Jack

Jack
Rumah sakit


__ADS_3

Jack menunggu dengan cemas di depan pintu ruang UGD dimana di dalam sana ada Ricard yang sedang ditangani oleh para medis.


Sudah sedari tadi Jack tidak henti-hentinya cemas saat menunggu hasil kondisi papanya saat ini. Keringat dingin terus memenuhi wajahnya yang sudah pucat.


Tepat setelah tertabrak, Jack dan Dewa langsung membopong Ricard memasuki mobil lalu membawanya ke rumah sakit terdekat. Untuk orang yang menabrak ataupun geng black rose yang sudah menyebabkan ini semua, Jack tidak tau bagaimana semuanya setelah dirinya pergi membawa Ricard menuju rumah sakit.


Jack tidak peduli. Yang memenuhi pikirannya sekarang hanya Ricard. Bagaimana keadaan papa sekarang? Kenapa lama sekali? Apa ada tulang yang patah? Hanya itu yang ada di pikiran Jack sekarang.


Mata Jack melebar ketika merasakan dingin di pipinya di saat dirinya sedang asyik melamun. Jack menoleh untuk menemukan Dewa yang baru kembali entah dari mana.


"Wajahmu pucat tuh. Minum dulu." Dewa menyodorkan air dingin pada Jack.


Jack menerima air itu tanpa banyak bicara tetapi matanya menatap Dewa lekat-lekat yang sedang minum air dinginnya sendiri.


Senyum tipis terukir di wajah tampan Jack. Dasar Dewa, batin Jack. Dia berkata wajahku pucat tapi wajahnya tidak kalah pucatnya tuh meskipun dia bersikap sok tenang.


"Permisi... Anda orang yang membawa korban tabrakan tadi bukan?"


Seorang pria setengah baya dengan jas yang dia kenakan bertanya pada Jack.


Jack mengerutkan alisnya. "Benar. Anda siapa?"


"Apa anda keluarga korban?"


"Ya."


Pria paruh baya itu tiba-tiba membungkuk. Meskipun dia terlihat berwibawa tetapi terlihat raut bersalah di wajahnya.


"Maafkan saya. Saya yang menabrak korban. Saya akan bertanggung jawab. Saya akan membayar seluruh biaya rumah sakit korban." Ucapnya penuh dengan penyesalan.


"Eh? Eh?" Jack gelagapan saat pria paruh baya itu membungkuk padanya dan berkata demikian.


"Saya meminta maaf sekali lagi!"


"Pak, bangunlah." Jack membantu pria paruh baya itu untuk berdiri tegap. "Tidak apa-apa. Saya berterimakasih karena anda mau bertanggung jawab."


"Saya akan menanggung seluruhnya. Biaya obat juga akan saya tanggung. Maafkan saya nak."


Saat Jack ingin membalas ucapannya, sebuah deringan telfon terdengar. Jack mengerutkan keningnya ketika menyadari sumber dari suara itu adalah handphone milik pria paruh baya.


"Maaf, maaf."


Pria paruh baya segera mengangkat telfonnya lalu berkata dengan tegas. "Batalkan semua meeting hari ini. Saya ada urusan yang lebih penting--"


"Tidak-tidak!" Buru-buru Jack berkata. "Bapak hadiri saja meeting itu. Saya akan tetap di sini menemani papa saya. Nanti setelah meeting selesai, bapak bisa kesini lagi."


Pria paruh baya tersenyum. "Terimakasih. Saya akan kembali setelah meeting selesai."


"Iya. Saya akan menunggu." Ucap Jack sambil mengangguk.


Pria paruh baya itu memberikan kartu namanya dan setelah itu pria paruh baya berlari keluar dari rumah sakit.


Jack menggeleng pelan sembari tersenyum tipis. Ternyata masih ada orang yang mau bertanggung jawab seperti pria tadi.


Cklek...


Sontak saja, Jack dan Dewa mengalihkan perhatian mereka pada seseorang yang membuka ruang UGD.


"Bagaimana dok?!" Jack dengan cepat bertanya pada seorang dokter wanita yang baru saja keluar.


