Jack

Jack
Raport


__ADS_3

Cuaca hari ini begitu cerah membuat semua pengurus OSIS yang ada di sekolah kepanasan meskipun hari masih pagi.


Sebagian pengurus OSIS sibuk mengarahkan para orang tua murid yang akan mengambil hasil nilai dari belajar anak mereka satu semester ini.


Sebagian lainnya sibuk berbincang. Ada juga yang sibuk berebut kipas angin yang baru saja dikeluarkan oleh ketua OSIS.


"Sabar woi!" Teriak ketua OSIS saat dirinya langsung dikerumuni oleh para anggotanya.


"Nggak bisa! Panas banget astaga!"


"Waah! Rasanya aku pengen makan orang!"


"Minggir orang ganteng mau lewat!"


Ketua OSIS hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan para anggota OSIS.


"Aduh, ketos. Tolong dong bawain kipas kondangan yang besar itu! Sumpah, panas banget!"


Mendengar seruan salah satu anggota OSIS membuat semua yang mendengarnya menyahut setuju.


Ketua OSIS menggelengkan kepalanya pelan lalu berkata, "Tahan, bentar lagi pulang"


"Pulang apanya?! Ini masih wali murid kelas dua, belum kelas tiga!" Gerutu anggota tadi.


Memang di sekolah ini penerimaan raport harus dilakukan secara bertahap agar para guru maupun OSIS tidak kewalahan.


Di saat para anggota masih menggerutu karena panasnya hari ini, salah satu wali murid dengan menggunakan jas menghampiri mereka.


"Permisi"


Sontak saja semua anggota OSIS termasuk ketua OSIS menoleh. Disaat yang bersamaan, wali murid itu membuka kaca mata hitamnya


"Ada yang bisa saya bantu?"


Meskipun ketua OSIS cukup kaget seperti anggota OSIS lainnya karena melihat wajah yang mirip dengan orang yang terkenal di sekolah belum lama ini, ketua OSIS tetap menyambut wali murid itu dengan ramah.


"Ah, saya lupa tanya kelas anak saya. Apa kamu tau--"


"Ricard?"


Sebelum Ricard meyelesaikan pertanyaannya, suara milik wanita paruh baya menyela ucapannya.


"Eh? Bu Windy?" Ricard terkejut saat melihat guru paruh baya itu yang masih bekerja disini.


"Wah, ibu merasa tersanjung kamu masih mengingat ibu" ucap Bu Windy sambil tersenyum lebar.


"Bagaimana saya bisa melupakan wali kelas saya sendiri?" Ricard membungkukkan badannya untuk menyamakan tinggi dengan Bu Windy lalu Ricard menyalimi tangan Bu Windy.


"Hahaha, nak Ricard kamu masih juga sopan padahal kamu adalah--"


"Status tidak bisa merubah umur ya Bu" sela Ricard sambil tersenyum penuh makna.


"Oh? Maafkan ibu nak" Bu Windy baru sadar dia hampir melakukan kesalahan setelah Ricard menyela ucapannya sambil tersenyum seperti itu.


"Tidak masalah" Ricard menanggapinya dengan tersenyum, "Tapi maaf Bu, saya masih harus mengambil raport anak-anak saya" ucap Ricard yang tidak enak.


"Ah, maaf ibu lupa" Bu Windy tersenyum canggung lalu berkata, "Kebetulan ibu adalah wali kelas Jack dan Dewa"


"Oh? Benarkah?" Jelas Ricard tidak tau dan itu membuat Ricard terkejut saat tau. "Kenapa bisa kebetulan gitu ya?" Ricard tertawa diikuti oleh Bu Windy yang juga ikut membenarkan.


"Udah-udah, nak Ricard pasti sibukkan? Ayo ikut ibu ke ruang kepala sekolah" ajak Bu Windy ramah.


"Ruang kepala sekolah?" Ricard bertanya sambil mengangkat alisnya, "Apa Jack dan Dewa membuat masalah selama satu semester ini?"


"Oh tidak! Malahan mereka berdua itu anak pintar. Kita ke ruang kepala sekolah karena raport kedua anak itu akan diurus oleh kepala sekolah sendiri" jelas Bu Windy.


