
"Apa?" Jack dan Dewa menjadi linglung.
"Ya. Itu adalah papa kalian. Lalu kamu bocah pemberani." Angga menunjuk Dewa. "Kamu bilang kalau Ricard diculik oleh anggota geng black rose bagian Tangerang?"
Dewa mengangkat tangannya spontan.
"Kamu menyuruhku percaya dengan lelucon itu?! Aku percaya sebelumnya karena tidak tau kalau papamu adalah Ricard, kawanku!" Angga mulai kesal juga.
"Itu benar Paman ketua! Aku tidak berbohong!" Sahut Dewa dengan cepat, takut kalau Angga tidak akan percaya padanya.
"Kamu masih berani mempermainkanku?!" Suara Angga meninggi lalu dia menghela nafas panjang saat menatap wajah Dewa sekali lagi. "Candaanmu kelewatan bocah."
Dewa meringis pelan. Dia tidak menyangka Angga tidak percaya sedikitpun padanya.
"Kamu tau ketua besar geng black rose?" Tanya Angga sambil memijat keningnya.
Dewa menggeleng begitupun dengan Jack. Sedangkan Claudia, dia bangkit dan pergi dari sana saat menyadari perbincangan ketiga laki-laki itu semakin serius.
"Ketua besar adalah pemimpin dan seluruh geng black rose yang ada. Dia memimpin banyak ketua cabang di setiap kota. Dan Ricard, dia orang terkuat kedua setelah ketua besar." Mata Angga menajam saat mengatakan kalimat terakhir.
"Paman ketua percayalah padaku--"
"Kamu menyuruhku percaya pada lelucon yang tidak masuk akal itu?! Jabatan Ricard di geng black rose bahkan lebih tinggi dari ketua cabang dan sekarang kamu mengatakan Ricard diculik oleh calon ketua cabang geng black rose di kota ini?!"
Dewa menghela nafas. Dia sudah tidak memiliki kata-kata untuk membuat Angga percaya pada ucapannya. Angga sudah benar-benar menganggapnya sedang main-main.
Angga tertawa mengejek. "Jika itu benar-benar terjadi maka sudah pasti geng black rose yang ada di kota ini akan dihancurkan oleh ketua besar sendiri!"
Melihat Jack yang tidak mengeluarkan kata-kata pembenar membuat Angga benar-benar merasa Dewa sedang mempermainkannya.
"Apa kalian tau siapa ketua besar geng black rose?" Tanya Angga.
Kedua pemuda itu menggeleng dengan lesu.
Angga berdecih sambil tersenyum miring, "Bibi kalian, kak Thalita. Dia adalah ketua besar geng black rose."
Mata Jack dan Dewa melebar selebar-lebarnya saat mendengar jawaban Angga yang sangat mengejutkan keduanya.
Bahkan ketua besar yang memimpin seluruh geng black rose adalah bibi mereka! Semua kenyataan ini begitu mengejutkan.
Jack ingin menangis saat itu juga. Tau begini bukankah saat di Paris dulu dia bisa melawan orang-orang yang membully dirinya tanpa takut dengan keselamatan papanya?
"Hmph! Sekarang kau mau mengatakan apa lagi bocah?" Angga menatap Dewa dengan tajam.
Melihat saudaranya ditekan sedemikian rupa padahal sudah mengatakan yang sebenarnya membuat Jack akhirnya ikut angkat bicara.
Jack menatap Angga yang sedang minum. "Tapi yang dikatakan Dewa itu benar Paman Angga. Papa diculik oleh geng black rose."
Angga menyemburkan minuman yang sudah berada di dalam mulutnya. Beruntung Jack dan Dewa sempat menghindari jadi mereka tidak terkena semburan itu.
Angga terbatuk-batuk sampai menepuk dadanya karena terlalu terkejut dengan ucapan Jack.
__ADS_1
"Apa kamu bilang?" Angga menatap Jack dengan tidak percaya.
"Papa diculik oleh geng black rose bahkan beberapa waktu lalu calon ketua cabang itu membuat papa kecelakaan sampai masuk rumah sakit."
.
***
.
Tiga hari terlewati setelah Angga datang berkunjung ke rumah Ricard dan disuguhi oleh kenyataan yang sangat mengejutkannya. Sekarang tepat dua Minggu Ricard diculik oleh geng black rose bagian Tangerang.
Hari ini diadakan rapat dadakan di cafe smash milik Sammy dihadiri oleh Angga, Keynan, Sammy, Rangga, Diva, Riana, dan jangan lupakan Thalita yang memimpin rapat ini.
Tatapan Thalita begitu dingin saat duduk di kursi paling ujung meja panjang. Semua orang yang melihat hanya bisa menelan ludah mereka susah payah.
Beberapa anggota geng black rose bagian Bekasi yang sedang menjaga cafe ini dari gangguan luar juga mengeluarkan keringat dingin mereka. Ketua bagian Bekasi tidak bisa berhenti gugup meskipun dia hanya menjaga rapat ini, tidak mengikutinya.
Tuk.
Tuk.
Tuk.
Tuk.
Atmosfer di meja panjang itu begitu mencengkram saat Thalita mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.
Tuk.
Tuk.
Tuk.
Para anggota rapat secara serentak menatap Thalita yang menghentikan ketukannya.