Dokter wanita yang terlihat cantik dengan rambut panjang di kuncir kuda itu tersenyum. Tertulis sebuah nama di nametag yang terpasang di jas putihnya.


Dahlia Hermansyah.


"Kamu Jack bukan? Tenang saja. Ricard adalah laki-laki yang kuat. Hal seperti ini hanya luka kecil baginya." Ucap dokter Dahlia dengan senyum lembutnya.


"Eh?" Jack dan Dewa bingung secara bersamaan.


"Dan kamu..." Dokter Dahlia menatap Dewa. "Kamu Dewa?"


"Benar. Bagaimana dokter bisa tau?" Dewa menjadi semakin bingung.


Dokter Dahlia menanggapi kebingungan dua remaja di hadapannya dengan sebuah senyum hangat.


"Ah! Anda..." Mata Jack melebar saat mengingat siapa dokter di hadapannya ini.


Dokter Dahlia terkekeh saat melihat wajah Jack yang seperti tercerahkan. "Saya sudah menelfon Keynan. Dia akan segera kemari. Dan... Jack, lebih baik kamu memberi kabar pada Sammy sebelum dia tau kondisi Ricard dari Keynan."


Jack tertegun. Benar juga yang dikatakan oleh dokter Dahlia ini. Jika sampai Sammy mengetahui kondisi Ricard dari Keynan maka tamatlah riwayatnya ditangan Sammy.


"Kamu boleh menjenguk setelah Ricard dipindahkan ke ruang inap. Jika ada apa-apa panggil saja saya. Saya permisi dulu." Dokter Dahlia pergi membiarkan Jack dan Dewa sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Jack." Dewa menggoyangkan lengan Jack membuat sang empu sadar dari pikirannya. "Siapa dokter itu?" Tanya Dewa penasaran.


"Ah itu Tante Dahlia." Jack menceritakan identitas dokter Dahlia pada Dewa yang masih belum tau.


Memang Dewa tidak tau karena saat pertemuan keluarga besar, Dewa tidak ikut dengannya.


Mata Dewa melebar setelah mendengar cerita Jack yang menurutnya sangat kebetulan bisa terjadi.


"Jadi dokter cantik itu istrinya om Keynan sekaligus ibu dari si kembar pirang?" Tanya Dewa tidak percaya.


Jack tertawa pelan. Ketegangan yang tadi Jack rasakan saat menunggu hasil kondisi Ricard hilang begitu saja setelah bertemu dengan dokter Dahlia.

__ADS_1


"Si kembar pirang... Maksudmu Kayrah dan Kayron?" Tanya Jack sambil tertawa.


Dewa mengangguk dengan cepat.


Jack berpikir jika menyebut si kembar pirang maka itu terlalu ambigu. Siapa yang dimaksud si kembar pirang? Kayrah dan Kayron? Atau Keysha dan Keynan?


Jadi karena itulah Jack lebih suka menyebut si kembar Kay untuk Kayrah dan Kayron.


.


***


.


Sammy baru saja selesai mandi saat handphonenya berbunyi yang menandakan ada telfon masuk. Sammy membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


"Jack? Ada apa dia telfon?" Gumam Sammy sambil berniat mengangkat telfon itu.


Sebelum jarinya menyentuh tombol hijau, telfon itu sudah berakhir. Sammy mendatarkan wajahnya lalu menghela nafas panjang.


"Udahlah. Kalo penting pasti dia telfon lagi." Gumam Sammy sambil berjalan keluar dari kamar dengan mata yang tidak lepas dari handphonenya.


Sammy mengerutkan keningnya saat tau bukan hanya Jack saja yang menelponnya berkali-kali tapi Keynan pun melakukan hal yang sama dengan keponakannya itu.


"Ada apa sih?" Meskipun penasaran tetapi Sammy tidak berniat menelfon terlebih dahulu. Alasannya begitu sederhana.


Memang pada dasarnya buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Sammy tidak menelfon balik karena tidak mau mengeluarkan pulsa. Seperti Benua memang.


"Papi udah makan?"


Suara maskulin milik Benua membuyarkan lamunan Sammy yang masih berpikir sebenarnya apa yang terjadi.


"Belum. Kamu sendiri udah makan belum?" Tanya Sammy balik sembari menatap anak semata wayangnya itu.


