Pasalnya om di belakangnya itu tiba-tiba datang saat dirinya dan Claudia ditangkap oleh geng black rose. Betapa terkejutnya mereka berdua ketika Ricard langsung menghajar para anggota geng black rose tanpa banyak bicara.


Andai saja mereka berdua tidak di jadikan sandera maka Rendy yakin Ricard bisa membuat semua anggota geng black rose yang ada di gedung tua menjadi terkapar lemah di tanah.


Ricard terkekeh. "Awalnya aku hanya ingin memperingatkan mereka agar tidak mencari masalah lagi dengan anak-anakku. Tapi ya... Semua berakhir seperti ini..."


"Bagaimana om bisa tau kalau ada anggota geng black rose di gedung itu?" Tanya Rendy curiga.


"Hanya menebak." Jawab Ricard singkat.


Rendy tersenyum tipis sambil menatap lantai berwarna abu-abu di bawahnya. Andai saja orang tua Rendy seperti Ricard maka sudah bisa dipastikan bahwa Rendy akan menjadi anak baik-baik.


Sayangnya kedua orang tua Rendy sangatlah bejat. Ibunya sering mabuk-mabukan dan tidak jarang ibunya menyewakan tubuh pada banyak pria hidung belang.


Ayahnya pun tidak berbeda jauh. Seorang preman yang hobinya judi dan mabuk. Bisa ditebak bagaimana anak mereka tumbuh dengan didikan orang tua yang seperti itu.


Yang perlu di syukuri Rendy tidak menjadi seperti kedua orang tuanya. Hanya sekedar nakal seperti anak muda lainnya yang mengerti batasan.


"Katanya calon ketua cabang itu akan mengumpulkan semua orang yang mencari masalah dengannya akhir-akhir ini." Ucap Rendy memberikan informasi yang dia tau.


"Oh ya?" Ricard menggoyangkan kakinya untuk menghilangkan rasa bosannya. "Jadi kedua anakku juga termasuk di dalamnya?"


"Tentu saja. Calon ketua cabang itu orangnya dendaman." Ucap Rendy cepat.


"Calon ketua cabang? Kenapa kau memanggilnya begitu? Kau tidak tau namanya?" Tanya Ricard heran.


"Memang apa jabatanku di geng black rose sehingga bisa tau namanya?" Rendy tersenyum kecut.


Ricard tersenyum canggung. Kenapa geng black rose jadi menurun begini? Butuh jabatan untuk mengetahui sebuah nama? Sepertinya nanti saat sudah lepas dari sini, Ricard akan mengatur ulang geng black rose bagian Tangerang dari awal.


Cklek...


Ricard dan Rendy menatap pintu yang terbuka secara bersamaan. Terlihat dua orang gadis dengan tubuh bergetar dan membawa makanan di tangan mereka sedang dipaksa masuk oleh salah satu anggota geng.

__ADS_1


Ricard mengerutkan keningnya. Siapa gadis ini? Kenapa terlihat begitu ketakutan? Seingat Ricard, anggota geng yang berjenis kelamin perempuan akan diperlakukan sama seperti yang lain. Jadi kenapa kedua perempuan itu ketakutan?


"Hei, kenapa kamu terlihat takut?" Bisik Ricard pada salah satu perempuan yang berdiri di dekatnya.


Perempuan itu berdiri di hadapan Ricard. "Ah.. ti..tidak apa-apa..." Suaranya terdengar bergetar.


Ricard mengerutkan keningnya dan makin mengerutkan keningnya saat perempuan itu menyuapkan makanan padanya.


Ricard menutup mulutnya rapat-rapat, tidak mau menerima makanan itu membuat sang perempuan ketakutan sekali lagi.


"Tu..tuan... Tolong bu..buka mulut anda..."


Ricard menggeleng dengan tegas. "Apa maksudnya ini?"


Dengan suara pelan dan bergetar akhirnya perempuan itu mengaku bahwa mereka berdua adalah orang yang bertugas sebagai pemberi makanan tawanan seperti Ricard saat ini.


Apa-apaan ini?! Batin Ricard geram. Kenapa geng black rose menurun sampai seperti ini?! Siapa ketua geng black rose kota ini?!


Akhirnya dengan berat hati Ricard mau membuka mulutnya. Rendy pun melakukan hal serupa karena sadar bila dia menolak saat ini maka menunggu jatah makan selanjutnya akan sangat lama.


Mereka berdua melewati hari-hari seperti itu. Kadang calon ketua cabang datang dan menyiksa mereka. Kadang juga para anggota lainnya datang dan bermain-main dengan mereka.


Beruntung mereka berdua bukan seorang perempuan. Jika tidak maka sudah pasti para anggota ini akan bermain-main dengan tubuh mereka.


