Jack

Jack
Kemarahan


__ADS_3

Hiks...


Jangan...


Kumohon...


Pergi!


Jangan kemari!


Jangan berani menyentuhku!


Brengsek!


Hiks... Pergi!


Jangan mendekat...!


Bunuh saja akuu!!


Jangan menyentuhku!!


JANGAN!!


.


***


.


"Hah! Hah.. hah.. hah..." Ricard membuka matanya dengan nafas ngos-ngosan saat memimpikan suara teriakan perempuan yang terdengar pilu.


Kepalanya terasa sakit. Ricard meringis pelan, ingin sekali rasanya memijat kepalanya sendiri tapi saat mencoba menggerakkan tangannya, Ricard sadar bahwa dia sedang terikat.


"Ssstt! Jangan bergerak dulu om..."


Ricard menoleh ke belakang dan menemukan Rendy sedang berusaha membuka tali yang mengikat tubuh mereka berdua.


"Kamu sedang apa?"


"Om kan bisa liat aku lagi berusaha buka ini tali." Ucap Rendy sambil berdecak kesal.


Ricard terkekeh geli lalu berkata, "Memang kamu membuka dengan bantuan apa?"


"Makanya om jangan tidur terus!" Rendy berkata dengan kesal.


"Hei, memang aku yang ingin tidur?!" Ricard juga ikut kesal sendiri.


Ricard juga tidak ingin tidur tapi dia harus tidur setelah obat bius di suntikkan ke tubuhnya oleh anggota geng black rose. Rendy pun di perlakukan demikian. Jika sudah di suntikkan obat bius pasti geng ini sedang merencanakan sesuatu.


Terdengar helaan nafas. "Tadi ada salah satu anggota yang memberi potongan kaca padaku." Ucap Rendy malas.


"Kenapa dia memberimu potongan kaca? Apa yang dia inginkan? Bukankah sangat mencurigakan dia tiba-tiba membantu kita agar bisa keluar dari sini?" Tanya Ricard dengan nada penuh kecurigaan.


Rendy diam sebentar sambil berusaha mengingat apa yang dikatakan oleh anggota yang memberinya potongan kaca itu tadi.


"Oh! Om, kelihatannya om kenal ya sama gadis kecil rambut pirang tadi?"


"Gadis kecil rambut pirang? Gadis kecil man--AH!" Tubuh Ricard membeku saat mengingat memori sebelum dirinya tidak sadarkan diri.


Kepala Ricard celingak-celinguk mencari sesuatu di ruangan ini. Wajah Ricard menjadi pucat saat tidak menemukan siapa-siapa di dalam ruangan ini.


"Ya... Aku juga tau gadis itu... Pasti gadis itu di tangkap karena pernah mengalahkan calon ketua cabang. Tapi yang aku heran kan, bagaimana bisa geng black rose menangkap gadis yang selalu bersama kembarannya itu? Mereka berdua sangat kuat. Aku bahkan--"


"Hei, dimana gadis itu?!" Ricard memotong ucapan Rendy saat remaja itu tengah berceloteh tentang gadis berambut pirang.


Rendy memanyunkan bibirnya, "Tadi di bawa pergi."

__ADS_1


"Sama siapa?!"


"Ya siapa lagi kalo bukan anggota geng ini om..." Ucap Rendy jengah.


"Sial. Sial. Sial. Gimana bisa aku melupakannya?!" Gumam Ricard penuh frustasi.


Rendy hanya diam mendengarkan setiap ocehan yang keluar dari mulut Ricard. Saat Ricard berhenti berceloteh, Rendy berkata. "Anggota yang ngasih potongan kaca bilang padaku untuk menyelamatkan gadis itu."


"Apa yang terjadi?!"


"Em.. aku juga nggak--"


Brak.


Sontak Ricard dan Rendy mengalihkan perhatian mereka pada seseorang yang membuka pintu dengan keras. Terlihat calon ketua cabang memasuki ruangan sembari membawa gadis berambut pirang yang berusaha memberontak.