Brak!
Semua orang yang mendengar gebrakan meja secara tiba-tiba itu langsung tersentak kaget. Mata semua orang melebar saat tangan mereka menepuk dada masing-masing.
"Bagaimana itu bisa terjadi?!"
Deg. Deg. Deg.
Detak jantung setiap orang sampai terdengar di telinga masing-masing ketika Thalita membentak mereka. Bahkan Sammy yang berstatus sebagai suami Thalita pun juga tidak berkutik karena sadar istrinya benar-benar marah saat ini.
Tidak bisa dipungkiri Sammy pun juga sama marahnya, lebih tepatnya bukan Sammy saja tetapi semua orang yang menghadiri rapat.
Mereka sangat terkejut saat Angga menghubungi mereka dan memberi kabar bahwa Ricard diculik oleh geng black rose! Tidak lama keterkejutan mereka bertahan karena beberapa saat kemudian keterkejutan itu berubah menjadi amarah.
Thalita yang berada di luar negeri langsung kembali begitupun dengan Rangga dan Riana yang berada di Inggris. Mereka semua kumpul menjadi satu di cafe smash saat ini.
__ADS_1
"Sebelumnya aku juga tidak percaya. Tapi Jack yang selaku anak Ricard pun juga membenarkan berita itu. Tidak ada alasan untukku tidak percaya lagi." Angga yang menghadiri rapat ini sebagai ketua geng serigala putih juga sahabat Ricard mulai angkat bicara.
Setelah mendengar itu Thalita memandangi setiap orang dengan tajam.
"Katanya Ricard juga pernah kecelakaan karena bocah yang akan jadi ketua itu?!" Tatapan Thalita berhenti pada Keynan dan Sammy membuat tubuh kedua pria itu bergetar.
Bukan tanpa alasan, tekanan yang Thalita berikan begitu besar sampai membuat mereka semua ketakutan. Memang Thalita sangat cocok menjabat sebagai ketua besar.
"I...ya?" Keynan mencuri-curi pandang pada Thalita.
"Kenapa nggak ngasih tau?!" Thalita kembali membentak.
Keynan menelan ludahnya susah payah lalu sikunya menyenggol lengan Sammy yang berada di sampingnya.
Sammy juga menyikut lengan Keynan dan berakhir dengan kedua pria itu terlibat perang antar siku saat ini.
Akhirnya perang itu berhenti dengan Sammy yang memilih untuk mengalah. Sammy menghela nafas panjang lalu berkata, "Kamu kan ada di luar negeri--"
"Lalu dengan alasan itu kalian--"
"Sudahlah kak Thalita... Lebih baik kita segera bertindak. Ricard pasti sedang menunggu kita." Angga angkat bicara saat melihat Thalita berniat mengomel panjang yang tiada akhir.
Thalita menelan kata-kata panjang yang akan dia keluarkan. Terdengar suara helaan nafas panjang sebelum suara Thalita yang terdengar.
"Bukankah seharusnya ketua cabang geng black rose bagian Tangerang setidaknya pernah melihat foto Ricard sekali? Meskipun tidak pernah bertemu tapi kan..."
"Iya sih... Meskipun foto Ricard sudah disembunyikan tapi setiap ketua cabang pasti pernah melihat fotonya..." Rangga mengelus dagunya.
"Dengar-dengar sih ketua cabang bagian Tangerang baru kembali ke markasnya." Riana terlihat begitu serius.
"Kembali? Memang darimana dia? Bukankah seharusnya dia tetap menjaga markasnya?!" Tanya Thalita kesal.
"Pesta tahunan diadakan di geng black rose pusat. Jadi semua ketua cabang geng black rose berada di Surabaya akhir-akhir ini." Sahut Diva.
Pesta tahunan diadakan untuk menyambung silaturahmi sesama ketua cabang geng black rose. Kebetulan Surabaya adalah kota yang terpilih untuk menjadi tuan rumah di tahun ini.
"Seharusnya pesta itu sudah berakhir kemarin. Mungkin ketua cabang itu baru sampai di Tangerang hari ini." Keynan ikut menimpali.
Thalita menggempalkan tangannya erat-erat lalu berdiri dari tempatnya. Semuanya pun ikut berdiri. Anggota geng yang bertugas menjaga langsung berdiri dengan tegap.
"Mari ke markas geng black rose yang berada di Tangerang. Aku ingin liat, bagaimana wajah bocah yang sudah berani menyentuh adikku." Thalita keluar dengan tatapan dinginnya.
Semua mengikuti Thalita dari belakang dan tiba-tiba saja Keynan berbisik pada Rangga yang berada di sampingnya.
"Apa kita nggak perlu kasih tau kak Thalita kalo selama ini Jack dan Dewa juga di bully oleh geng black rose? Terutama Jack yang sudah dibully sejak di Paris." Bisik Keynan pelan.
"Nggak. Jangan. Sekalipun jangan pernah. Kau mau kita dibunuh--"
"APA?! BAHKAN KEDUA PONAKANKU JUGA MEREKA SAKITI?! BERANI SEKALI!!"
Keynan meringis saat tatapan tajam semua orang mengarah padanya karena sudah membuat Thalita marah lagi.
__ADS_1
.
like.