
Ketua OSIS terkejut setengah mati dengan om-om di depannya ini.
Om ini bahkan tidak tau namaku tapi malah menawariku untuk menjadi anaknya?! Pikir ketua OSIS itu.
"Maaf om, saya masih punya orang tua" jawab ketua OSIS yang masih tau sopan santun.
"Hahahaha! Maaf deh, om nggak tau" ucap Ricard sambil tersenyum lebar.
Ketua OSIS itu tersenyum canggung.
Tidak lama kemudian akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yaitu sebuah restoran dengan gaya sederhana tetapi nyaman yang banyak pengunjungnya.
Ada kolam ikan besar di tengah-tengah tempat lesehan yang tersedia. Tidak lupa ikan-ikan besar yang hidup di kolam itu.
Ada juga air mancur yang menghiasi tengah-tengah kolam itu juga ada kereta air bagi pengunjung yang ingin menikmati waktu santai di tengah-tengah kolam.
Tidak lupa hiburan untuk anak-anak yaitu ayunan juga ada beberapa becak kecil yang tersedia untuk dinikmati.
Terdapat terapi ikan untuk orang-orang yang ingin menguji nyali mereka. Karena ikan di terapi ikan kecil-kecil dan ketika kita memasukkan kaki kita kedalam air maka ikan itu akan mulai menghisap, kata banyak orang, penyakit kita.
Meskipun harga makanan disini cukup mahal tetapi bagi para pengunjung hal ini adalah wajar karena dengan banyaknya hiburan juga makanan yang terjamin enaknya itu sangat pantas dengan harga yang diberikan.
Letak restoran ini tidak jauh dari restoran tempat Ricard makan bersama anak-anaknya belum lama ini.
Alasan mengapa Ricard tidak membawa anak-anaknya makan di restoran ini adalah karena pelayanan yang diberikan untuk Ricard di restoran ini sangat mencurigakan membuat Ricard takut Jack dan Dewa akan berbuat sewenang-wenang ketika tau kenyataan bahwa restoran ini adalah salah satu properti perusahaan keluarga.
Memang restoran ini di bangun untuk meluaskan bisnis keluarga karena sekarang banyak orang yang menyukai kuliner.
Melihat restoran ini ramai dengan pengunjung membuat Ricard tersenyum tipis. Karena takut akan semakin ramai, dengan cepat Ricard memesan kursi kosong yang disambut langsung oleh managernya.
"Tuan Ricard, mendadak sekali anda datang kemari" ucap manager sambil tersenyum ramah.
Ricard membalas senyuman itu. "Saya ada kepentingan yang harus dibicarakan empat mata dengan dia" ucap Ricard sambil menunjuk ketua OSIS yang terkejut.
Ketua OSIS itu tidak menyangka bahwa Ricard mempunyai kekuasaan juga disini sampai-sampai si manager sendiri yang menyambutnya.
"Oh? Baiklah-baiklah, silahkan ikuti saya tuan"
Manager itu membimbing Ricard juga si ketua OSIS untuk memasuki sebuah ruangan yang ada di dalam restoran.
"Ruangan kedap suara yang anda inginkan" ucap manager itu sambil mempersilahkan keduanya memasuki ruangan.
Selama Ricard mengunjungi restoran ini, tidak pernah sekalipun dia memasuki ruangan ini. Ini adalah yang pertama karena hari-hari sebelumnya Ricard memilih untuk menikmati hidangan sambil menikmati angin di pinggir kolam.
"Baiklah" Ricard tersenyum lalu menepuk pundak manager itu. "Terimakasih dan tolong hidangkan makanan di ruangan ini"
"Makanan seperti biasanya?" Tanya manager itu.
Karena Ricard sudah sering kemari dan memesan menu yang sama berulang kali, membuat manager dan semua pelayan jadi ingat apa makanan yang biasa dipesan oleh Ricard.
"Ya seperti biasa dan tolong tambahkan makanan spesial hari ini" ucap Ricard sambil terkekeh.
"Baik, akan saya persiapkan" ucap manager itu lalu permisi untuk undur diri dari ruangan ini.
Sekarang tinggal lah Ricard dan si ketua OSIS yang canggung karena tidak tau apa yang bisa dilakukannya.
Ricard berbalik dan tersenyum ramah menatap ketua OSIS itu lalu menunjuk kursi yang tersedia.
"Duduklah"
Dengan canggung ketua OSIS itu duduk di sofa yang tersedia sedangkan Ricard, setelah menaruh raport kedua anaknya di meja kecil, Ricard mengamati foto-foto yang terpajang di dinding-dinding ruangan ini.
Ricard menekan saklar yang ada di dekatnya. Seketika foto-foto yang ada di dalam ruangan itu menjadi bercahaya.
