Jack

Jack
Calon ketua cabang


__ADS_3

Jack menatap lekat-lekat wajah bahagia papanya yang sedang bercerita di salah satu makam yang terlihat begitu terawat.


"Papa..." Gumam Jack dengan wajah sendunya.


Wajah bahagia papanya yang dia lihat saat ini belum pernah sekalipun Jack lihat sebelumnya. Hal itu membuat hati Jack sakit. Jack berpikir apakah papanya tidak bahagia saat bersama dengannya?


"Jika saja kak Keysha tidak meninggal maka mungkin kau tidak akan lahir di dunia ini Jack..." Adit menghela nafas berat, di situasi saat ini dia harus menggunakan kata-kata yang menenangkan.


"Apa... Papa sangat mencintai..." Jack tidak melanjutkan ucapannya. Hatinya berdenyut sakit jika melanjutkan perkataannya.


"Ya." Amel iku menimpali. Jujur saja, cerita cinta Ricard dan Keysha sangat menyentuh hatinya saat Thalita menceritakan semuanya.


Jack berjalan mendekati Ricard yang masih belum sadar akan kehadiran mereka. Saat sudah dekat, Jack bisa mendengar apa yang sedari tadi di ceritakan oleh papanya itu.


"Iya. Anakku sekarang sudah besar. Dia tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Aku beruntung mempunyai dirinya sebagai anak. Apa kau tau Keysha, aku juga mengangkat seorang putra lain."


Jack dan Dewa yang mendengar itu merasa terharu. Bahkan Ricard menceritakan tentang mereka di depan mantan kekasihnya yang sudah tiada.


"Mereka sangat lucu. Aku bahagia berada disisi mereka. Yaa... Meskipun tidak sebahagia saat kamu masih berada di dunia ini tapi... Aku sangat menyayangi kedua anakku Keysha..."


Ricard menunduk sambil menahan air matanya yang bisa jatuh kapan saja. Entah karena apa, Ricard selalu menjadi sosok yang lemah jika sudah berada di makam Keysha.


"Andai saja... Andai saja kamu berada di sini... Menemaniku merawat kedua anakku... Maka aku tidak memiliki harapan lain... Dunia pasti terasa lebih indah jika itu terjadi..."


Jack berjongkok di hadapan Ricard sambil mengamati batu nisan yang bertuliskan nama Keysha.


Keysha Edward...


Apa? Keysha Edward?


Mata Jack melebar seiring dengan pikirannya yang mulai berkeliaran. "Keysha Edward... Kayrah Edward... Edward... Marga mereka sama, mungkinkah...?"


Ricard awalnya terkejut dengan kemunculan Jack yang tiba-tiba di hadapannya tetapi keterkejutannya tidak bertahan lama saat melihat Dewa yang ikut berjongkok juga Adit dan Amel yang berada tidak jauh dari mereka.


Saat mendengar gumaman Jack, Ricard tersenyum tipis menanggapinya. "Benar. Keynan adalah saudara kembar Keysha"


Jack mendongak dan menatap wajah sendu papanya. "Keynan? Bukankah itu nama ayah kandung Kayrah?"

__ADS_1


"Ya." Jawab Ricard singkat.


Jack memijat keningnya yang mulai terasa sakit, ini semakin rumit dari yang dia pikirkan. Jika dihubungkan dengan sebelumnya berarti Ricard mencintai sepupu dari wanita yang sudah melahirkan Jack.


"Keysha... Papa yakin jika kamu bertemu dengan Keysha, kamu akan jatuh cinta--ah... Apa bisa dikatakan kamu sudah jatuh cinta ya?" Ricard mengelus batu nisan milik Keysha.


"Apa maksud papa?" Ucap Jack bingung.


"Kayrah... Kamu mencintainya kan?" Goda Ricard yang mengingat sesuatu.


"Pa..papa bicara apa sih?" Jack membuang wajahnya yang mulai memerah akibat perkataan Ricard.


Ricard terkekeh, "Kayrah adalah salinan dari Keysha. Wajahnya, ketegarannya, kebaikan hatinya... Semua itu papa lihat lagi di dalam diri Kayrah."


Mata Jack terpejam akibat tidak kuat melihat ekspresi sedih yang ditunjukkan Ricard saat ini. Ini pertama kalinya Jack melihat papanya tidak berdaya seperti ini.


"Pa... Mungkin jika tante Keysha masih hidup, aku akan menerimanya sebagai mamaku." Ucap Jack sambil mencabuti rumput liar yang masih tersisa di makam Keysha.


"Aku juga akan menerimanya dengan senang hati." Dewa tersenyum lebar.


.


.


