Jack

Jack
Sammy


__ADS_3

Sinar mentari menembus jendela kamar Jack membuat sang pemilik kamar mengendus pelan ketika cahaya mentari mengganggu tidur nyenyaknya.


Jack menghalangi sinar itu dengan guling yang dia jadikan perisai di wajahnya.


"Jack! Bangun! Udah pagi!!"


Jack berdecak kesal ketika mendengar suara teriakan yang menggelegar milik papanya itu.


Entah mengapa setiap kali papanya berteriak, Jack merasa seperti papanya itu berubah menjadi sesosok mama yang suka sekali berteriak jika di cerita-cerita novel.


"Iya pa!"


Jack bangkit dari tidurnyanya lalu berjalan ke kamar mandi.


Saat Jack akan melepas pakaiannya, bau harum makanan langsung tercium di indra penciumannya. Seperti biasa, masakan papanya pasti lezat.


Jack mengulas senyumnya dan melakukan kegiatan mandi dengan cepat karena tidak sabar untuk mengincipi masakan papanya.


Untuk seseorang yang tidak mempunyai seorang ibu, Jack sangat beruntung karena di berikan seorang ayah seperti Ricard yang bisa melakukan semua pekerjaan termasuk pekerjaan yang biasa di lakukan seorang ibu.


Jack keluar dari kamar mandi dan langsung memakai seragamnya juga tidak lupa mengambil tas ranselnya.


"Pagi pa" sapa Jack saat menuruni anak tangga sambil memasukkan kancing-kancing bajunya, Jack melihat Ricard yang sedang mencuci piring.


"Pagi" balas Ricard.


"Menu sarapan hari ini nasi goreng?"


"Kenapa? Apa kamu nggak suka?" Tanya Ricard yang menghentikan aktivitasnya.


"Nggak-nggak! Suka kok! Tapi... Bukannya kemarin papa belanja banyak barang ya?"


Memang benar, kemarin Ricard belanja banyak bahan makanan membuat Jack yang melihat itu jadi bingung.


Apalagi bahan makanan itu kemarin memenuhi meja makan yang sekarang berada di hadapannya ini.


"Oh... Itu karena pamanmu akan datang kemari hari ini" jawab Ricard santai.


"Paman?" Ulang Jack sambil mengangkat alisnya.


Ricard mengangguk, "Papa udah janji pada pamanmu dulu, sebelum kamu lahir, untuk mencicipi resep buatan papa"


Jack melebarkan matanya setelah menyadari sesuatu, "Paman Sammy?!"


"Yeah"


"Sungguhkah?! Apa Ben juga ikut?!" Tanya Jack antusias.


Ben, lebih tepatnya Benua Renald, adalah anak semata wayang dari Sammy dan Thalita.

__ADS_1


Sebenarnya Thalita bisa saja membuatkan adik untuk Benua, tetapi karena Sammy jarang pulang, Thalita tidak mungkinkan membuatkan adik dengan lelaki lain.


Apalagi Sammy juga tidak mau memiliki anak lagi karena takut tidak bisa merawat anaknya dengan pekerjaannya sebagai jendral sekarang.


"Papa nggak tau. Udah bicarain nanti saja. Sekarang kamu makan dulu tuh, terus papa nggak bisa nganterin kamu dan Dewa sekarang" ucap Ricard lalu membalikkan badannya untuk membereskan piring-piring yang sudah bersih.


"Eng--"


"Nggak apa-apa kok pa" sela Dewa yang tiba-tiba datang sambil menyengir tidak berdosa.


Jack jadi tersedak nasi yang dia makan sedangkan Ricard langsung berbalik badan hanya untuk memastikan kalau anaknya tidak apa-apa.


Ricard kira Dewa adalah penyusup jadi Ricard langsung siaga untuk membela diri.


"Dewa, kamu ngagetin aja" ucap Ricard sambil mengelus dada. Bersyukur karena tidak ada kejadian buruk apa-apa yang terjadi.


Jack meminum air putih yang tersedia sebelum menatap Dewa dengan kesal.


"Maaf lah" ucap Dewa sambil terkekeh.


Ricard menggeleng sebelum berkata, "Cepat makan sarapanmu nanti terlambat"


Dewa tersenyum begitu manis lalu duduk di samping Jack dan memakan sarapannya.


"Jack beruntung banget punya papa yang jago masak. Aku jadi pengen" ucap Dewa sambil terkekeh.


Ricard berjalan mendekati kedua remaja yang sedang makan itu lalu duduk di hadapan mereka. Meninggalkan pekerjaan yang nanti bisa dia lanjutkan lagi.


"Ya, bukannya sudah dari kemarin papa bilang kalau Dewa sudah menjadi anak papa sekarang" ucap Ricard dengan senyumnya.