Ketua OSIS terkejut dan lebih terkejut lagi ketika melihat foto-foto itu. Karena tadi foto-foto itu tidak terlihat alias gelap, sekarang foto-foto itu terlihat dengan jelas.
Sudah jelas yang berada di sebagian besar foto-foto itu adalah Ricard. Tapi yang membuat ketua OSIS itu terkejut adalah anak kecil yang berada di samping Ricard dalam foto.
Sebaian foto-foto itu memotret Ricard dengan si anak kecil sampai anak kecil itu tumbuh dewasa.
Terlihat wajah menawan si anak kecil setelah dewasa. Wajahnya sangat mirip dengan Ricard membuat mereka seperti anak kembar.
Ricard menyentuh salah satu foto dirinya dan si anak kecil yang masih belia. Tangannya menelusuri foto yang tidak berdebu itu sampai tangan Ricard berhenti di wajah si anak kecil.
"Kamu belum memperkenalkan dirimu" ucap Ricard memecah keheningan.
"Ah," si ketua OSIS terkejut dengan ucapan Ricard yang tiba-tiba. "Sa-saya... Nama saya Tegar"
Langsung saja Ricard menoleh saat si ketua OSIS memberitahukan namanya.
Melihat tatapan Ricard yang terkejut membuat Tegar bingung. "Ada apa om?"
__ADS_1
Ricard langsung tertawa setelah tersadar dari keterkejutannya. Tawanya yang terlihat bahagia itu membuat hati Tegar tenang. "Jangan beritahu Jack ya. Sebenarnya dulu saya berniat memberi Jack nama Tegar"
Mendengar itu membuat Tegar menaikkan alisnya bingung. "Terus kenapa kok jadi Jack?"
"Karena itu takdir" jawab Ricard cepat.
Setelah itu keheningan mulai tercipta lagi diantara mereka.
Ricard kembali menatap foto yang dia sentuh sambil tersenyum kecil ketika mengingat kenangan dari foto itu.
"Itu... Jack dan om kan?" Tanya Tegar saat melihat Ricard yang masih menyentuh foto itu tepat di wajah si anak kecil.
"Ya," Ricard berhenti berkata sejenak lalu melanjutkan. "Saya hanya mempunyai anak-anak saya sekarang. Hanya mereka alasan saya masih bisa bertahan hidup sampai saat ini"
"Mereka..." Ricard membuka laci yang ada di dekatnya lalu mengeluarkan sebuah foto. "...adalah hadiah yang sangat berharga bagi saya" Ricard meletakkan foto itu di paku yang sudah di sediakan lalu Ricard tersenyum ketika melihat fotonya, Jack, dan Dewa yang baru saja terpajang.
"Maka dari itu," Ricard mulai berjalan menuju Tegar dan duduk di hadapannya sambil tersenyum penuh makna. "Saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anak-anak saya"
Tegar menarik nafas dalam-dalam ketika mendengar suara Ricard yang begitu seram sampai membuat bulu kuduknya berdiri seketika.
Senyuman Ricard itu sangat menyeramkan bagi Tegar karena Tegar merasa senyuman itu hanya alibi untuk menutupi kemarahan yang di tahan mati-matian oleh om-om di hadapannya ini.
Meskipun Ricard sudah mau tua tapi aura yang di pancarkan oleh Ricard seperti seorang pemuda yang siap menerkam lawannya dengan niat membunuh.
Karisma dan kewibawaan yang di miliki oleh Ricard juga membuat Tegar menjadi tertekan karena di intimidasi oleh banyaknya aura yang dimiliki Ricard.
Saat Tegar tidak tau harus berbicara apa karena takut salah bicara di depan Ricard, pintu ruangan ini di ketuk oleh seseorang.
"Masuklah" perintah Ricard sambil menyandarkan punggungnya ke kepala sofa yang empuk.
Pintu di buka dan terlihatlah si manager dan beberapa orang pelayan dengan membawa banyak makanan di bawa memasuki ruangan.
Para pelayan itu menyajikan makanan yang mereka bawa di meja dengan hati-hati. Setelah makanan itu selesai di letakkan di meja, para pelayan memberi hormat pada Ricard begitu pula dengan si manager.
"Terimakasih, sekarang pergilah. Oh, satu lagi, tolong bungkusan makanan yang sama seperti ini"
"Baik"
Para pelayan dan manager itu segera pergi keluar dari ruangan kedap suara ini.
Ricard dengan senyum lebar dan mata yang berbinar langsung mengambil sebuah sendok dan garpu untuk mengambil sesendok daging gurami kecap bakar yang tersedia.
Aroma makanan yang sangat menggiurkan membuat perut Tegar yang sudah kelaparan menjadi berbunyi.
