Jack

Jack
Rafli


__ADS_3

Hari ini adalah hari ketiga Jack dan Dewa melakukan ujian akhir semester, mereka berdua mengerjakan ujian dengan lancar meski masalah besar sedang menimpa mereka.


Satu Minggu sudah terlewati setelah salah satu siswa di kelas Jack mengatakan bahwa penguasa sekolah akan bergerak untuk membully Jack.


Perkataan itu memang terbukti.


Satu Minggu ini Jack menjadi target utama pembullyan di sekolahnya. Tentu saja hal ini tidak diketahui oleh para guru karena bila para guru tau, mereka akan menghukum dengan berat para pembully ini.


Siapa Jack? Dia adalah anak dari Ricard yang bahkan saat sekolah disini dihormati oleh kepala sekolah.


Ricard sudah mengambil alih perusahaan milik kakaknya termasuk tanah tempat sekolah mereka berdiri.


Sebentar lagi semua itu akan menjadi milik Jack! Bukan hanya itu saja, dia adalah Jack Nathan Moses! Pewaris tunggal perusahaan keluarga Moses sekaligus perusahaan pamannya yang sudah meninggal.


Bila Ricard datang ke sekolah ini dan mengatakan semua faktanya maka Jack akan lebih dihormati daripada Ricard dulu! Jack juga bisa ditakuti oleh Rendy bahkan oleh seluruh geng black rose karena Jack adalah keturunan dari Ricard yang adalah black lion!


Tapi sayangnya hal itu tidak akan terjadi karena Ricard berpikir tidak ada masalah apa-apa yang dialami oleh anaknya.


Bila Ricard tau hal apa yang sudah dialami oleh anak semata wayangnya ini maka sudah dipastikan kalau Ricard akan marah besar! Bisa saja kemarahannya ini juga mengundang ketua besar geng black rose ikut marah!


Setiap pulang, Jack dan Dewa pasti akan ikut membawa memar di tubuh mereka membuat Ricard sedikit khawatir karena hal ini berlangsung selama satu Minggu.


Tapi tentu saja kekhwatiran itu bisa dihilangkan begitu saja oleh ucapan Jack dan Dewa yang sudah pasti berbohong agar papa mereka tidak bertindak dan ujung-ujungnya papa mereka terkena masalah.


Jack dan Dewa masih belum tau tentang rahasia Ricard.


Bila mereka tau sudah pasti mereka akan menahan tangis mereka.


Kalau saja mereka tau lebih cepat bila papa mereka punya posisi penting di geng black rose maka mereka tidak akan menahan penderitaan selama ini dan mereka akan melawan tanpa menggunakan posisi papa mereka!


"Gimana? Masih sakit?" Tanya Jack sambil menatap Dewa yang sedang mengompres luka lebam di wajahnya.


Dewa tersenyum kecil lalu menggeleng. "Luka kayak gini nggak ada artinya bagiku"


Jack tertawa pelan ketika mendengar ucapan Dewa itu. Sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, Jack mendongak untuk melihat pohon-pohon taman yang berdaun hijau.


Mereka berdua sekarang sedang berada di taman yang tentu saja bukan taman komplek rumah mereka karena kalau sampai Ricard melihat mereka, bisa gawat!


"Dulu aku adalah anak nakal" Dewa tersenyum pahit saat menceritakannya.


Sedangkan Jack, dia tersenyum penuh arti, masih mendongakkan kepalanya, Jack menunggu Dewa melanjutkan ceritanya.


Memang Jack tidak berbicara tadi karena Jack merasa Dewa akan menceritakan tentang masa lalunya.

__ADS_1


Saat Dewa diangkat menjadi anak oleh Ricard pun Dewa tidak bercerita tentang masa lalunya sama sekali.


Tetapi Ricard dan Jack mengerti kalau Dewa butuh waktu untuk bercerita. Akhirnya sekarang Dewa akan menceritakannya tetapi sayang disini tidak ada Ricard.


"Aku suka tawuran dan suatu hari aku pulang larut malam karena tawuran" Dewa berhenti sejenak lalu melanjutkan,


"Saat sampai di rumah aku harus mendengar ceramah dari orang tuaku. Aku yang saat itu masih remaja yang emosional langsung pergi lagi dari rumah karena tidak kuat mendengar ocehan orang tuaku"


"Pastinya orang tuaku mengejar ku. Mereka berdua lari dan aku pun ikut lari sekencang mungkin" Dewa menghela nafas lalu menatap Jack.


"Bila aku tau kejadian itu akan menjadi petaka, aku tidak akan lari. Aku tidak akan membiarkan orang tuaku mengejar ku sampai mereka tertabrak dan tewas di tempat kejadian" Dewa berkata sambil menahan tangisnya.


Mengingat kembali memori yang buruk itu sangat menyakiti hati Dewa.


Jack duduk tegap lalu menatap Dewa yang sedang menatapnya. Jack tidak menyangka kalau Dewa punya cerita kelam seperti itu.


"Kamu masih punya papa" ucap Jack tersenyum sambil menepuk pundak Dewa.