"Aku udah makan pi. Papi makan dulu gih, tuh udah aku buatkan." Benua menunjuk meja makan.


Sammy tersenyum lebar. Dirinya baru saja menyelesaikan rutinitas latihannya lalu langsung mandi jadi sekarang perutnya keroncongan minta diisi.


Thalita, istrinya, langsung pergi ke negara lain setelah pertemuan keluarga besar selesai karena urusan yang tidak bisa ditunda. Akibatnya Sammy tinggal sendiri bersama putranya di rumah. Beruntung putranya mewarisi bakat memasak Thalita, jadi apapun masakannya pasti terasa enak.


Sammy duduk dan mulai memakan makanan yang tersedia. Ngomong-ngomong soal makanan, Sammy jadi ingat Ricard. Masakan Ricard tidak kalah enaknya dibandingkan oleh masakan Thalita ataupun Benua.


Triing! Triing!


Sammy melirik nama yang tertera lalu sebuah senyuman terukir di wajahnya. Baru saja dipikirkan, anak dari orang yang dia pikirkan sekarang menelfonnya.


Sammy mengangkat telfon itu.


Tut.


"....."


"Hem." Sammy mengangguk sambil memakan makannya lagi.


"....."


"Iya..."


"....."


Tubuh Sammy membeku dan disaat bersamaan sendok yang Sammy pegang jatuh karena tidak ada tenaga untuk menahannya.


"Apa?" Tanya Sammy memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.


"....."


Tut...


Sammy mematikan telfonnya sepihak dan saat itu juga, Sammy langsung pergi sambil menyeret tangan putranya yang terkejut karena ditarik tiba-tiba oleh sang ayah.


.


***


.


"Bentar lagi juga pasti sadar dia." Keynan berkata sembari menatap langit-langit ruang inap tempat Ricard berada sekarang.


Jack dan Dewa menatap sosok berambut pirang yang duduk dengan malas di sofa ruangan. Ada keraguan di tatapan kedua remaja itu.


Keynan berdecak kesal saat merasakan keraguan itu. "Tidak ada luka berat, hanya luka ringan. Dia tidur karena efek obat."


Sebenarnya Keynan sedang menahan rasa kesalnya. Saat tadi istrinya, dokter Dahlia, menelfon dan mengatakan Ricard kecelakaan, betapa terkejut dan khawatirnya Keynan saat itu.


Andai saja dia mengetahui kondisi Ricard tidak serius maka mungkin sekarang Keynan masih menerima pasien ditempatnya bekerja.


Cklek...


Pintu terbuka dan tampaklah Sammy dengan nafas ngos-ngosan memakai kaos berwana putih yang sudah basah karena keringat membuat tubuh atletisnya terlihat dengan jelas.


Adapun tangannya sedang menggenggam erat tangan Benua yang kondisinya tidak kalah buruk dari Sammy.


"Gimana keadaan Ricard?!"

__ADS_1


Keynan menggaruk kepalanya. Sepertinya Sammy sama dengan dirinya tadi, tidak tau bagaimana kondisi Ricard. "Hanya lecet saja kak"


Sammy menatap Keynan dengan tidak percaya. "Hanya lecet?" Beo Sammy yang hampir pingsan karena sangking kagetnya.


Benua menepuk jidat. Jadi tadi mereka berlari-lari untuk menjenguk seseorang yang hanya terluka ringan?


"Ben..."


Benua mengalihkan pandangannya pada Jack yang terlihat bingung dengan kehadirannya. "Woe bro!"


Rasa lelah yang Benua rasakan langsung sirna karena melihat Jack. Benua menghampiri Jack sambil tersenyum yang bisa membuat hati Jack menghangat.


"Ah!" Saat Benua sudah dekat, Jack mengingat sesuatu. Jack menarik tangan Dewa agar mendekat. "Ben, ini saudara yang aku ceritakan."


Benua menaikkan alisnya. "Dewa?"


"Benua?"


Mereka berdua tertawa bersama meskipun baru pertama kali kenal. Dengan cepat keduanya menjadi akrab seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu.


Sammy yang mengamati itu semua hanya menggeleng pelan. Ditatapnya Keynan yang duduk di sampingnya.