Bohong.
Ricard berbohong.
Meskipun makanan sebanyak di hadapannya ini di sediakan untuk dirinya sendiri, Ricard cukup sanggup untuk menghabiskan semuanya.
Hari-hari yang lalu juga Ricard seorang diri menghabiskan semua makanan yang dia pesan menunjukkan seberapa enaknya makanan di sini.
Apalagi Ricard juga sudah menguras tenaganya ketika berhadapan dengan kepala sekolah tadi membuat Ricard sanggup menghabiskan semua ini.
Tegar yang mencium aroma sedap dari gurami juga ikut mengambil sesendok daging gurami itu lalu memakannya.
Betapa terkejutnya dia ketika merasakan rasa gurami ini. Bila kata-kata yang ada di pikirannya dia rangkum maka untuk menggambarkan rasa dari gurami ini adalah, sempurna.
Rasanya tidak terlalu manis dan asin. Pedasnya juga tidak terlalu menyengat membuat perpaduan rasa ini sangat pas.
Ricard yang melihat reaksi Tegar langsung terkekeh lalu mengambilkan sepiring lauk yang berisi gurami lainnya.
"Makanlah yang puas. Ini untuk dirimu dan bila kamu menginginkan sesuatu yang lain atau kekurangan sesuatu maka kamu bisa memencet tombol di kaki meja itu" ucap Ricard menjelaskan.
Tegar spontan langsung memiringkan kepalanya hanya untuk melihat tombol merah yang terletak di sana. Tegar sangat terkejut ketika melihat itu.
Sekilas saja keterkejutannya karena Tegar sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk melahap hidangan lezat yang ada di hadapannya.
Tidak hanya memakan gurami itu saja, Tegar juga mencoba makanan yang lain.
Ketika mencicipi makanan yang lain, lidah Tegar tidak bisa tidak berdecak kagum. "Ini sangat enak!" Puji Tegar dengan tulus.
Ricard yang mendengar itu tersenyum bangga karena bagaimanapun semua makanan yang tersedia di restoran ini menggunakan resep hasil karyanya.
Melihat resepnya sangat cocok di lidah para pengunjung membuat Ricard bangga karena bisa memuaskan orang lain.
Dia sendiri sebenarnya tidak menyangka resepnya akan menjadi sebegitu lezat seperti ini ketika dia pertama kali mengajarkan koki di restoran ini.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka berdua menghabiskan makanan di hadapan mereka. Karena kedua orang itu kelaparan maka hidangan jadi habis lebih cepat.
Sekarang yang tersisa di meja adalah dua piring daging panggang yang biasa di sebut beef steak. Ricard menikmati makan terkahir mereka dengan perlahan sedangkan Tegar masih makan dengan lahap.
__ADS_1
Saat makanan Tegar hanya tinggal sesendok saja, Ricard mulai berbicara.
"Melihatmu begitu lahap makan membuat saya mengingat anak-anak saya" Ricard menopang dagunya sambil memainkan pisau yang dia pegang di piringnya.
Tegar masih tetap memakan makanannya tapi matanya sekarang menatap Ricard, menunggu Ricard melanjutkan hal apa yang ingin di bicarakannya sedari tadi.
"Ketika saya mendengar anak-anak saya di bully, darah saya menjadi mendidih seketika. Saya seperti merasa gagal menjadi orang tua yang baik"
Ricard menatap daging yang ada di hadapannya. "Saya berpikir sebagai ayah yang menganggap anak-anaknya sangat berharga, apakah menghukum pembully itu dengan apa yang saya pikirkan adalah hal yang wajar?"
Tegar menelan makanan yang ada di mulutnya lalu berkata, "Memang apa yang om pikirkan?" Tanya Tegar sambil memakan daging terakhirnya.
"Saya..." Ricard tersenyum mengerikan lalu menancapkan pisau di dagingnya dengan cepat juga bertenaga, setelah itu Ricard memindahkan dagingnya ke piring Tegar yang kosong.
Melihat itu membuat Tegar dengan susah payah menelan makanan yang ada di mulutnya tetapi sekeras apapun dirinya berusaha, makanan di mulutnya tidak dapat tertelan menunjukkan betapa takutnya dia dengan Ricard saat ini.
Ricard masih tersenyum dengan memperlihatkan gigi-giginya sambil memotong daging yang ada di piring Tegar sekarang dengan tangan yang mengepal kuat-kuat membuat suara yang di hasilkan dari gesekan pisau dan piring sangat menakutkan.
"Rasanya saya ingin memotong daging orang yang membully anak-anak saya lalu memasaknya dengan resep yang akan saya kembangkan. Saya akan bereksperimen dan menyesuaikan bumbu yang sesuai dengan daging manusia agar nanti dagingnya terasa enak saat di makan"
Seketika Tegar merasa semua makanan yang ada di dalam perutnya ingin keluar. Tegar menutup mulutnya membuat Ricard langsung menatapnya.