"Ahahaha, tapi maaf Bu, saya harap semester depan tidak ada perlakuan spesial seperti ini lagi. Saya tidak mau diperlakukan berbeda dengan wali murid yang lain" ucap Ricard yang merasa harus merubah sikap para guru disini karena dia khawatir dengan pertumbuhan Jack dan Dewa nantinya.


"Kamu selalu seperti ini Ricard" jelas Bu Windy bangga pernah menjadi wali murid Ricard yang menurutnya sangat rendah hati ini.


Ricard tersenyum, "Saya akan bicarakan hal ini pada kepala sekolah"


"Baiklah, mari ibu antar"


Setelah Bu Windy mengucapkan itu, Ricard tidak langsung pergi dari sana tetapi masih memperhatikan pengurus OSIS yang melihat interaksinya dengan Bu Windy sedari tadi.

__ADS_1


Ricard tersenyum lalu berkata dengan lembut, "Sepertinya kalian kepanasan" Ricard merogoh sakunya lalu mengeluarkan dompet yang ada di dalam sakunya.


Ricard mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribu lalu menyerahkannya pada ketua OSIS, itu adalah semua uang yang ada di dalam dompet Ricard.


"Kamu ketua OSIS-nya bukan? Terima ini, belikan anggotamu beberapa makanan juga minuman dingin. Anggap saja sebagai bayaran atas kerja keras kalian. Kerja bagus"


Ricard tersenyum saat melihat ketua OSIS itu menerima uangnya sambil melongo menatapnya. Setelah uang itu diterima, Ricard mengikuti Bu Windy yang sedang menunggunya.


Setelah Ricard pergi pun para anggota OSIS beserta ketua OSIS-nya masih tidak percaya dengan yang terjadi barusan.


Bu Windy sungguh bangga pernah menjadi wali murid Ricard dan dia merasa begitu terhormat saat menjadi wali murid anak Ricard.


Bu Windy mengusap punggung Ricard lalu berkata, "Pasti capek ya mengurus semuanya sendiri?"


Ricard menatap Bu Windy sambil terkekeh seperti yang biasa dilakukannya dulu. "Nggak kok Bu, malahan saya bangga bisa mengurus anak dan dua perusahaan besar seorang diri"


"Hahaha, iya. Saya lupa kalo Ricard itu lelaki yang kuat" Bu Windy bahkan hampir menangis saat mengingat masa-masa yang lalu.


Ricard tersenyum tipis sebelum berkata, "Sebenarnya saya udah nggak kuat Bu. Saya udah kehilangan gadis yang saya cintai. Saya juga kehilangan orang kepercayaan saya. Lalu saya kehilangan kakak saya. Dan sekarang saya kehilangan orang kepercayaan saya yang baru. Rasanya seperti hidup ini dipenuhi oleh kesialan. Saya... Benar-benar nggak kuat"


Bu Windy melunturkan senyum yang menghiasi wajahnya setelah mendengar curahan hati dari mantan anak muridnya ini.


"Ricard... Ingat, masih ada anak-anakmu"


Ricard diam sebentar sebelum berkata, "Iya, saya bahkan berpikir lahirnya Jack Nathan Moses adalah keberuntungan di tengah kesialan saya"


Bu Windy tidak bisa berkata-kata lagi.


"Maka dari itu Bu," Bu Windy langsung menatap Ricard saat mendengar itu. "Tolong jaga anak-anak saya karena mereka adalah satu-satunya semangat hidup saya" ucap Ricard dengan mata sendu.


"Saya nggak tau apa jadinya bila anak-anak saya juga ikut meninggalkan saya. Saya nggak mau dan nggak pernah mau memikirkan konsekuensi dari pikiran saya itu. Memikirkan bagaimana anak-anak saya lebih memilih istrinya kelak dibanding saya saja sudah membuat saya menangis beberapa hari"


Tepat saat Ricard selesai bicara mereka sampai di depan ruangan kepala sekolah.


Bu Windy memeluk Ricard tanpa pikir panjang sambil mengelus pundak lelaki beranak satu itu. "Tidak Ricard... Jangan berpikir seperti itu. Positif saja kalo berpikir. Jangan memikirkan yang tidak-tidak!"