"Pergi! Brengsek jangan menyentuhku!! Hiks.."


"Oh ayolah... Bersikaplah lebih lembut sayang..." Calon ketua cabang menyentuh pipi Kayrah.


"Huaaa... Ayah tolong! Huhuhu...."


"Sstt, jangan menangis... Ini masih awal loh... Aku bahkan belum memulainya..." Calon ketua cabang itu mencium leher putih Kayrah membuat sang korban makin menangis histeris.


"Lepaskan!! Huhuhu..." Kayrah berusaha memberontak. Dia berusaha melepaskan tali yang melilit tangan dan kakinya.


Cup.


"Tenanglah sayang... Awalnya memang sakit tapi aku akan melakukannya dengan lembut.." Calon ketua cabang itu merobek baju Kayrah.


"Tolong! TOLONG!! Hiks... Huaaa..." Kayrah sudah tidak punya tenaga untuk memberontak. Dia hanya bisa menangis saat calon ketua cabang itu mulai menjajah tubuhnya.


"Brengsek..." Rendy yang melihat itu semakin berusaha memutus tali yang mengikat tubuhnya. Dia sesekali melirik calon ketua cabang yang semakin menjadi-jadi menikmati tubuh Kayrah.


"Om talinya hampir lepas... Nanti kalau udah lepas kita--"


"Wehh, om!!" Rendy terkejut saat tubuhnya tiba-tiba tertarik. Potongan kaca yang dia pegang terjatuh seketika.


Ricard tidak memperdulikan teriakan Rendy. Amarah sudah menguasai diri Ricard saat melihat wajah Kayrah yang terlihat putus asa.


Tuk.


Tali yang mengekang mereka berdua lepas dengan satu gerakan Ricard. Tubuh Ricard naik turun dengan urat-urat yang terlihat menonjol di tubuhnya.


Rendy jatuh sambil menatap Ricard dengan penuh ketidak percayaan. Dia sangat terkejut karena melihat sisi Ricard yang seperti ini.


Calon ketua cabang menghentikan aksinya, dia menatap Ricard dengan penuh kebingungan. Tapi sedetik kemudian tubuhnya terangkat dengan leher yang dicengkeram oleh Ricard.


"Khekk--khug... Arrkkk! Ka..u mau mem..bunuhku.. hah..."


Tatapan Ricard setajam pisau dengan aura pembunuh yang tidak terlihat tapi terasa menakutkan.


"Kepar*t yang berani melecehkannya harus mati..."


Bugh.


Ricard melayangkan tinjunya ke wajah calon ketua cabang dengan membabi buta. Dia tidak memperdulikan apa-apa, yang ada di pikirannya saat ini hanya memberi pelajaran pada orang yang berani menyentuh Kayrah.


Wajah Kayrah sama persis dengan wajah Keysha. Saat melihat wajah itu menangis tidak berdaya sudah membangkitkan sesuatu yang menakutkan di dalam diri Ricard yang tidak pernah terlihat oleh siapapun.


Ricard melempar tubuh calon ketua cabang yang sudah terkapar lemah dengan wajah penuh darah. Ricard menghampiri Kayrah yang masih menangis.


Ricard membuka bajunya lalu memakaikannya pada Kayrah karena baju Kayrah sebelumnya sudah terkoyak.


"Om.. om Ricard..." Kayrah menatap wajah Ricard yang sedang menatapnya dengan penuh penyesalan.


Ricard menghapus air mata Kayrah lalu berkata, "Maaf... Om tidak bergerak cepat..."

__ADS_1


Terlihat kelegaan di wajah Kayrah. Kayrah tersenyum dengan mata yang setengah tertutup. "Terimakasih om..."


Ricard memejamkan matanya sambil menggertakkan giginya kuat-kuat. Sesaat kemudian Ricard memeluk tubuh mungil Kayrah yang sudah tidak sadarkan diri.