"Ada apa? Apa makanannya tidak enak? Bukankah kamu tadi mengatakan makanannya enak?"
Tegar merasa seperti mata hitam milik Ricard menyala saat Ricard mengatakan hal itu. Didukung oleh cahaya lampu, membuat mata Ricard sangat menakutkan dan itu membuat Tegar sangat ketakutan sampai-sampai makanan yang tadi susah untuk dia telan langsung tertelan.
Ricard menarik tubuhnya dan menyandarkan punggungnya ke kepala kursi. Setelah itu Ricard bertanya sambil bersedekap dada. "Bisakah kamu menceritakan hal apa saja yang terjadi pada anak-anak saya? Sebagai ketua OSIS seharusnya kamu mengetahui masalah yang terjadi di sekolahmu bukan?"
Tanpa menunggu lama, Tegar yang awalnya tegas dan berani menjadi ciut seperti seekor kelinci yang berhadapan langsung dengan seekor naga.
Dengan lancar Tegar menceritakan semua hal tentang Jack dan Dewa yang dia ketahui.
Mendengar hal itu membuat Ricard terkejut sekaligus marah karena anak-anaknya tidak mengatakan apa-apa.
"Geng black rose?!" Wajah Ricard berubah menjadi buruk ketika Tegar menceritakan tentang geng black rose adalah pendukung di balik orang yang membully Jack dan Dewa.
"I-iya"
Setelah mendengar penjelasan itu, Ricard mengatur nafasnya lalu tersenyum ramah.
"Terimakasih sudah mau menceritakan semuanya. Sekarang apakah kamu masih mau disini atau kembali ke sekolah?" Tanya Ricard.
"Saya mau kembali ke sekolah!" Jawab Tegar dengan tegas.
Ricard terkekeh lalu mengangguk. "Mari"
Ricard berdiri lalu berjalan untuk mematikan lampu dari foto-foto yang terpajang di dinding. Setelah itu Ricard mengambil raport kedua anaknya yang ada di meja kecil lalu keluar dari ruangan ini dan menutup pintu ruangan ini setelah Tegar ikut keluar.
Ricard berjalan menuju kasir dan mengeluarkan kartu debitnya sambil mengambil pesanan yang dia pesan tadi.
Melihat Ricard yang kewalahan membawa banyak makanan, akhirnya Tegar ikut membantu membawa.
Tidak menunggu sampai si manager keluar karena Ricard sedang buru-buru, akhirnya Ricard dan Tegar berjalan dengan cepat menuju sekolah.
Karena jarak antara restoran dan sekolah tidak jauh, jadi mereka bisa sampai dengan cepat.
Saat mencapai gerbang, Ricard memberikan semua makanannya pada Tegar. Sebenarnya Ricard berniat meminta tolong satpam agar membantu membawa makanan ini tetapi sang satpam sedang tidak ada di pos-nya.
"Maaf saya tidak bisa membantu membawa" Ricard berkata sambil melambaikan tangannya pada salah satu murid yang melihat mereka memasuki sekolah. Siswa yang melihat itu langsung berlari menghampiri mereka.
"Saya harus pergi, terimakasih karena sudah bersedia memberikan waktumu" ucap Ricard sambil tersenyum.
"Ah, iya sama-sama. Tapi ini makanan untuk siapa?" Tanya Tegar yang bingung.
"Untuk kalian" jawab Ricard cepat.
"Ah" Tegar langsung mendongak dan menatap Ricard dengan terkejut. Dia sempat melihat jumlah dari biaya makanan yang dimakannya tadi juga makanan ini.
"Sudah-sudah, saya ada urusan mendadak jadi saya harus pergi sekarang. Tolong sampaikan salam saya pada kepala sekolah juga Bu Windy"
Ricard mengucapkan itu sambil berlari dengan melambaikan tangannya yang menunjukkan betapa terburu-burunya dia.
"Ah, om!" Tegar tersadar dari lamunannya lalu berteriak, "Terimakasih atas makanan tadi dan makanan ini! Kami sangat berterimakasih!"
Meskipun jarak mereka sudah cukup jauh tapi Ricard masih bisa mendengarnya. Ricard mengangkat tangannya lalu menjawab, "Sama-sama!"
Setelah itu Ricard berlari dan memasuki mobilnya dengan tergesa-gesa.
Ricard duduk sebentar di dalam mobilnya sambil menggenggam kuat-kuat setir mobilnya.
"Geng black rose..." Gumam Ricard geram dengan mata seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
__ADS_1
like.