
Sudah satu Minggu lebih beberapa hari terlewati sejak Ricard dibawa pergi oleh anggota geng black rose entah kemana. Selama ini pula Jack dengan telaten merawat Claudia sampai gadis itu benar-benar sembuh.
Akhirnya Jack tau apa yang sebelumnya tidak pernah dia tau. Ternyata papanya, Ricard, sejak awal memang sudah menyerah untuk menyelamatkan Claudia.
Jack memejamkan matanya saat tau kenyataan itu. Wajar saja Ricard kecewa padanya. Dirinya adalah anak kandung Ricard satu-satunya tapi dia lebih memilih menyelamatkan seorang gadis daripada Ricard.
Jack punya alasan. Pertama, Claudia adalah perempuan. Jack tidak berani membayangkan bagaimana kondisi Claudia jika benar-benar dibawa oleh geng black rose.
Kedua, Jack yakin papanya bisa menjaga diri dengan baik sebelum ia datang menjemput.
Tapi sekarang Jack goyah juga. Sudah satu Minggu lebih tapi belum ada tanda-tanda ditemukannya markas baru geng black rose bagian Tangerang.
Dewa berusaha sangat keras. Setiap hari, dibalik pintu kamarnya yang tertutup rapat, Dewa selalu setia dengan laptopnya untuk memantau perkembangan ditemukannya markas geng black rose.
Meskipun sudah berusaha keras seperti itu, Dewa belum bisa menemukan markas itu. Dewa penasaran juga akhirnya, dimana geng black rose membangun markas mereka sampai sangat susah untuk dilacak? Itu pikiran Dewa.
Di perusahaan keluarga Moses juga perusahaan milik Ricardo, Adit mengerutkan alisnya selama satu Minggu lebih ini. Dia bingung karena Ricard tidak memberikan laporan perkembangan kedua perusahaan yang ada di Indonesia.
Pikiran-pikiran liar pun mulai memenuhi kepala Adit. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Ricard apalagi saat Adit mencoba menelfon Ricard, handphonenya tidak aktif.
Sialnya Adit tidak punya nomer telfon Jack ataupun Dewa. Pada akhirnya Adit hanya bisa menelfon Thalita yang kabarnya akan kembali ke Indonesia setelah semua urusannya selesai.
Thalita menanggapi kekhawatiran Adit dengan serius. Hal itu membuat Thalita lebih cepat menyelesaikan urusannya.
Saat ini Dewa memijat keningnya yang pusing sembari terus memantau laptopnya. Terlihat beberapa titik merah yang mencapai angka puluhan di laptopnya.
Dewa mendesah kesal dan memejamkan matanya saat pencarian untuk markas baru geng black rose gagal lagi.
"Kenapa susah banget cari titik terang markas geng black rose yang baru?" Gumamnya.
Dari satu Minggu yang lalu pencarian yang ia lakukan selalu berakhir sia-sia seperti sekarang. Awalnya titik merah hanya ada satu di laptopnya lalu lama kelamaan akan bertambah banyak.
Diantara banyaknya titik merah itu hanya ada satu tempat yang menjadi markas geng black rose yang baru dan Dewa tidak tau dimana itu.
"Kacau. Terpaksa aku harus kesana." Dewa berdecak kesal.
Saat orang tua kandungnya masih hidup, Dewa ikut menjadi anggota di sebuah geng yang berada di Tangerang.
__ADS_1
Geng itu dipimpin oleh wakil ketua. Katanya ketua geng itu sedang melakukan studi di luar kota bertahun-tahun sampai saat ini. Ketua geng itu tidak pernah muncul bahkan sudah dua kali wakil ketua geng itu diganti.
Wakil ketua yang memimpin geng itu saat ini kebetulan adalah sobat karibnya Dewa. Dewa berencana untuk meminta bantuannya.
Padahal dulu Dewa pernah bertekad tidak akan kembali ke geng itu lagi. Tapi apalah daya, ia akan melakukan apapun demi menyelamatkan Ricard karena Ricard lebih penting dari tekadnya.
Dewa menghela nafas panjang. Dirinya bangkit dan mengambil sebuah kotak di bawah tempat tidurnya. Dewa membuka kotak itu lalu menatap isinya.
Sebuah jaket hitam dengan logo serigala putih yang sedang mengaung di bawah bulan purnama.
Dewa mengambil jaket itu lalu menyimpan kembali kotaknya ke bawah tempat tidur. Dewa mematikan laptopnya sambil bersiap-siap.