Tidak terasa, dua Minggu sudah terlewati begitu saja. Ketika Ricard berpikir keadaannya akan tetap seperti ini tiba-tiba anggota geng black rose membawa tawanan lain seperti mereka.


Ricard tau jika tawanan itu pasti sudah mencari masalah dengan calon ketua cabang sebelumnya. Tapi betapa terkejutnya Ricard saat melihat siapa yang di bawa.


"Heh! Butuh waktu yang lama untuk mendapatkanmu!" Teriak salah satu anggota seraya membawa masuk tawanan lain.


Seorang gadis kecil berambut pirang terlihat menggerutu dengan luka lebam di wajahnya. Mata gadis itu melebar begitupun dengan Ricard saat mata keduanya bertemu.


"Om Ricard?!" Teriak gadis itu terkejut tapi keterkejutannya tidak bertahan lama.


"Tenang saja om! Aku pasti akan membebaskan om!" Gadis itu berkata dengan semangat sambil tetap bertengkar.


Ricard tidak bicara. Dia hanya melihat setiap tindakan yang gadis itu ambil. Sampai pada akhirnya Ricard berteriak dengan keras.


"Hei! AWAS!!"


Gadis itu menatap Ricard bingung. Sedetik kemudian tubuh mungilnya ambruk setelah mendapatkan serangan keras dari belakang.


BUGH.


.


***


.


Triing! Triiing! Triiiing...


Keynan mengerutkan kening ketika melihat nama istrinya yang tertera di layar handphonenya. Langsung saja Keynan mengangkatnya.


Tut.


"Ada apa sayang?"


"...."


"...Halo?"

__ADS_1


"Key..."


"Kenapa?" Tanya Keynan heran karena suara istrinya sekarang terdengar parau.


"Kayrah..."


"Kenapa dengan putri kita?"


"...Kayrah... Di...culik..."


Tubuh Keynan membeku saat mendengar ucapan istrinya yang begitu mengejutkannya! "Apa maksudmu sayang? Jangan bercanda, nggak lucu tau. Kamu tau kan kalau ucapan sama dengan do'a? Bagaimana bisa kamu berkata begitu tentang anak kita?"


"Key... Aku serius... Aku... Hiks... Nggak bercanda..."


Keringat dingin mulai muncul di wajah Keynan yang menjadi serius. Hal itu membuat orang-orang yang berada di satu mobil dengannya mengerutkan kening.


"Ada apa key?" Tanya Thalita yang duduk di samping Sammy yang sedang menyetir.


Keynan tidak menjawab, dia men-speaker telfonnya.


"Katakan dengan jelas." Nada bicara Keynan begitu serius.


Terdengar isakan tangis di sebrang. "Tadi Kayron pulang hiks... Dengan wajah penuh lebam terus dia bilang kalau kakaknya di culik hiks... Sekarang aku mencari Kayrah di tempat tadi dia main bersama Kayron..."


Tubuh semua orang yang mendengarnya langsung membeku. Kayrah diculik? Apa lagi ini? Kenapa masalahnya makin bertambah?


"Apa Kayron bersamamu sekarang?" Tanya Keynan yang mulai tegang.


"Hiks... Enggak, dia ada dirum--ah.. itu dia..."


"Coba berikan telfon ini pada Kayron." Keynan menggertakkan giginya.


"....."


"Ron?"


".....ayah aku... Aku gagal menjaga kakak..." Suara Kayron terdengar bergetar.


"Tidak. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Sekarang coba ceritakan apa yang terjadi.."


"Tadi.. aku dan kakak jalan-jalan di sekitar rumah... Terus... Ada... Banyak orang yang menghadang kami... Lalu... Kakak... Jantung kakak sakit... Kakak nggak kuat bertengkar... Dan.. kakak dibawa pergi.. hiks. Aku nggak bisa jaga kakak... Aku lemah ayah... Hiks... Bagaimana dengan kakak sekarang..."


Keynan memejamkan matanya, wajahnya sudah pucat pasi. Sammy menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu semuanya pun fokus pada suara Kayron sekarang.


"Kamu tau siapa yang menculik? Atau ciri-cirinya?" Tanya Keynan sambil menahan tangisnya.


"Aku tau... Mereka pernah bertengkar denganku dan kakak..."


"Siapa?! Siapa mereka? Katakan Kayron!" Di dalam suara Keynan terdapat amarah.


"...geng black rose..."


Geng black rose!


Tubuh semua orang langsung menjadi tegap saat mendengar kalimat familiar itu. Karena keluarga Keynan tinggal di Tangerang maka sudah pasti geng black rose mana yang dimaksud. Sekarang setiap orang di dalam mobil menyimpan amarah mereka yang besar.


Berani sekali menculik Ricard dan Kayrah!!


Pikiran semuanya saat ini hanya satu yaitu menghancurkan geng black rose bagian Tangerang apapun yang terjadi!


.

__ADS_1


Like.


__ADS_2