
"Halo, jual beli tuyul, ada yang bisa dibantu?"
Suara berat tetapi terdengar main-main itu membuat Jack tersenyum kecil karena sudah lama dia tidak mendengar suara ini.
Jack memang kadang-kadang berkomunikasi dengan Benua entah itu dengan telfon ataupun vidio call.
Tetapi tetap saja, bertemu secara langsung dengan saudaranya itu sudah cukup lama dia tidak melakukannya.
Jack berkata dengan kesal sekaligus jengah, "Saya mau beli tuyul yang namanya Benua Renald"
"Maaf, tapi yang bernama Benua Renald itu bukan seorang tuyul"
"Lalu?" Tanya Jack sambil menaikkan alisnya.
"Dia adalah pangeran berkuda putih yang sedang mencari tuan puterinya"
"Idih, awas nanti jatuhnya sakit loh"
"Biarin"
"Ngapain telfon?" Tanya Jack.
"Emang aku yang nelfon?" Tanya Benua balik.
"Tadi kan nelfon dasar anying"
"Oh? Kepencet berarti"
Jack menarik nafasnya dalam-dalam, "Fine!"
"Eh! Eh!"
"Apaan sih?! Nggak tau apa biaya nelfon beda negara itu mahal?!" Tanya Jack kesal.
"Hehehe sans bro, i know. Makanya aku matiin tadi"
"Ya udah sekarang ada apa?"
"Bokap masih di Indonesia?"
"Ya, Paman Sammy masih di sini"
"Oh... Tolong bilangin kalau aku sama mami nggak jadi ke Indonesia"
"Kenapa?" Tanya Jack heran.
"Sibuk" jawab Benua singkat.
"Dih, sok sibuk" celetuk Jack.
"Terserah dong"
Jack membuang nafas, "Padahal kamu punya saudara baru di sini"
"What?"
"Gak ada pengulangan"
"Serius?!"
"Kalau nggak percaya kemari aja" jawab Jack lalu memutuskan sambungan telfonnya.
Dewa menggeleng pelan sambil tertawa canggung. Mendengar pembicaraan barusan membuat kepercayaan diri Dewa meningkat. Dewa yakin Benua bisa menjadi saudara yang bisa diandalkan.
"Ayo ke kantin" ajak Dewa sambil tersenyum.
Jack mengangguk lalu mereka berdua berdiri dari tempatnya.
"Jack! Jack!"
Serempak, murid-murid yang ada di kelas termasuk Jack dan Dewa menatap seorang siswa yang berdiri di pintu dengan nafas ngos-ngosan sambil menatap Jack.
__ADS_1
Jack mengangkat alisnya, "Apa?"
"Itu! Hah... Hah!"
"Tarik nafas dulu" seru Dewa sambil mengerutkan alisnya.
Siswa itu menarik nafas dan membuangnya beberapa kali sampai nafasnya jadi sedikit teratur. Setelah itu, siswa itu berkata dengan nada ketakutan.
"Penguasa sekolah..."
"Kenapa?" Tanya Jack yang semakin bingung.
Jack dan Dewa mendekati siswa itu. Karena siswa itu adalah teman sekelas Jack, jadi Jack dan Dewa mempunyai kepedulian sedikit padanya.
"Dia mau nyerang Lo!" Teriak siswa itu sambil mundur ke belakang.
Jack mengerutkan alisnya dan menjadi semakin bingung sedangkan Dewa malah terkejut ketika mendengar itu.
"Kenapa nyerang Jack?" Tanya Dewa cepat.
"Katanya Lo masih berani deket-deket sama Dia!" Ucapnya.
Sudah Dewa duga!
Apapun yang berhubungan dengan Claudia pasti tidak akan berakhir dengan baik.
"Makasih" ucap Dewa lalu menatap Jack. "Mending kita nggak usah ke kantin"
"Kenapa?" Jack mengalihkan pandangannya pada Dewa.
"Nggak usah cari masalah" jelas Dewa.
Jack menaikkan alisnya membuat Dewa hanya bisa berdecak kesal lalu Dewa menarik Jack agar mereka duduk lagi di tempat duduk mereka.
"Masalah akan datang lebih besar kali ini" Dewa duduk lalu menatap Jack sambil tersenyum pahit. "Rendy punya banyak mata dan telinga jadi kita nggak usah macem-macem. Pikirkan keselamatan papa"
Jack diam, tidak tau harus berbuat apa tetapi dalam kediamannya itu Jack menahan mati-matian amarahnya yang memuncak. Apalagi setelah mendengar ucapan Dewa yang lain,
"Kali ini aku yakin geng black rose akan bertindak"
Jack duduk di pinggir jalan depan minimarket yang dia kunjungi. Masih memakai seragam sekolah dan tasnya, Jack menunggu Dewa yang masih berada di dalam.
Jack menatap sepeda motornya sebelum mengalihkan pandangannya pada gadis yang berdiri di depannya.
Jack mendongak dan melihat gadis cantik berambut pirang yang mengenakan seragam sekolah dengan bawahan berwarna biru.
"Jack? Eh?" Kayrah melebarkan matanya saat melihat celana Jack yang berwarna abu-abu.
"Maaf! Maaf!"
Kayrah langsung duduk di samping Jack sambil menatap Jack dengan pandangan bersalah membuat Jack bingung sekaligus terpanah dengan gadis cantik di depannya ini.