Tubuh Ricard bergetar sesaat. Mereka seperti kembali ke masa lalu dimana Ricard masih menjadi murid di sekolah ini.


Ricard mengatur nafasnya sebelum membalas pelukan gurunya yang hangat itu sambil berkata, "Ya, saya tidak akan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi. Saya janji Bu"


"Kalian semua sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri dan ibu tau watak anak-anak ibu. Ricard, ibu tau kalo kamu nggak akan mengingkari janji yang kamu buat. Ibu percaya itu"


Ricard tersenyum tulus karena sudah selama apapun waktu berlalu, sifat wali kelasnya ini tidak akan berubah.


"Ayo masuk. Pasti kepala sekolah sudah menunggu kedatanganmu" ucap Bu Windy sambil tersenyum lebar.


Saat mereka akan memasuki ruangan, tiba-tiba langkah Ricard terhenti karena dia mendengar percakapan dua orang siswi yang sedang membicarakan tentang anaknya.


"Kamu tau? Ternyata yang membelikan kita makanan dan minuman itu adalah wali murid Jack loh!"


"Oh ya? Yaampun baik sekali orang tuanya. Aku jadi kasihan saat mengingat Jack di bully tanpa ada yang mau membantu kecuali si Dewa itu"


"Iya, seharusnya kita membantunya karena orang tuanya sudah baik pada kita"


"Tapi apakah kamu mau melawan penguasa sekolah yang membully Jack?"


"Nggak juga sih"


"Hahaha, lalu bagaimana kita akan membantunya?"


"Ah aku tau! Saat Jack di bully bagaimana kalo kita kabur saja? Setidaknya itu mengurangi penderitaannya karena murid yang melihat dia di bully berkurang dua orang"


"Ide bagus! Kita akan lakukan di pembullyan Jack selanjutnya!"


"Setuju!"


Mendengar percakapan itu membuat Ricard menahan amarahnya sampai-sampai ganggang pintu yang dia pegang lepas dari tempatnya.


Tanpa menunggu lama Ricard langsung memasuki ruangan membuat kepala sekolah yang sedang fokus mengerjakan dokumen terkejut setengah mati.


Ricard yang dibutakan oleh amarah langsung menggebrak meja kepala sekolah membuat Bu Windy yang masih mematung di depan ruangan menjadi sadar dan menyusul Ricard yang sedang marah.


"Apa maksudnya?!" Ricard langsung berteriak di depan kepala sekolah membuat kepala sekolah sangat kebingungan.


"Anda... Siapa?" Tanya kepala sekolah ragu-ragu.

__ADS_1


"Ah, pak kepala sekolah. Dia adalah tuan Ricard"


Mendengar ucapan Bu Windy membuat kepala sekolah langsung berdiri dari tempat duduknya.


"T-tuan Ricard"


Ricard tidak peduli dengan itu dan langsung bertanya dengan nada keras lagi sambil menggebrak meja lebih keras.


"Apa maksud percakapan kedua siswi itu?! Anak-anakku dibully?! Oleh siapa?! Kenapa kalian tidak mengehentikannya?! Kenapa kalian hanya menutup mata dan bungkam padaku?!"


Karena pintu ruangan kepala sekolah terbuka ditambah kerasnya suara Ricard juga kerasnya suara gebrakan meja itu membuat pengurus OSIS yang lewat langsung penasaran dan berkumpul di depan ruangan kepala sekolah.


Tidak butuh waktu lama sampai berita tentang ada keributan di ruangan kepala sekolah menyebar dengan cepat karena ini adalah jam istirahat bagi para pengurus OSIS sekaligus persiapan untuk menyambut wali murid kelas akhir.


Sampai-sampai ketua OSIS dan anggota OSIS lainnya berlari untuk bisa sampai di depan ruang kepala sekolah lebih cepat.


Saat ini semua murid yang berkumpul di depan ruang kepala sekolah sedang sibuk berdiskusi tentang apa yang terjadi karena melihat seorang lelaki sedang mengintimidasi kepala sekolah ditambah Bu Windy yang berada di sampingnya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Itu bukannya wali murid dari Jack ya?" Bisik seorang anggota OSIS pada ketua OSIS.