Setelah selesai bersiap-siap, Dewa keluar dari kamarnya sambil membawa jaket berwarna hitam itu.
Saat melewati ruang tamu, Dewa melihat Jack sedang menyuapkan makanan pada Claudia. Pandangan Dewa menjadi datar saat melihat itu. Dewa melewati kedua orang itu tanpa banyak bicara.
"Mau kemana?" Jack bertanya saat Dewa membuka pintu rumah.
"Pergi." Jawab Dewa singkat. Setelah itu dia menutup pintu rumah dan pergi dengan berjalan kaki.
Dewa tidak memiliki motor, atau lebih tepatnya Dewa menolak punya motor saat Ricard ingin membelikannya. Karena Dewa pikir motor Jack sudah cukup untuk mereka berdua.
Dewa berjalan cukup jauh sampai akhirnya dia tiba di sebuah gedung besar yang jauh dari penduduk. Ada patung serigala berwarna putih yang sedang mengaung di depan pintu masuk.
"Siapa?" Tanya seseorang yang menjaga pintu masuk.
"Dewa." Jawab Dewa sembari memakai jaket berlogo serigala putih itu.
Setelah melihat jaket itu, para penjaga pintu masuk langsung mempersilahkan Dewa masuk. Dewa berjalan menuju lantai dua dengan santai. Karena dia memakai jaket itu, anggota geng yang awalnya mengerutkan kening karena tidak pernah melihat wajahnya langsung jadi sedikit lebih santai setelah melihat jaket yang Dewa kenakan.
Dewa memasuki sebuah ruangan tanpa mengetuk pintu membuat seseorang yang berada di dalam ruangan langsung tersentak kaget.
"Astaga anak ayam!" Teriaknya sambil memegangi dadanya karena terkejut.
Dewa mendesah jengah lalu dia duduk di hadapan orang itu. Orang itu menetralisir keterkejutannya sambil menunggu Dewa berbicara.
"Billy." Panggil Dewa dengan wajah datar.
__ADS_1
"Dewa." Billy ikut memanggil Dewa dengan tatapan tajamnya. "Tumben Lo kemari?"
"Gue butuh bantuan Lo."
Billy yang mendengar itu langsung menggebrak meja dengan keras. "Sial Lo! Udah lama nggak kemari, sekali kemari butuh bantuan?!"
"Gue serius." Pandangan Dewa menjadi serius. "Ini tentang bokap gue."
"Bokap?" Beo Billy sembari mengerutkan keningnya. Billy tau kalau kedua orang tua Dewa sudah meninggal maka dari itu Billy menjadi bingung saat Dewa berkata tentang ayah.
Dewa seperti tau apa yang dipikirkan oleh Billy. Dia berkata, "Bokap baru gue. Beliau diculik."
"Diculik?" Suara Billy makin meninggi. Jadi seorang bapak-bapak yang menjadi ayah Dewa saat ini sedang diculik? Siapa yang menculiknya? Dan untuk apa?
Dewa mengangguk. "Geng black rose pelakunya."
"Gimana Lo bisa tau kalau geng black rose pelakunya?" Billy menjadi serius karena ini menyangkut tentang geng black rose.
Bagaimanapun juga sekarang geng ini dipimpin oleh Billy meskipun jabatannya hanya wakil ketua. Geng ini memiliki kisah tersendiri dengan geng black rose.
Ketua geng ini yang hilang entah kemana mempunyai hubungan dengan anggota penting dari geng black rose. Bahkan bisa dikatakan hubungan ketua geng ini dengan anggota penting geng black rose itu adalah sahabat.
Makanya Billy menjadi serius karena ini menyangkut hubungan ketuanya.
"Gue ada di sana. Gue dan saudara angkat gue bertengkar sama geng black rose. Saat itu geng black rose membawa pergi bokap gue entah kemana." Jelas Dewa lesu.
"Terus Lo butuh apa? Asal Lo tau, gue nggak bisa ngarahin geng ini buat nyerang geng black rose." Billy mengingatkan.
Dewa tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Dia sudah tau itu dan itu bukan yang ia butuhkan saat ini. "Gue butuh lokasi pasti markas geng black rose yang baru."
Billy mengamati Dewa lekat-lekat, mencoba untuk mencari tanda-tanda kebohongan dari matanya tapi yang Billy temukan hanya kesedihan mendalam.
Billy menghela nafas panjang. "Anda sudah mendengar semuanya. Sekarang apa anda bisa membantu temanku ini?"
Seseorang keluar dari persembunyiannya.
.
__ADS_1
Like.