Setelah kejadian di makam Keysha saat itu, kasih sayang Ricard pada kedua anaknya makin bertambah. Mungkin karena Ricard senang kedua anaknya mau menerima Keysha meskipun itu tidak benar-benar terjadi.


Akhir-akhir ini Ricard lebih memanjakan kedua anaknya seperti mengantar mereka berdua ke sekolah, menambah uang jajan mereka, menjemput mereka pulang, mengajak mereka jalan-jalan setelah pulang. Hal itu tidak disambut baik oleh Adit dan Amel yang semakin menepuk jidat dengan kelakuan Ricard.


Adit dan Amel merasa firasat tidak baik dengan perlakuan Ricard yang seperti itu. Bisa-bisa Jack dan Dewa akan semakin manja. Jika Jack dan Dewa adalah perempuan maka itu masih bisa di toleransi.


Tapi Dewa dan Jack adalah seorang laki-laki. Laki-laki sedari lahir. Laki-laki tulen. Bukankah akan aneh jika seorang laki-laki bersikap kekanakan karena terlalu dimanja?


Meskipun begitu, Adit dan Amel tidak bisa berbuat apa-apa terhadap perlakuan Ricard pada kedua anaknya. Adit dan Amel terlalu takut untuk menegur Ricard.


Hingga akhirnya Amel memutuskan untuk kembali ke tugasnya yaitu menjadi ketua dari geng black rose yang berada di Surabaya. Begitupun dengan Adit yang kembali untuk mengurus perusahaan keluarga Moses dan perusahaan baru miliknya sendiri.


Adik-kakak itu sudah tidak kuat melihat perlakuan Ricard yang semakin hari semakin tidak masuk akal di otak mereka. Diam-diam Adit dan Amel bertekad tidak akan menjadi seperti Ricard saat mereka sudah memiliki anak kelak.

__ADS_1


Saat ini, Jack dan Dewa sedang bermain ke manapun mereka mau tanpa Ricard. Ingat! Garis bawahi bahwa saat ini mereka pergi tanpa Ricard. Ini hal yang langka bagi mereka berdua setelah kejadian di makam Keysha beberapa Minggu yang lalu.


Bagaimanapun ada enak tak enaknya saat berjalan-jalan bersama Ricard. Enaknya, mereka bisa meminta apa saja tanpa mengeluarkan uang sepersen pun alias Ricard yang membayar semuanya.


Tak enaknya, mereka tidak bebas melakukan apa yang mereka mau karena ada Ricard bersama mereka. Jangan lupakan bahwa Ricard sudah menjadi ayah dari dua orang anak meskipun fisiknya masih terlihat awet muda. Sangat jelas Jack dan Dewa tidak bisa bebas melakukan apapun.


"Besok kita coba game lain." Jelas Dewa antuasias dan di balas anggukan kepala oleh Jack.


Jack dan Dewa sedang berjalan setelah puas bermain game di warnet langganan Dewa dulu. Tentu saja Jack tidak pernah main permainan seperti itu.


Di hidupnya, Jack hanya tau tentang belajar, bekerja, dan membahagiakan Ricard sampai lupa bahwa dirinya juga butuh hiburan.


Beruntung Jack bisa cepat beradaptasi dengan permainan itu jadi Dewa tidak susah-susah untuk menjelaskannya. Harus Dewa akui, untuk ukuran pemula, skill Jack sudah begitu melewati ekspetasinya.


"Inget, besok aku nggak akan memberi balas kasihan seperti hari ini." Ucap Dewa sambil tertawa sombong.


"Hem," Jack mengangguk. "Aku akan membantaimu besok."


"Kita lihat saja." Jawab Dewa semangat. Sudah lama Dewa tidak merasa tertantang seperti ini.


Saat mereka sedang berbincang seputar game yang akan mereka mainkan besok, tiba-tiba sekelompok orang menggunakan jaket berlogo geng black rose menghadang jalan keduanya.


Jack mengerutkan keningnya begitupun dengan Dewa saat melihat mereka dikepung oleh sekelompok anggota geng black rose.


"Bocah, kita bertemu lagi." Sosok pemuda yang arogan berkata sambil tersenyum meremehkan.


Masih dengan wajah tenangnya, Jack mengangkat alisnya bingung, mencoba untuk mengingat siapa pemuda ini.


Jack tidak pernah berurusan dengan geng black rose yang ada di negara ini kecuali...


"Ah, kau..." Jack mengingat sesuatu.


Pemuda itu tertawa keras. "Benar. Gue calon ketua cabang geng black rose bagian Tangerang." Ucapnya sombong.


.


Like.

__ADS_1


__ADS_2