Ketua OSIS mengangguk, "Iya, ada ap--"


Sebelum ketua OSIS melanjutkan ucapannya, suara gebrakan meja yang lebih keras di banding sebelumnya sampai-sampai meja yang di gebrak terbelah menjadi dua terdengar.


Murid-murid yang berkumpul menjadi sangat terkejut dan bergidik ngeri melihat tenaga mengerikan milik Ricard.


"Jawab pertanyaanku!" Bentak Ricard yang mulai geram.


Setelah itu keadaan menjadi sunyi.


"N-nak Ricard..." Bu Windy memberanikan diri untuk mendekati Ricard dan mengusap pundak Ricard. "Tolong tenangkan dirimu nak"


"Tolong diam" nada bicara Ricard berubah ketika berbicara dengan Bu Windy karena bagaimanapun Ricard masih menghormati guru itu.


Ricard melirik raport kedua anaknya yang jatuh akibat meja kepala sekolah yang dia belah menjadi dua. Tanpa banyak bicara, Ricard mengambil raport itu lalu keluar karena dia sadar sudah membuat keributan.


Karena dia tidak ingin bertemu dengan guru-guru lain, jadi Ricard berusaha secepatnya agar bisa pergi dari sini.


Ricard berhenti di depan pintu sambil menatap murid-murid yang bahkan tidak berani bergerak ketika Ricard tatap.


Ricard mengamati satu persatu murid yang ada di hadapannya. Karena dia tadi tidak melihat wajah siswi yang membicarakan anaknya, jadi Ricard juga tidak bisa menemukannya.


Pandangan Ricard berhenti di ketua OSIS yang sedang menatapnya dengan penuh kewaspadaan juga ketakutan.


"Kamu" Ricard menunjuk ketua OSIS itu lalu melanjutkan kata-katanya. "Ikut saya"


Karena sadar dia akan membawa ketua OSIS yang masih memiliki tugas di sekolah ini, Ricard melirik kepala sekolah yang ada di belakangnya.


"Anda tidak keberatan bukan bila saya membawa siswa ini sebentar?" Tanya Ricard datar.


"T-tentu tidak tuan Ricard! T-tapi tolong jangan sakiti dia" jawab kepala sekolah gugup.


"Heh" Ricard mengalihkan pandangannya pada ketua OSIS lalu berkata, "Jangan khawatir. Saya tidak akan melukainya"


"Kamu harus berterimakasih pada anak ini karena bila tidak ada anak ini..." Ricard diam sebentar lalu berkata dengan dingin. "Saya tidak segan lagi untuk merubah sekolah ini menjadi tanah kosong"


Ucapan itu membuat para murid yang mendengar menjadi bingung sedangkan kepala sekolah dan Bu Windy langsung bergidik ngeri.


Setelah itu Ricard merubah wajahnya menjadi kembali ramah dan berkata seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. "Tolong ikut saya. Saya bersumpah tidak akan melukaimu"


Perubahan yang drastis itu membuat semua orang yang melihatnya makin bergidik ngeri. Tidak dengan ketua OSIS yang menyadari bahwa berdiri atau tidaknya sekolah ini ada di genggaman tangan wali murid yang dianggapnya sangat baik.


"Baik. Tapi tolong jangan buat keributan lagi di sekolah saya!" ucap ketua OSIS tegas.


Mendengar jawaban tegas itu membuat mood Ricard membaik seketika. "Hahaha! Anak muda, saya suka gayamu!"


Sedangkan kepala sekolah dan Bu Windy sudah mengucurkan keringat dingin setelah mendengar ucapan ketua OSIS itu.


Bagaimana tidak? Ketua OSIS itu mengatakan jangan membuat keributan lagi di sekolahnya di depan pemilik sekolah itu sendiri?


Ricard bahkan bisa membuat sekolah yang berdiri kokoh ini runtuh dalam semalam kalau dia mau.


Ricard berjalan keluar dari sekolah sambil tertawa ketika teringat masa mudanya dulu setelah mendengar jawaban berani dari ketua OSIS yang sedang mengikutinya dari belakang.


"Hei anak muda, kamu sangat berani. Saya suka kamu. Apakah kamu mau menjadi anak angkat saya?" Tanya Ricard tiba-tiba.

__ADS_1


like.


__ADS_2