"Tidurlah. Om akan mengurus semuanya..."


Ricard melirik sekelompok orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan setelah calon ketua cabang berteriak meminta bantuan.


"Bos kecil!"


"Bos kecil, anda kenapa?!"


"Bos kecil di serang!!"


Sekelompok orang itu secara serentak menatap Ricard yang memunggungi mereka. Rendy langsung bersiaga di dekat Ricard yang berdiri sambil memeluk tubuh Kayrah dengan salah satu tangannya.


Secara bersamaan, sekelompok anggota geng black rose itu menyerang Ricard. Rendy ikut menghajar anggota itu dan Ricard pun melakukan hal serupa.


Berbekal dengan kedua kaki dan satu tangan, Ricard bisa melawan meskipun dikepung banyak musuh.


Anggota geng black rose yang berdatangan semakin banyak. Jangan lupakan mereka berdua sedang dikurung di markas geng black rose saat ini.


Bahkan ketua cabang geng black rose bagian Tangerang yang baru saja datang langsung menghampiri ruang interogasi karena mendengar keributan.


Betapa terkejutnya dia saat melihat banyak anggotanya sedang berusaha keras melawan dua orang laki-laki yang membawa seorang gadis tak sadarkan diri.


Ketua cabang itu menghampiri calon ketua cabang dan menanyakan apa yang terjadi karena dia melihat wajah calon penerusnya babak belur.


"Ketua! Pak tua bangka itu sudah menghajar ku! Tolong balaskan dendamku ketua!"


Ketua cabang spontan menatap Ricard yang masih sibuk bertarung. Dia begitu terkejut saat melihat wajah Ricard.


"Itu... Itu..." Tubuh ketua cabang bergetar hebat saat mata Ricard menatapnya setelah menghajar seluruh anggotanya.


Black lion! Orang terkuat kedua setelah ketua besar! Kenapa beliau bisa ada di sini? Bukankah katanya beliau sedang berada di Paris?! Pikir ketua cabang yang ketakutan.


Ketua cabang menghentikan sisa anggotanya yang akan menghajar Ricard. Dia menatap sekitar, begitu banyak anggotanya yang terkapar setelah menghadapi Ricard dan Rendy.


Ricard menatap tajam ketua cabang itu lalu memberikan tubuh Kayrah pada Rendy. Rendy menerima tubuh Kayrah dengan hati-hati.


Ricard berjalan menghampiri ketua cabang yang berdiri tegap di tempatnya.


"Kau tau siapa aku?" Suara Ricard terdengar di telinga masing-masing. Ada kemarahan besar di dalam suaranya.


"Heh pak tua! Kau pikir kami punya waktu untuk mengetahui siapa--"


Plak.


"Diam!"


Ketua cabang menampar pipi calon penerusnya itu dengan keras. Tubuhnya gemetar ketakutan saat menunduk di depan Ricard.


"Kak Ricard! Ampuni kami!!"


Semua orang terkejut saat pemimpin geng mereka menunduk dan berkata penuh hormat pada Ricard. Semua anggota geng yang tersisa ikut menunduk setelah melihat ketua mereka berperilaku seperti itu. Tubuh mereka bergetar saat mengingat mereka berniat menghajar Ricard tadi.


"Ampun?" Ricard menatap ketua cabang penuh dengan amarah. "Kemana saja kau kemarin? Aku sudah ditahan seperti penjahat selama dua Minggu di sini!"


Ketua cabang gemetar ketakutan setengah mati. Tidak menyangka sosok legenda di geng black rose seperti Ricard diperlakukan demikian oleh calon penerusnya.


"Menculik Ricard selama dua Minggu juga menculik ponakan perempuanku dan menjadikan pemuda yang masih mempunyai orang tua lengkap sebagai penerus... Kau masih mengharap ampunan setelah melakukan itu semua?!"


Suara seorang perempuan tiba-tiba terdengar bagai petir di siang bolong.


.


Like.

__ADS_1


__ADS_2