
Jelas Rafli tau tentang geng black rose karena bagaimanapun Rafli adalah mantan pelayan pribadi Ricard yang adalah orang penting di geng black rose.
"Hng! Geng black rose sudah sangat menurun ternyata. Hanya karena ketua besar kalian tidak ada di Indonesia, kalian sekarang menjadi geng menjijikan seperti ini?" Ejek Rafli tanpa ada rasa takut.
Sebaliknya, orang-orang yang mengepung Rafli sudah sangat ketakutan ketika mendengar ucapan Rafli yang tau tentang geng black rose.
Mereka tidak menyangka akan mencari masalah pada orang yang sangat mengetahui tentang geng mereka.
Jack dan Dewa menaikkan alis mereka. Memang mereka mengetahui tentang geng black rose tetapi mereka tidak mengetahui tentang apa yang diketahui oleh Rafli.
Bahkan mereka baru tau kalau geng black rose punya ketua besar.
Melihat wajah ketakutan dari anak-anak kecil yang baru saja dihajarnya, Rafli menjadi iba juga akhirnya.
"Sudah, sana pergi. Jangan cari masalah lagi" ucap Rafli sambil menghela nafas pelan.
Dengan cepat orang-orang dari geng black rose itu pergi tanpa menoleh lagi.
Pengunjung yang melihat itu juga langsung mengalihkan pandangan mereka, tidak berani menatap Rafli lebih lama.
Jack tersenyum melihat itu sedangkan Dewa menelan ludahnya. Dewa sadar kalau mereka berdua akan terkena masalah besar kelak tetapi Dewa tidak ingin memikirkan hal itu sekarang.
"Paman, mari kita bertemu papa. Papa pasti senang melihat Paman lagi" ajak Jack pada Rafli yang menatapnya.
Rafli tersenyum manis ketika memikirkan Ricard lalu Rafli mengangkat tangannya sambil menggeleng pelan. "Tidak. Paman tidak bisa"
"Kenapa, Paman?" Tanya Jack heran.
"Paman harus pergi, bertemu dengan tuan muda disini adalah sebuah kebetulan. Paman juga tidak menyangka akan bertemu lagi dengan tuan muda ketika tuan muda sudah besar" jelas Rafli.
"Tapi, Paman sudah lama tidak bertemu dengan papa. Apa Paman tidak rindu pada papa?" Tanya Jack penasaran.
Rafli tersenyum samar, "Melihat tuan muda sudah seperti melihat tuan Ricard. Tuan muda, saya senang bisa melihat wajah itu lagi" ucap Rafli lalu berbalik badan dan berjalan meninggalkan Jack.
"Kenapa Paman tidak mau bertemu dengan papa?" Tanya Jack sedikit keras.
Masih berjalan menjauh dan tanpa menoleh, Rafli mengangkat tangannya sekali lagi. "Paman tidak ingin merepotkan tuan Ricard"
"Merepotkan papa? Memangnya apa yang akan membuat papa repot?!"
Rafli tidak menjawab, hanya tersenyum kecil. Rafli percaya kalau tuannya tidak akan repot dengan masalah yang dihadapinya saat ini bahkan Rafli sangat yakin kalau tuannya itu malah akan membantunya untuk sembuh.
Rafli sekarang hanya mempunyai satu ginjal, seperti ayahnya dulu.
Karena faktor keturunan, Rafli juga menderita penyakit yang membuat salah satu ginjalnya hilang seperti Mustofa, ayahnya.
Rafli tidak mau lalai untuk menjaga Ricard karena penyakit ini, jadi Rafli memutuskan untuk meninggalkan Ricard dulu setelah Rafli tau kalau dia menderita penyakit ginjal.
Tentu, alasan karena ingin menghabiskan waktu bersama istri barunya itu bohong.
__ADS_1
Rafli tidak ingin membuat Ricard khawatir karena selain hubungan antara pelayan dan majikan, Rafli sudah menganggap Ricard sebagai kakaknya didalam hatinya.
Lebih baik dia memendam semuanya sendiri dan dia sendiri yang merasakan sakitnya mempunyai satu ginjal.
Itulah pikiran sederhana Rafli.
***
Siang hari cerah menyambut Jack dan Dewa yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang.
Karena pembullyan yang dilakukan selama satu minggu lebih ini, salah satunya membuat motor Jack jadi korban.
Akhirnya motor Jack dibawa ke rumah sakit bengkel yang terdekat dengan rumah.
Dengan alasan sering mogok karena sudah lama tidak di servis, akhirnya Ricard yang curiga jadi percaya dengan alasan itu.
"Papa jemput kita?" Tanya Dewa sambil menatap Jack yang bingung.
"Enggak. Papa nggak bila akan jemput kita" jawab Jack.