Dewa ikut tersenyum dan mengangguk, "Aku akan menjaga papa dengan nyawaku dan aku tidak akan membiarkan kejadian yang menimpa orang tua kandungku terjadi pada papa"


Jack tersenyum simpul ketika mendengar itu lalu Jack mengalihkan pandangannya pada seseorang yang sedang dikepung oleh banyak orang.


Jack mengerutkan keningnya sebelum berdiri lalu menarik Dewa yang melamun untuk pergi menolong orang itu.


"Ada apa Jack?" Tanya Dewa terkejut.


Spontan Dewa mengikuti arah pandangan Jack. "Woi! Woi!" Teriak Dewa saat melihat orang itu akan dipukuli.


Orang-orang yang mengepung langsung menatap Jack dan Dewa sebelum salah satu dari mereka bertanya, "Siapa kalian?"


Belum sempat Jack dan Dewa menjawab, orang yang dikepung berteriak karena terkejut.


"Tuan Ricard?!"


Jack yang mendengar itu jadi terkejut begitupun dengan Dewa yang sudah pasti mereka berdua tau siapa pemilik nama itu.


Dengan cepat Jack menatap orang yang berteriak. Orang itu menatap Jack dengan tidak percaya. Jack mengabaikan itu, yang Jack rasa adalah wajah orang itu sangat tidak asing baginya.


Setelah sadar siapa orang itu, Jack juga terkejut. "Paman Rafli?!"


Meskipun Rafli meninggalkan papanya dan dia saat Jack masih kecil tetapi papanya masih menyimpan dengan baik foto Rafli.


Wajah Rafli pun tidak berubah sama sekali kecuali sekarang ada sedikit kerutan di wajahnya.

__ADS_1


Sekali lagi, Rafli terkejut. "Paman?" Gumam Rafli sambil menatap Jack dari atas sampai bawah, "Ah! Anda bukan tuan Ricard tetapi tuan muda Jack!"


Baru Rafli sadari kalau Jack memakai seragam putih abu-abu. Ricard tidak mungkin sekolah lagi bukan?


"Brengsek!" Karena diacuhkan, orang-orang yang mengepung jadi marah.


Mereka berniat menyerang Jack yang berada di dekat mereka tapi sepertinya mereka hanya bisa menyerang Jack dalam mimpi.


Mereka sungguh bodoh berniat menyerang Jack yang adalah anak dari Ricard didepan mata Rafli!


Pandangan Rafli berubah menjadi dingin melihat itu. Rafli yang sudah pasti bisa bela diri langsung menghajar orang yang melayangkan tangannya pada Jack.


Bugh...


Suara pukulan yang keras itu menarik perhatian semua orang yang mendengarnya. Para pengunjung taman memusatkan perhatian mereka pada kejadian ini.


Orang yang dipukul oleh Rafli langsung tersungkur tidak berdaya di tanah.


Teman-teman orang yang dipukul oleh Rafli langsung tersadar dan menyerang Rafli secara bersamaan.


Jack dan Dewa dipaksa mundur karena itu. Sebenarnya mereka berdua ingin membantu tetapi setelah melihat wajah semangat dari Rafli membuat kedua pemuda itu mengurungkan niat mereka.


Jack hanya bisa geleng-geleng kepala sedangkan Dewa menahan nafasnya karena tidak menyangka Rafli akan dengan mudah menghabisi para orang-orang itu.


"Siapa dia?" Tanya Dewa pelan.


"Sebenarnya dia pengawal pribadi papa tetapi dia sudah lama meninggalkan kami. Tidak kusangka aku akan bertemu dia disini"


Jack menatap Rafli yang sedang bertarung lekat-lekat sambil berpikir sepertinya bila papanya bertemu dengan Rafli pasti papanya akan senang.


Setelah cukup lama bertarung, Rafli akhirnya bisa mengalahkan orang-orang itu. Mengalahkan sekelompok anak kecil saja tidak bisa? Maka Rafli akan hidup sambil menahan malu seumur hidupnya.


Rafli menatap dengan pandangan jijik pada orang-orang yang tersungkur di tanah sambil berkata,


"Kalian ingin merampokku? Sebenarnya aku memang berniat memberikan dompetku pada kalian tetapi kalian malah berani mempunyai niat untuk mencelakai tuan mudaku? Maka aku tidak akan membiarkan kalian pergi sebelum kalian menerima konsekuensinya"


Jack dan Dewa mengerutkan kening mereka, "Merampok?" Ucap mereka bersamaan.


Jack dan Dewa tidak bisa percaya ini karena bagaimanapun, dilihat dari jaket yang mereka pakai, mereka adalah anggota geng black rose.


Geng itu sangat besar dan pastinya geng itu kaya raya. Untuk apa anggota geng kaya merampok seseorang?


"Apa geng black rose kekurangan uang sampai anggota mereka merampok seseorang?" Tanya Rafli sambil menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Tapi yang kutahu sepertinya pekerjaan geng black rose bukan merampok meskipun mereka kekurangan uang" lanjut Rafli dengan nada jijik.


like


__ADS_2