Dewa terharu mendengar itu. Dewa tersenyum lalu bertekad kalau dia akan menjaga dan tidak akan membuat papa barunya ini menjadi kecewa.


Jack juga tersenyum mendengar ucapan papanya ini. Dirinya merasa beruntung sekaligus bangga memiliki papa yang sempurna seperti ini.


Setelah kemarin, Jack dan Ricard tau tentang fakta dari Dewa yang tidak mempunyai orang tua, saat itu juga Ricard langsung mengatakan kalau Dewa juga anaknya.


Orang tua Dewa sudah meninggal dan rumah yang ada di komplek ini adalah rumah peninggalan orang tua Dewa.


Sebenarnya Dewa sudah berniat untuk menjual rumah itu agar dirinya bisa terus sekolah tetapi niatnya itu pupus seketika, ketika Ricard sudah membayar lunas biaya sekolahnya.


Dewa merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Jack dan Ricard ini.


Bisa dikatakan kalau rumah Ricard adalah yang terbesar di komplek ini. Jadi sudah pasti Ricard adalah orang kaya.


Menjadi anak angkat orang kaya adalah sesuatu yang bahkan tidak berani Dewa pikirkan.


"Kalian... Berantem?" Tanya Ricard setelah mengamati wajah kedua anaknya.


Sontak Jack dan Ricard menghentikan kegiatan makannya dan menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal.

__ADS_1


"Jack" Ricard menatap Jack dengan datar, "Kamu boleh berantem tapi kenapa malah mengajak Dewa untuk bonyok bersama?"


"Oh nggak pa! Kemarin Dewa sendiri yang berinisiatif untuk berantem, bukan ajakan dari Jack" jelas Dewa dengan cepat.


Ricard terkekeh setelah mendengar pembelaan Dewa. "Oke-oke. Gini Dewa, nanti kamu temani Jack untuk bertemu dengan pamannya"


"Nanti akan kukenalkan kamu pada Paman sammy. Paman Sammy pasti tidak masalah mempunyai satu ponakan lagi" ucap Jack percaya.


Dewa tersenyum lalu mengangguk dengan antusias, "Apa aku akan memiliki sepupu?"


"Ya! Kamu akan memiliki sepupu! Dia bernama Benua dan biasa dipanggil Ben! Aku pernah bertemu dengannya sekali dan itu waktu aku masih kecil" jelas Jack sambil terkekeh.


"Ah... Tapi apakah dia akan suka mempunyai sepupu baru yang tidak memiliki hubungan darah dengannya?" Tanya Dewa sedikit takut dengan kemungkinan yang terjadi.


Ricard kini buka suara, "Melihat dari sifat ayah dan ibunya, dia pasti juga tidak keberatan"


"Sungguhkah?!" Tanya Dewa senang.


Ricard mengangguk membuat Dewa tertawa senang diikuti oleh kekehan Jack.


"Tapi, papa akan ikut menyambut kedatangan Paman Sammy bukan?" Tanya Jack yang curiga dengan sesuatu.


Ricard tersenyum dan menggeleng. "Papa akan bertemu pamanmu tetapi papa tidak bisa menemanimu untuk bertemu dengan pamanmu karena papa harus membantu abangmu yang sedang kesulitan dengan perusahaan keluarga"


"Abang?" Beo Dewa lalu menatap Ricard, "Jack punya Abang pa?"


"Punya dong" jawab Jack cepat. "Namanya bang Adit, nanti aja kukenalkan juga kalau bang Adit kemari"


"Janji ya?!"


"Iya janji"


Dewa bersyukur didalam hatinya karena tidak menyangka mimpi yang sudah lama ia pendam akan terkabulkan disini, mimpi untuk mempunyai saudara.


***


Jack turun dari motornya diikuti oleh Dewa saat mereka sudah sampai di halaman rumah.


Siang hari ini cuaca sedang mendukung manusia-manusia yang berada di bumi untuk tidur.


Tidak terkecuali Jack dan Dewa yang sudah mengantuk. Jack dan Dewa saat ini sangat ingin memeluk guling dan tidur di kasur yang empuk tetapi mereka mengurungkan niat mereka setelah mengingat ada tamu yang akan datang.


Dengan wajah yang pasti ada berwarna biru ke unguannya, Jack dan Dewa berjalan memasuki rumah Ricard lalu membuka pintu rumah itu.


"Uncle Sammy! Welcome to back in here!" Sapa Jack saat melihat Sammy yang sedang melahap makanannya.


Sammy melirik Jack sebentar sebelum memfokuskan pandangannya pada makanan di hadapannya.


"Bahasa Indonesiamu lancar ya ternyata" ejek Sammy yang bangga.

__ADS_1


like.


__ADS_2