"Oh... Kupikir papa jemput kita"
"Kenapa?"
"Itu, ada orang yang mirip papa" ucap Dewa sambil menunjuk salah satu orang yang sedang bersandar di mobilnya.
Jack mengerutkan keningnya sambil mengamati orang itu lebih teliti lalu Jack menoyor jidat Dewa, "Itu memang papa, tolol" ucap Jack kesal.
"Papa sendiri nggak tau" celetuk Jack jengah lalu berjalan menghampiri papanya diikuti Dewa dari belakang.
Ricard yang melihat kedua anaknya menghampirinya langsung tersenyum, "Papa kira kalian sudah pulang"
"Papa kok nggak bilang-bilang kalau mau jemput kita?" Tanya Dewa heran.
Ricard tertawa, "Untuk kejutan"
Bohong.
Ricard hanya ingin memastikan kalau tidak terjadi apa-apa pada anaknya karena dengan alasan yang Jack dan Dewa berikan sehari-hari untuk menjelaskan tentang darimana luka lebam diwajah mereka itu didapat, Ricard jadi curiga.
Tapi setelah Ricard menghampiri kepala sekolah dan bertanya ternyata tidak ada masalah apa-apa yang dihadapi oleh kedua anaknya.
Ricard jadi sedikit tenang dan makin tenang ketika melihat kedua anaknya baik-baik saja kali ini.
"Ada apa, pa?" Tanya Jack sambil menatap Ricard.
"Papa hanya ingin mengajak kalian berdua makan bersama" ucap Ricard lalu berjalan dan membuka pintu mobilnya.
"Ayo masuk" Ricard berkata dengan heran saat melihat kedua anaknya masih berdiri.
__ADS_1
Jack dan Dewa langsung tersadar dan memasuki mobil.
Akhirnya mobil itu berjalan menuju salah satu restoran di dekat sekolah.
Mobil itu berhenti tidak lama kemudian ditempat tujuan lalu keluarlah ketiga laki-laki yang menarik perhatian para kaum hawa.
Ricard memasuki restoran terlebih dulu lalu duduk ditempat yang dekat dengan jendela kaca diikuti oleh Jack dan Dewa juga salah satu pelayan.
"Silahkan dipilih" ucap pelayan itu ramah sambil menyodorkan sebuah buku menu.
Ricard menerima buku itu lalu tersenyum, "Terimakasih"
Pelayan itu membuang pandangannya dengan pipi yang memerah membuat Jack dan Dewa yang melihat harus menahan tawa mereka.
"Saya ingin nas--" Ricard menghentikan ucapannya saat mengingat menu yang akan dia pesan adalah menu kesukaan Keysha.
Ricard tersenyum sekali lagi lalu menatap pelayan itu dan berkata, "Nasi goreng spesial pakai telur mata sapi"
Ricard mengalihkan pandangannya pada kedua anaknya sambil menyodorkan buku menu yang Ricard pegang. "Pesan apa?"
Jack tidak menyentuh buku menu itu melainkan tersenyum pada pelayan dan berkata, "Apakah disini ada gurami bakar?"
"Eh? Apakah kalian kembar?" Bukannya menjawab pertanyaan Jack, pelayan itu malah menanyakan hal lain yang membuat Ricard terbatuk karena harus menahan tawa.
"Uhuk, dia anak saya. Apakah membeli makanan disini harus pakai identitas?" Tanya Ricard sambil tersenyum.
"Ah, maafkan saya" pelayan itu langsung meminta maaf dengan kepala menunduk.
"Tidak apa-apa" jawab Jack tidak masalah. "Tapi disini ada gurami bakar kan?"
"Tentu!" Jawab pelayan itu ramah.
"Kalau begitu saya pesan nasi putih dengan gurami bakar!" Ucap Dewa sambil menutup buku menunya.
Jack terkekeh pelan lalu berkata, "Saya pesan yang sama"
"Baik!" Pelayan itu mencatat pesanannya lalu mengambil buku menu itu dan berjalan menuju dapur.
"Papa nggak masak?" Tanya Jack bingung karena tidak biasanya papanya ini mengajak makan diluar.
Ricard tersenyum dan menggeleng, "Sekali-kali makan diluar kan nggak apa-apa"
"Iya sih, tapi bagaimanapun akan tetap enak makan masakan papa yang lezat itu!" Seru Dewa sambil menjilati bibirnya.
"Betul itu!" Timpal Jack setuju.
Ricard hanya terkekeh mendengar itu tapi sebelum Ricard berbicara, suara lembut yang pastinya milik seorang perempuan itu terdengar di telinga tiga laki-laki yang sedang berbincang itu.
"Jack?"
__ADS_1
like