Kayrah berhasil membuat jantung Jack berdebar lebih kencang juga membuat Jack tidak henti-hentinya dibuat terpanah dengan kecantikannya.
"Kenapa minta maaf?" Tanya Jack yang gugup.
"Aku nggak tau kalau kamu lebih tua dari aku! Makanya aku nggak manggil kakak" ucap Kayrah bersalah.
Suara lembut itu membuat Jack begitu nyaman sampai Jack merasa dunia ini hanya milik mereka berdua.
Jack tersenyum lalu membelai rambut Kayrah dengan lembut membuat sang empu menjadi kaget sekaligus malu.
"K..kakak Jack?"
Jack terkekeh pelan ketika dirinya dipanggil kakak. Sangat aneh bagi Jack saat dipanggil seperti itu karena ini pertama kalinya Jack dipanggil kakak.
"Kenapa rambutmu pirang?" Tanya Jack sambil tersenyum geli ketika mendengar pertanyaannya yang tidak masuk akal itu.
"Mana kutahu!" Kayrah mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap dada.
Jack tersenyum kecil lalu menjawab, "Itu berarti kamu ditakdirkan berjodoh denganku"
__ADS_1
"Ehh??" Kayrah melebarkan matanya lalu dengan pipi yang memerah Kayrah bertanya, "Kenapa bisa begitu?"
"Karena aku juga tidak tau" jawab Jack lalu tertawa.
Kayrah menatap Jack dengan kesal membuat Jack semakin tertawa. Setelah beberapa saat, Jack menghentikan tawanya dan melanjutkan kata-katanya,
"Karena aku suka warna pirang" Jack menatap Kayrah lekat-lekat membuat jantungnya berdetak lebih kencang. "Tapi sekarang bukan karena itu. Aku sadar kalau aku bukan suka warna pirang tetapi aku suka dengan gadis berambut pirang dihadapan ku ini"
"Kakak Jack..." Kayrah menatap Jack dengan penuh kelembutan disertai senyum yang menyejukkan hati Jack itu.
"Ehm..."
Sebenarnya Dewa tidak ingin mengganggu mereka tetapi Dewa terpaksa mengganggu karena Kayron berdiri tidak jauh dari mereka sedang menatap Jack dengan tajam.
Kayrah langsung berdiri setelah mendengar deheman Dewa begitu juga dengan Jack yang terbatuk pelan dengan pipi yang memerah.
Dewa jadi geli sendiri ketika melihat wajah Jack yang tidak pernah Dewa lihat ini.
"Em... Kakak Jack" Kayrah menatap Jack dengan malu-malu sebelum berkata, "Kita akan bertemu lagi"
Setelah mengucapkan itu, Kayrah berlari menjauhi Jack sambil tersenyum.
Jack hanya bisa tertawa kecil sambil menatap punggung kecil milik Kayrah. Jack sangat ingin memeluk tubuh mungil itu.
Kayrah menghentikan langkahnya saat menyadari ada Kayron di depannya sekarang. "Aron?!"
"Apa" Kayron berkata dengan nada datar begitupun dengan wajahnya yang sekarang juga datar.
"Sejak kapan kamu disini?" Tanya Kayrah sambil mengatur kegugupannya.
"Sejak kamu bermesraan sama dia" ucap Kayron sambil memutar bola matanya malas.
"Em... Hehehehe" Kayrah tersenyum canggung saat Kayron berkata seperti itu.
Belum sempat Kayrah melanjutkan kata-katanya, Kayron sudah berjalan terlebih dulu meninggalkan Kayrah di belakangnya.
Kayrah berlari kecil hanya untuk menyamakan langkahnya dengan Kayron yang tidak peduli.
"Ron" panggil Kayrah.
"Apa?" Balas Kayron datar.
"Em... Jangan--"
"Iya nggak akan kubilangin ayah" potong Kayron terlebih dahulu.
Kayrah memutar matanya jengah sambil berdecak kesal. Seperti biasa, Kayron akan menjadi seorang cenayang tiba-tiba bila dirinya sedang takut mengatakan sesuatu.
"Em... Ron?"
"Apalagi?" Tanya Kayron sambil membuka pintu mobil yang sudah menunggu mereka lalu memasukinya.
Kayrah ikut memasuki mobil itu.
"Jalan pak" ucap Kayron.
"Menurutmu ayah tau nggak dimana sekolahan kakak Jack?" Tanya Kayrah semangat.
Kayron mengalihkan pandangannya pada Kayrah sambil mengerutkan keningnya.
Bagaimana tidak tau? Bahkan sekolah itu yang akan menjadi tempat kenangan mereka berdua kelak saat SMA.
Saat Kayron melihat lokasi sekolah yang terpasang di seragam Jack, Kayron sudah tau itu.
Kayron tersenyum tipis lalu mengangkat bahunya acuh, "I don't know"
Bermain-main dengan kakaknya sekali saja tidak apa-apa kan?
Biarkan ini menjadi pelajaran untuk Kayrah yang malas pergi saat ayah mengajak mereka.
Kayron sudah pernah mengunjungi sekolah SMA nya kelak, tentu dengan ayahnya dan sekolah itu adalah tempat sekolah Jack sekarang.
__ADS_1
Sayangnya Kayrah tidak ikut saat itu jadi Kayrah tidak mengetahui apa-apa.
like.