"Kak, tau nggak siapa yang membuat Ricard begini?" Bisik Keynan dengan nada dingin.


"Emang siapa?"


"Kata Jack sih pelaku yang nabrak udah mau bertanggung jawab. Nanti pelakunya kesini tapi biang utamanya bukan dia."


"Lalu?"


Keynan menghela nafas. "Geng black rose."


Hawa dingin langsung keluar dari tubuh Sammy setelah mendengar siapa biang keladi masalah ini.


Saat Sammy akan merespon perkataan Keynan, tiba-tiba suara lirih terdengar dari Ricard yang masih menutup matanya.


"Berisik sekali."


Jack, Dewa, dan Benua langsung diam setelah mendengar gumaman itu sedangkan Keynan dan Sammy secara serentak langsung tersenyum kesal.


Keynan mendekati ranjang Ricard lalu berkata sembari mengelus pipi Ricard. "Jika kamu tidak segera bangun aku akan membedah tubuhmu sebagai bahan penelitianku..."


Ricard langsung membuka matanya saat merasa merinding luar dalam karena sentuhan Keynan juga suara Keynan yang terdengar mengerikan.


.


***


.


"Maafkan saya!" Seorang pria paruh baya yang tadi mendatangi Jack, sedang membungkuk di hadapan Ricard yang duduk santai di ranjang rumah sakit.


"Tidak apa. Ini bukan salah anda." Ucap Ricard santai.


Pria paruh baya itu tidak bisa berhenti ketakutan setelah tau orang yang ditabraknya ternyata adalah Ricard Denis Moses! Penanggung jawab perusahaan keluarga Moses yang besar! Bukan hanya perusahaan keluarga, bahkan perusahaan milik kakaknya, Ricardo, juga dia ambil alih!


Pria paruh baya itu ketakutan setengah mati. Bagaimana bisa dua perusahaan besar itu disandingkan dengan perusahaannya yang bagai semut di mata Ricard? Bisa-bisa tidak lama lagi perusahaannya akan bangkrut karena saham yang menurun!


"Tuh kan, papa saya tidak mempersalahkannya pak jadi bapak jangan khawatir." Jack menenangkan pria paruh baya karena tau ketakutan apa yang dirasakannya.


Keynan dan Sammy yang melihat ponakan mereka sedang berusaha menenangkan pria paruh baya, hanya bisa menghela nafas panjang.


Keynan melirik Sammy. "Kak Sam."


"Apa?"


"Kita apakan bocah yang sudah membuat Ricard seperti ini?"


"Habisi saja."


"Apa kita perlu ngasih tau Jack kalo papanya itu bagian dari geng black rose?"


"Nggak usah." Sammy menatap Keynan lekat-lekat. "Itu masalahnya Ricard. Biar dia yang memberitau sendiri."


Keynan mengangguk.


"Gimana kabar Kayrah?" Tanya Sammy tiba-tiba.


Tubuh Keynan menegang saat mendengar Sammy yang menyinggung tentang putrinya itu. "Untuk saat ini baik." Ucap Keynan lirih.


"Dia sakit apa? Kau nggak ngasih tau ke kita sakit apa Kayrah sampai-sampai pingsan saat itu."


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku dan istriku akan berusaha menyembuhkannya." Ucap Keynan dengan tatapan kosongnya.


"Kalau ada apa-apa kasih tau. Kita semua saudaramu. Kau harus berbagi apapun masalah yang kau hadapi biar kita hadapi bersama." Sammy berkata seperti itu karena sadar ada hal yang ditutupi oleh Keynan darinya.


Keynan tersenyum tipis. Memang seharusnya begitu dan selamanya pun harus begitu. Sesama saudara harus saling berbagi. Keynan belajar dari masa lalu.


Sangat menyakitkan kehilangan kakaknya tanpa tau apa-apa tentang kondisi kakaknya saat itu. Itu semua karena kakaknya, Keysha, memilih untuk memendam


semua masalahnya sendiri.


"Mungkin Kayrah akan ku titipkan pada bang Rangga dan Riana untuk berobat di Inggris." Ucap Keynan sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


.


like.


__ADS_2